Kamis, Agustus 02, 2012

Suatu Hari Nanti


Suatu hari nanti, pasti namaku akan tertera di sampul sebuah buku.  Mimpi yang terus dipupuk sejak lama. Ya, selain bepergian keliling dunia, menulis buku sudah menjadi cita-cita terdalam. Sampai itu terjadi, aku hanya bisa menunggu, mereka-reka seperti apa rasanya “menelurkan” karya sendiri.  

Suatu hari nanti, kata demi kata pasti akan mengalir dari pikiran ke tulisan. Sekarang pun, kalau ditanya, semua ide dan gagasan sudah bergelimpangan. Bak potongan puzzle yang berserakan, hanya perlu dua tangan untuk mengumpulkan potongan demi potongan dan merangkainya menjadi satu gambar utuh. Proses itu yang sulit. Sulit, tapi bisa dikerjakan.

Suatu hari nanti, sepulang bepergian, pasti akan meluangkan waktu khusus untuk memulai menulis. Pasti. 

Sabtu, Juni 02, 2012

12 Tahun Lalu

Kemarin, 1 Juni 2012, tepat 12 tahun aku "meninggalkan" rumah dan kampung halaman. Dua belas tahun setelahnya, aku ada di sini, di ibukota, menikmati asap kendaraan, asap rokok, kemacetan dan hiruk-pikuk keegoisan. Aku menuliskan goresan tulisan ini sambil menahan rindu pada rumah dan kampung halamanku, Medan.

Dua belas tahun lalu, berbekal koper bekas yang dibeli Bapak di Monza, pasar loak terkenal di Medan, aku berangkat menuju Yogyakarta. Ditemani Mama, kami berlayar menuju perhentian pertama, Jakarta. Mama sudah siap dengan bekal rantang, yang akan menjadi ransum kami selama 3 hari dua malam di kapal laut. Aku tidak akan pernah melupakan saat itu, ketika aku dan Mama berdiri di dek samping kapal, melambaikan tangan pada Bapak yang tinggal di Medan, tidak ikut bersama kami, karena aku masih punya 2 adik lelaki yang harus diurusnya. Aku tidak menangis saat itu, tapi hatiku hancur, melihat Bapak dari kejauhan, kecil sekali. Dan berpikir, kapan aku bisa bertemu lagi dengan dia, Bapakku itu...Saat itu juga, kulambaikan tangan, mengucap salam perpisahan pada tanah kelahiranku. Tujuh belas tahun aku tinggal menetap di sana sebelum lambaian tanganku hari itu.

Tiga hari di kapal, rasanya campur aduk. Dulu kondisi keuangan Mama-Bapak tidak memadai untuk mengongkosi kami di kelas 1. Hanya tempat tidur massal bak bangsal di kelas 3 Wisata yang menjadi "rumah" kami selama 3 hari perjalanan Medan-Jakarta. Selama 3 hari itu, rasanya tidak karuna. Bekal dalam rantang yang dibawa Mama dari Medan jadi satu-satunya penyelamat. Ikan teri sambal sampai rendang. Selebihnya, tidak ada hal menarik yang bisa kuingat dari perjalanan itu. Yang tersisa hanya aroma pengap bercampur uap dari mie instant dalam kemasan cup.

Tiba di Jakarta, aku tak terlalu mengingat banyak hal. Yang kuingat hanya kami kembali menaiki kereta api, melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Lagi-lagi, tidak ada cukup dana untuk menikmati fasilitas eksekutif. Aku dan Mama cukup puas bermukim di kelas Bisnis, bercampur dengan puluhan pedagang yang menyerbu masuk dengan dagangannya di setiap stasiun.

Akhirnya, tanah penuh harapan itu pun terlihat dari kejauhan. Yogyakarta. Kota pilihanku. Tidak ada yang memaksaku untuk melanjutkan kuliah di Kota Gudeg itu. Tapi sejak pertama kali mengunjunginya di tahun 1994, aku sudah berbisik di dalam hati, "Satu hari aku akan kembali dan menetap di sini". Mungkin saat itul yang disebut cinta pada pandangan pertama, antara aku dan Yogyakarta. Tujuh tahun setelahnya, kupenuhi janjiku, dan mengunjunginya lagi untuk menetap sementara.

