Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menganalisis berarti:
tindakan penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan
bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh
pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
Kalau diambil ringkasan sederhana, menganalisis berarti mengurai
fakta, mencermatinya dan lantas menarik kesimpulan atas fakta tersebut.
Analisis pastilah lahir dari kekhawatiran. Berawal dari pertanyaan,
"Bener enggak ya...", "Kayaknya...","Oh, mungkin...", dan banyak lagi.
Meski jauh dari angan-angan, tapi selayaknya manusia tak perlu khawatir.
Karena menurut pernyataan cerdas dari seseorang di masa lampau,
kekhawatiran manusia itu sebenarnya hampir 90 persen tidak terjadi. Tapi
sepertinya banyak manusia-manusia yang belum lepas dari rasa khawatir,
karena itu kita sibuk menganalisis, termasuk saya.
Tapi tahukah kalian, kegiatan menganalisis sering berakhir pada
kesimpulan yang tak terlalu benar, alias sedikit salah? Itulah kenapa,
sejak memulai sesuatu, seharusnya janganlah bertekad untuk menganalisis
terlalu dalam. Harusnya lebih menikmati proses demi proses terbentuknya
fakta, bukan malah menghabiskan lebih banyak waktu untuk memutar otak
dan menganalisis fakta tersebut. Tapi namanya manusia biasa, semakin
banyak diingatkan, semakin sering pula kesalahan dilakukan. Akhirnya
sudah bisa ditebak, akan jatuh ke "perangkap" yang sama, bak keledai.
Untuk urusan asmara, efek terlalu banyak menganalisis akan menjadi
lebih rumit dan menyusahkan. Sampai-sampai, menurut saya, seharusnya ada
aturan tertulis yang berisi peringatan untuk tidak menganalisis di
masa-masa awal perkenalan dengan lawan jenis. Nikmati saja setiap
prosesnya. Persetan dengan analisis. Begitu idealnya. Itu menurut saya.
Tapi yang terjadi tentu saja kebalikannya. Apalagi karena melibatkan
dua jenis kelamin, dua tipe, dan dua karakter. Tak bisa dielakkan. Yang
satu sibuk menganalisis kata per kata yang terucap dan tertulis, yang
satu lagi sibuk menganalisis gerak tubuh dan cara berbicara.
Syukur-syukur kalau analisisnya benar, semua akan berjalan benar pula.
Mulus. Manis. Indah. Tak bertepuk sebelah tangan. Tipikal kisah cinta
putri raja dan pangeran dalam dongeng. Sempurna.
Sial, jika ternyata salah satu pihak salah menganalisis. Drama pun
dimulai. Sontak, semua rekaman analisis pasti akan melintas secepat
kilat di pikiran, hingga bermuara di banyak pertanyaan standar seperti,
"Tapi kan,...", "Masa sih...?", "Enggak mungkin, lah, wong,....", dan
banyak lagi. Adakah jawaban yang tersedia? Entahlah.
Jadi, haruskah menghabiskan banyak waktu untuk menganalisis? Atau
justru tinggalkan saja semua, nikmati proses secara natural dan
berbahagia? Hanya kalian yang bisa menjawab..
-Yetta "over-analyzed" Angelina-
skip to main |
skip to sidebar

Bagi orang-orang yang meras cukup mengenalku, pastilah tahu, satu mimpi yang masih menggelayut di pikiranku hingga saat ini. Mimpi itu bernama Paris. Dan beginilah cerita tentang mimpiku itu.
Semua bermula dari suatu siang yang terik di pertengahan tahun 1998. Tiga belas tahun yang lalu. Aku, yang kala itu duduk di bangku kelas 2 SMA, tengah bersiap mengikuti pelajaran selanjutnya, sepetri juga rutinitas harianku. Ternyata hari itu mengubah duniaku, mengubah haluan mimpiku. karena hari itu, ternyata kelasku mendapat kunjungan dari lembaga bahasa Prancis, tepatnya Alliance Francaise de Medan. Tadinya, kupikir, sesi hari itu tak berbeda dengan sesi-sesi 'blockingan' lainnya yang biasa diselenggarakan di sekolahku.
Ada seorang perempuan mungil berambut pendek yang masuk ke kelasku siang itu. Aku lupa namanya. Tapi sejak saat dia memasuki kelasku, i knew, there was something special about her. And indeed, it was a special session. Perempuan itu ternyata salah seorang pengajar Bahasa Prancis di Alliance Francaise de Medan, satu-satunya lembaga kebudayaan Prancis di Medan. Ternyata, kehadirannya di sana untuk memberikan presentasi singkat tentang Prancis, dan menjaring minat siswa-siswa di SMA ku untuk belajar Bahasa Prancis.
Perempuan mungil itupun mulai mendemonstrasikan kemampuannya berbahasa Prancis. Dan seketika itu pula, pandangan dan pikiranku dibuat terpana. Apa yang diucapkannya, walau tak kumengerti, terdengar sangat indah. Kuamini saat itu sebagai momen di mana aku jatuh hati pada Prancis. Di siang hari yang terik itu, 13 tahun lalu, aku jatuh cinta.