Mama tidak lama menemaniku di Yogyakarta. Dia bahkan tidak sempat melihatku berangkat kuliah untuk pertama kali. Dia hanya menitipkanku pada adik lelakinya yang bermukim di Yogyakarta. Tulang, begitu aku menyapanya, resmi menjadi waliku di Yogyakarta. Waktu Mama akan pulang kembali ke Medan, rasanya tidak terdefinisikan. Seribu tanya melesat di pikiran. "Apa yang akan terjadi? Kalau enggak ada Mama, Bapak? Kalau aku sakit bagaimana? Kalau uangku kurang, bagaimana?". Tapi sebagai perempuan tomboy yang tidak pernah ingin terlihat cengeng di hadapan siapapun, aku menyimpan segala pertanyaan dan kecemasan itu. Cuma aku yang tahu apa yang berkecamuk di dada saat harus melambaikan tangan pada Mama yang menaiki gerbong kereta, kembali ke Jakarta, dan melanjutkan perjalanan pulang ke Medan.

Malam itu, setelah Mama pulang, aku menempati kamar cadangan di rumah Tulang. Tengah malam, aku menangis tak bersuara. Menyadari bahwa aku sudah benar-benar sendiri, dan harus bertanggung jawab dengan kehidupanku sendiri. Alasan lain, aku rindu rumah, Mama, Bapak, semuanya di Medan. Malam pertama, sudah rindu. Selama dua minggu setelah itupun, aku masih rutin menangis di malam hari, menahan rindu. Dua belas tahun yang lalu...

Tapi kehidupan sungguh berbaik hati padaku. Tahun demi tahun, aku menjalani kehidupan jauh dari Mama, Bapak, tanpa kekurangan. Teman-teman "seperjuangan" banyak menguatkan di rantau. Lima tahun aku menetap di Yogyakarta, sampai studiku selesai. Lima tahun yang membentuk kehidupan, watak dan karakterku. Lima tahun terpenting dalam hidupku. Tak pernah sedetik pun berlalu tanpa aku berpikir bahwa pilihanku untuk merantau adalah pilihan yang paling tepat.

Aku yang sekarang, yang setiap hari berusaha menaklukkan ibukota, terbentuk dari keputusan orangtuaku yang membiarkan anak perempuan satu-satunya merantau jauh ke kampung orang. Kadang aku berpikir, apa yang akan terjadi padaku jika seandainya Bapak dan Mama berpikiran seperti kebanyakan orangtua saat itu, tidak mengizinkan anaknya untuk merantau? Aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Aku yang sekarang, terbentuk dari keputusan-keputusan penting itu.

Merantau adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Keputusan besar pertama yang akhirnya mengubah hidupku. Dua belas tahun setelahnya, hari ini, aku akan selalu mencari jalan pulang ke sana, ke Medan, ke kehangatan yang tidak bisa terbayar oleh kemewahan dan keindahan kota-kota di Eropa sekalipun. Karena ke manapun kaki ini sudah, sedang dan akan melangkah, ke sanalah, ke Medan, hati dan pikiranku akan tertuju. Sesederhana itu. Aku anak Medan! :)  

Rabu, Mei 16, 2012

Eropa, Setahun Kemarin...

Minggu ini, setahun kemarin, menjadi minggu yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Minggu di mana sebuah mimpi lama terwujud dengan mudahnya. Aku, si empunya mimpi pun tidak pernah bermimpi bahwa mimpiku akan terwujud secepat itu. Kata seorang teman, "Mungkin Tuhan sudah bosan mendengar doamu. Jadi Dia memutuskan untuk segera mengabulkannya,, jauh lebih cepat dari yang Dia rencanakan. Karena kuping-Nya panas mendegar doamu hampir setiap hari." Ha ha ha.

(Dan mimpi itu bernama Eropa).

Minggu ini, setahun kemarin, aku duduk di salah satu bangku penonton di Emirates Stadium, markas besar kesebelasan Arsenal, berlokasi di London. Seminggu sebelumnya, untuk pertama kali, kaki ini menjejak tanah Benua Biru. Di usia 28 tahun, Tuhan mengabulkan doaku. Jauh lebih cepat dari rencana yang sudah kurancang jauh-jauh hari. Dan semua mimpi itu terwujud tanpa dana sepeser pun. Itu yang membuat mimpi ini terasa terwujud dua kali lebih baik.

(Dan mimpi itu bernama Eropa).

Minggu ini, setahun kemarin, sendiri, aku menyusur jalan-jalan di bawah tanah kota London. Memutuskan berpisah dari rombongan, bermodalkan selembar peta, aku bertualang menjelajahi London. Pagi itu, suhu tak bersahabat, dingin menusuk tulang. Tapi kebahagiaan yang membuncah ternyata mampu menghangatkan kulit. Memandang dan menikmati kemegahan St.Paul's Cathedral di Minggu pagi menjadi penyemangat yang luar biasa pagi itu. Sendiri, aku bahagia.

(Dan mimpi itu bernama Eropa).

Minggu ini, setahun kemarin, aku tetap tidak percaya bahwa mimpi itu sudah terwujud. Berulang kali aku terdiam, tersenyum sendiri, menatap sudut-sudut bangunan di Oxford Street, mencermati dedaunan rindang di Hyde Park, menelan ludah ketika melihat Westminster Abbey Church di depan mata, berkaca-kaca di depan Parliament House, berlari di Stamford Bridge, terduduk diam menunggu Tube di Marble Arch. Bahagia. Sesederhana itulah definisi bahagia untukku. Bepergian, meilhat dunia.

(Dan mimpi itu bernama Eropa).

Westminster Abbey, London
Minggu ini, tahun ini, saat ini, aku baru menyelesaikan persiapan perjalananku yang sesungguhnya. Rencana yang masih berupa ide setahun lalu, sudah mulai tercapai tahun ini. Saat menuliskan ini pun, di halaman lain sedang terpampang rute perjalananku. Empat bulan lagi, mimpiku akan berlanjut. Mengunjungi kiblat mimpiku, Paris. Menjejak tanah Benua Biru, mengobati rindu yang menggebu. Empat bulan lagi, dengan usaha, keringat, tabungan terkuras, kuraih mimpiku segera. SEGERA...

Karena mimpiku itu bernama EROPA....

Minggu, Januari 08, 2012

Kali Ini, Aku Tidak Menangis...

Kali ini, aku tidak menangis...
Saat kau mengirimkan pesan itu padaku, aku hanya tersenyum.
Tak kuselesaikan membaca pesanmu yang berbaris-baris itu.
Hanya 2 baris terakhir, dan sudah kututup, tak ingin kubaca lagi.

Aku tidak menangis...
Ketika satu jam setelahnya, kuputuskan untuk membaca pesan itu sampai selesai.
Aku sudah tahu maksudmu.
Dan aku tidak menangis.

Aku tidak menangis...
Meski hari itu hujan turun terus-menerus.
Seperti ingin bersimpati pada gelapnya hatiku.
Tapi aku hanya tersenyum.

Aku tidak menangis...
Karena aku mengadu pada-Nya hari itu.
Karena aku tahu, apa yang terjadi hari itu adalah jawaban doaku.
Tidak seperti yang kuinginkan, tapi itu jawaban Tuhan.

Aku tidak menangis...
Karena untuk yang pertamakalinya, aku merasa lega.
Karena aku sudah mengikuti kata hatiku.
Tak ada sesal.

Aku tidak menangis...
Kuputuskan membuka hati untuk yang lain.
Pasti tersedia.
Di waktu yang tepat, nanti.

Kali ini aku tidak menangis. Karena hari itu aku belajar sesuatu, bahwa hati ini memang sedang kupersiapkan untuk yang terbaik. NANTI.

Jadi, untuk apa menangis?

Senin, Desember 05, 2011

PRANCIS, FRANCE.


Bagi orang-orang yang meras cukup mengenalku, pastilah tahu, satu mimpi yang masih menggelayut di pikiranku hingga saat ini. Mimpi itu bernama Paris. Dan beginilah cerita tentang mimpiku itu.

Semua bermula dari suatu siang yang terik di pertengahan tahun 1998. Tiga belas tahun yang lalu. Aku, yang kala itu duduk di bangku kelas 2 SMA, tengah bersiap mengikuti pelajaran selanjutnya, sepetri juga rutinitas harianku. Ternyata hari itu mengubah duniaku, mengubah haluan mimpiku. karena hari itu, ternyata kelasku mendapat kunjungan dari lembaga bahasa Prancis, tepatnya Alliance Francaise de Medan. Tadinya, kupikir, sesi hari itu tak berbeda dengan sesi-sesi 'blockingan' lainnya yang biasa diselenggarakan di sekolahku.

Ada seorang perempuan mungil berambut pendek yang masuk ke kelasku siang itu. Aku lupa namanya. Tapi sejak saat dia memasuki kelasku, i knew, there was something special about her. And indeed, it was a special session. Perempuan itu ternyata salah seorang pengajar Bahasa Prancis di Alliance Francaise de Medan, satu-satunya lembaga kebudayaan Prancis di Medan. Ternyata, kehadirannya di sana untuk memberikan presentasi singkat tentang Prancis, dan menjaring minat siswa-siswa di SMA ku untuk belajar Bahasa Prancis.

Perempuan mungil itupun mulai mendemonstrasikan kemampuannya berbahasa Prancis. Dan seketika itu pula, pandangan dan pikiranku dibuat terpana. Apa yang diucapkannya, walau tak kumengerti, terdengar sangat indah. Kuamini saat itu sebagai momen di mana aku jatuh hati pada Prancis. Di siang hari yang terik itu, 13 tahun lalu, aku jatuh cinta.

Setelah sekolah usai hari itu, aku tak berpikir panjang untuk segera menemui Mama dan bercerita tentang si perempuan mungil dan Prancis. Rasanya seperti meledak-ledak. Dan sekuat tenaga aku meminta ke Mama supaya aku bisa belajar Bahasa Prancis. Mama awalnya tidak mengizinkan. Karena selain biayanya yang sangat mahal waktu itu, aku pun dinilai tidak konsisten karena baru saja meninggalkan les piano. Tapi dengan segala jurus bujuk rayu, aku meminta agar aku bisa ikut kelas Bahasa Prancis itu.

Akhirnya izin pun keluar. Namun, kendala berikutnya tentu saja biaya. Saat itu, biaya les Bahasa Prancis per grade sangat mahal untuk ukuran tahun 1998. Belum lagi biaya untuk membeli buku. Akhirnya aku mendapatkan jalan tengah, karena si perempuan mungil itu mengizinkan aku untuk menggunakan buku foto copy-an. Sedih, tapi juga senang.

Akhirnya, aku duduk di kelas itu. Menenteng buku foto copy-an, duduk di atas kursi bermeja setengah khas anak kuliahan, membawa mimpi. Mimpi untuk bisa mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Prancis. Tak hanya belajar bahasa, di sana aku diperkenalkan dengan segala bentuk kebudayaan Prancis. Aku pun jatuh cinta, untuk yang kesekian kalinya.

Sejak saat itulah, mimpiku mulai tertanam dan selalu terpelihara hingga kini. People often says, "You're too obsessed with Paris, with France." Tapi, aku selalu menjawabnya dengan senyum. Kecintaanku, mimpuku untuk bisa menjejakkan kaki di sana, di Prancis, di paris, tak tergambarkan dengan kata-kata. ada yang membuncah tiap kali aku melihat foto, video, film tentang Prancis. Adrenalin terpacu, senyum terbit di wajahku ketika aku melihat dan mendengar pengalaman banyak orang ketika berkunjung ke sana. Konyol memang, tapi sungguh, aku merasakan itu.

Di satu periode, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke sana. Semua sudah disiapkan. Tapi, akhirnya niatan itu mundur, karena satu alasan penting yang tak bisa kuungkapkan. Tapi, mimpi itu akan selalu ada. Akan selalu kupelihara, sampai akhirnya akan kutuai pada akhirnya. Mimpiku, mimpi Prancisku pasti akan terwujud tak lama lagi. Segala perispan sedang kurenda, kurajut dengan benang-benang pengharapan. karena kelak, kaki ini akan menjejak di Eiffel Tower, berjalan di pelataran Champs-Élysées, berpose di Arc de triomphe, menerawang di Palace of Versailles, menikmati angin berhembus di Louvre, dan banyak lagi...

Mimpiku...

Rabu, November 09, 2011

Sudah Selesai, Pak....

Sebulan lalu, adik bungsuku, Apriginta namanya, akhirnya menyelesaikan kuliahnya. Lewat ujian pendadaran terakhir, akhirnya dia lulus dan resmi menyandang gelar Sarjana Filsafat dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tak lama setelah aku menerima kabar kelulusannya, aku langsung mengirim pesan pendek ke Bapak. Begini isinya, "Ginta sudah lulus, Pak. Tugas Bapak udah selesai. Kami semua sudah jadi Sarjana, ya. Selamat, ya, Pak." Pesan itu tak pernah dibalas Bapak, karena aku yakin, saat membacanya, dia sangat bahagia sampai lupa membalas. :)

Ginta, adik bungsuku itu, adalah anak terakhir Bapak dan Mama yang menyelesaikan pendidikannya. Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Aku menyelesaikan pendidikanku tahun 2005, lulus sebagai Sarjana Sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Manda, adik lelakiku, lulus tahun 2007 sebagai Sarjana Sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Untuk Bapak, pendidikan nomor satu. Dari dulu aku sudah merasakan itu. Bapak, bersama Mama selalu berusaha memberikan pendidikan yang baik dan benar untuk kami semua. Tidak diktator, karena dia tidak pernah memaksakan kehendak. Aku ingat sekali, ketika kami semua menyelesaikan kelas 2 SMA, yang berarti harus memutuskan untuk melanjutkan ke jurusan IPA atau IPS, Bapak sangat lapang dada menerima keputusan kami. Saat itu, di masanya masing-masing, aku dan kedua adikku diterima di jurusan IPA. Tapi, kami bertiga memutuskan untuk memilih IPS, karena ke sanalah hasrat kami tertuju. Bapak, yang terlihat jelas menginginkan kami semua masuk jurusan IPA, menyetujui pilihan kami. Tapi, tiap kali diam dan terlihat merenung, aku bisa membaca jelas, betapa dia sangat menginginkan anaknya masuk jurusan IPA. Tapi, dia membebaskan kami semua untuk memilih.

Bapak tidak datang dari keluarga yang mampu. Dia hanya mampu menyelesaikan sekolahnya hingga SMA di pelosok kampung di Saribu Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Selepas SMA, Bapak langsung bekerja. Bekerja apa saja. Bapak sempat merantau ke Jakarta dan menjadi kondektur Metro Mini kala itu, tahun 70-an. Sampai kesempatan untuk mendaftar menjadi Pegawai Negeri Sipil di Medan diterimanya. Sejak itu, Bapak merintis karier sebagai abdi negara. Sepanjang ingatanku, tak pernah satu haripun Bapak melewatkan kewajbannya bekerja. Kecuali dia benar-benar sakit. Sebegitu berdedikasinya lah Bapak dengan negara ini. Dia memulai dari PNS biasa, sampai akhirnya berhenti di jabatan Eselon 1 bergolongan IV D, 30 tahun setelahnya.

Bapak baru berkesempatan melanjutkan kuliah ketika aku dan Manda sudah lahir. Aku ingat sekali, dari foto-foto yang ada di album foto keluarga, ketika Bapak diwisuda S-1. Mama masih cantik sekali waktu itu, datang dengan rok pendek dan blazer cokelat muda, rambut diikat setengah. Aku berdandan lengkap, dengan dress pendek bermotif tartan hitam-merah, plus dasi kupu-kupu merah dan rambut keritingku. Ha ha ha. Manda datang dengan seragam ABRI lengkap dengan topi tentara yang kala itu jadi tren. Oppung juga datang waktu itu. Semua masih lengkap. Aku ingat, foto bersama dengan Bapak memakai toga. Aku lupa tahun berapa, tapi sepertinya waktu itu aku masih berumur 4 atau 5 tahun. Hari itu bersejarah sekali, karena Bapak kami jadi sarjana. Walau kami belum mengerti.
Sekarang, sekitar 25 tahun setelahnya, aku mengenang hari itu dengan bangga.


Berbeda dengan Bapak, Mama datang dari keluarga menengah. Mama menyelesaikan kuliah diploma nya dan mendapat gelar BA dari Ilmu Keguruan, waktu itu masih disebut IKIP. Ketika menikah pun, dia sudah bergelar BA. Karena itu, secara intelejensia, kami banyak terbentuk dari didikan Mama. Belasan tahun setelahnya, sekitar tahun 2004 atau 2005, aku kurang ingat pasti, Mama akhirnya bersekolah lagi, meneruskan ke Strata 1, dan dia berhasil. Di umurnya yang sudah kepala 5, Mama kembali ke kampus dan merampungkan kuliahnya. Jadilah dia bergelar Sarjana Pendidikan. Ketika hari bersejarah itu tiba, hari wisuda nya, tak satupun dari kami, anak-anaknya, yang datang. Kami semua berada jauh dari Mama, karena harus menyelesaikan pendidikan kami. Tapi dari foto, melihatnya berkebaya dengan toga, rasanya bangga sekali, sekaligus sedih, karena tidak bisa ada di sana bersama dia.

Setelah itu, tentu wisuda berikutnya adalah wisudaku. Hari itu, Bapak dan Mama datang dari Medan. Bapak terlihat gagah dengan jas lengkap dengan dasi yang senada dengan kemeja. Waktu itu aku sempat bertanya pada Bapak, kenapa tidak memakai batik saja, karena Jogja panasnya bukan kepalang. Dengan lantang Bapak menjawab. "Ini kan acara penting, formal. masa pakai batik? Ada-ada saja kau. Ya pakai jas lah." Dan dia benar, karena Bapak terlihat paling gagah dari semua bapak-bapak yang datang hari itu. Mama yang sehari-hari jarang berdandan, hari itu memulas wajahnya dengan cantik. Berkebaya biru dan berkain panjang, dia jalan di sampingku.
Sesampainya di kampus, setiap 10 meter kami harus berhenti karena Bapak selalu ingin difoto oleh tukang foto keliling yang cetakan fotonya bisa diambil selesai acara.
Ha ha ha. Aku menuruti keinginan dia. Memasang senyum dan berhenti untuk berpose setiap 10 meter. Karena aku tahu, itulah ungkapan kebahagian Bapak.

Ketika tiba hari wisuda Manda, adikku, Bapak dan Mama juga datang dengan rapi. Berjas dan berkebaya lengkap. Tak berkurang rasa bangga yang kulihat di raut wajahnya, sejak terakhir kali datang ke wisudaku. Dia bangga sekali. Mama pun terlihat sama. Dua anaknya sudah berhasil menyelesaikan pendidikan. Tugasnya hampir selesai.

Kini, 4 tahun setelahnya, tugasnya benar-benar sudah selesai. Tugasnya mengantarkan kami bertiga menjadi sarjana, sudah selesai. Aku menulis tulisan ini 3 minggu menjelang hari bersejarah itu. Hari di mana Bapak akan menghadiri wisuda Ginta. Kemarin, lewat pembicaraan di telepon, aku sempat bercanda dengan Bapak. "Bapak pakai kemeja yang mana nanti waktu wisuda? Yang kemaren aja, yang Bapak pakai waktu kita foto keluarga, yang ungu. Bagus kok itu." Eh, dia menjawab, "Ngapain pakai yang lama? Yang baru lah. Nanti beli di Jogja. Yang lama gak usah dipakai lagi." Ha ha ha. Sudah bersemangat sekali dia, Bapakku itu.

Tiga minggu sebelum hari itu, semua sudah selesai dipersiapkan. Tiket pesawat, sampai agenda di Jogja nanti. Dengan senang hati aku mengurus semua keperluan Bapak dan Mama. Karena saat itu nanti, sekali lagi aku akan berkata pada Bapak,
"Sudah selesai, Pak. Kami semua sudah sarjana.......Terimakasih....."


Dan aku berdoa Pak, Ma...ini bukan wisuda terakhir yang akan kalian hadiri. Semoga akan banyak wisuda-wisuda yang lain. Karena mimpi kami masih terus berjalan. Mimpi untuk bersekolah setinggi mungkin. Karena itu, berjanjilah untuk selalu sehat, Pak, Ma..Karena aku, Manda dan Ginta ingin tetap berjalan bersama kalian, beriringan menghadiri wisuda-wisuda kami selanjutnya....



Kelak...

Kamis, November 03, 2011

k a l a h

sudah hampir 2 tahun aku bergelut dengan rasa ini. rasa yg awalnya bahkan tidak ingin kumulai. dan memang tidak kumulai. karena terlalu banyak akumulasi luka hati, yg seharusnya membuatku belajar satu hal, untuk tidak pernah memercayai 'rasa'. tapi, di satu titik, akhirnya aku luluh. sedikit demi sedikit kubuka hatiku. tidak berharap bnyak, hnya mencoba membuka diri saja.

yang kurasa, kau perlahan namun pasti sukses melakukannya. membuatku luluh. dan ketika tadi malam, ketika kita jauh dr smua orang yg mgkin mengenal kita, ketika selama ber-jam-jam bersenda gurau, melontarkan pujian, candaan bahkan hinaan,
kupikir..kupikir..akan berujung pada kepastian
.

tak pernah aku merasa 'sedekat' itu dengan happy ending, akhir yg bahagia. tapi, itulah yg kurasa. hingga jam demi jam berlalu, ternyata akhir bahagia yang kutunggu tak juga dtang. apa yang kuinginkan utk kau ucapkan malam itu, tak pernah kau sampaikan. dan aku pun, terlalu egois untuk menanyakan.

tadi malam, aku kalah. kalah darimu, dari perasaanku, kalah dari dunia yang kurasa menertawakanku dengan keras
karena di balik tiap tawa yang kubagi denganmu, pandangan mataku ke arahmu dan pandangan matamu ke arahku, sentuhan tak sengaja, semuanya..tak lain hanya keinginan kita berdua untuk mencoba bertahan selama mungkin.

sungguh hanya satu yang kuingin kau tahu sekarang...tidak kah kau ingin mencoba?karena aku ingin...ingin sekali..dan kau yang membuatku bergelut dengan keinginanku ini..

tapi setelah apa yang kita lalui tadi malam, setelah aku melihat matamu, aku tahu, aku tak sendiri..tapi menyedihkan, karena kita berdua tak tahu bagaimana caranya utk bisa mengungkapnya.

kuatkanlah hatimu, lantas datanglah kepadaku..apapun keputusanmu
. sementara itu, aku akan menguatkan hatiku, meyakinkan rasaku, dan pada akhirnya akan kutanyakan padamu : "maukah kau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?"

itu saja...

-aku-