Setelah sekolah usai hari itu, aku tak berpikir panjang untuk segera menemui Mama dan bercerita tentang si perempuan mungil dan Prancis. Rasanya seperti meledak-ledak. Dan sekuat tenaga aku meminta ke Mama supaya aku bisa belajar Bahasa Prancis. Mama awalnya tidak mengizinkan. Karena selain biayanya yang sangat mahal waktu itu, aku pun dinilai tidak konsisten karena baru saja meninggalkan les piano. Tapi dengan segala jurus bujuk rayu, aku meminta agar aku bisa ikut kelas Bahasa Prancis itu.
Akhirnya izin pun keluar. Namun, kendala berikutnya tentu saja biaya. Saat itu, biaya les Bahasa Prancis per grade sangat mahal untuk ukuran tahun 1998. Belum lagi biaya untuk membeli buku. Akhirnya aku mendapatkan jalan tengah, karena si perempuan mungil itu mengizinkan aku untuk menggunakan buku foto copy-an. Sedih, tapi juga senang.
Akhirnya, aku duduk di kelas itu. Menenteng buku foto copy-an, duduk di atas kursi bermeja setengah khas anak kuliahan, membawa mimpi. Mimpi untuk bisa mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Prancis. Tak hanya belajar bahasa, di sana aku diperkenalkan dengan segala bentuk kebudayaan Prancis. Aku pun jatuh cinta, untuk yang kesekian kalinya.
Sejak saat itulah, mimpiku mulai tertanam dan selalu terpelihara hingga kini. People often says, "You're too obsessed with Paris, with France." Tapi, aku selalu menjawabnya dengan senyum. Kecintaanku, mimpuku untuk bisa menjejakkan kaki di sana, di Prancis, di paris, tak tergambarkan dengan kata-kata. ada yang membuncah tiap kali aku melihat foto, video, film tentang Prancis. Adrenalin terpacu, senyum terbit di wajahku ketika aku melihat dan mendengar pengalaman banyak orang ketika berkunjung ke sana. Konyol memang, tapi sungguh, aku merasakan itu.
Di satu periode, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke sana. Semua sudah disiapkan. Tapi, akhirnya niatan itu mundur, karena satu alasan penting yang tak bisa kuungkapkan. Tapi, mimpi itu akan selalu ada. Akan selalu kupelihara, sampai akhirnya akan kutuai pada akhirnya. Mimpiku, mimpi Prancisku pasti akan terwujud tak lama lagi. Segala perispan sedang kurenda, kurajut dengan benang-benang pengharapan. karena kelak, kaki ini akan menjejak di Eiffel Tower, berjalan di pelataran Champs-Élysées, berpose di Arc de triomphe, menerawang di Palace of Versailles, menikmati angin berhembus di Louvre, dan banyak lagi...
Mimpiku...
.....my greatest escape.....
Rabu, Agustus 15, 2012
Sabtu, Agustus 11, 2012
Berbeda
Baru menjejakkan kaki di rumah. Jam 01.00 tepat. Deadline ketiga dari empat "deadline rusuh" selama bulan puasa dan jelang Lebaran baru saja kuselesaikan. Biasanya, tak banyak ritual yang kulakukan sesampainya di rumah di malam deadline. Meletakkan tas, memastikan semua pintu terkunci dengan baik, rutinitas di kamar mandi, mematikan lampu, dan menghempaskan diri ke atas tempat tidur sambil berharap tidak akan terbangun sampai minimal 8 jam ke depan.
Tapi malam ini berbeda...
Sedikit ide terbersit di kepala. Bukan ide, tapi uneg-uneg mungkin tepatnya. Maka kuputuskan untuk membuka laptop dan mulai menulis. Tak tahu apa yang akan kutulis, tapi aku merasa perlu saja menuliskan sesuatu.
Karena malam ini berbeda...
Sejak pagi tadi, hari ini cukup complicated, begitu istilah anak gaul di social media zaman sekarang menyebutnya. Pagi tadi, aku mendapat pesan singkat yang "nyaris" membuatku bahagia bukan kepalang. Sayang, hanya "nyaris". Karena untuk kepastiannya, aku harus menunggu beberapa hari lagi. Perjalanan ke kantor pun cukup membuat kepala mendidih hari ini. Secara kiasan dan secara nyata, karena suhu udara cukup membuat kepala pusing, saking panasnya. Beranjak sore, aku tahu, aku harus memutuskan. Apakah akan berangkat ke sana, menepati janji, atau tidak. Kucoba menyembunyikan kegundahan sejak pagi. Sambil terus memproses di dalam kepala dan hati demi menemukan jawaban dari pertanyaan sederhana, "Haruskah aku datang?". Tapi akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke sana. Atas dasar profesionalisme dan rasa ingin tahu terhadap sosokmu dan karyamu, aku berangkat.
Hingga saat aku menuliskan ini pun, aku tak tahu, apakah kau menyadari kehadiranku di sana tadi? Bodoh memang, karena aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu lebih awal. Bagiku, meliatmu berbicara dari kejauhan di atas panggung itu sudah cukup. Aku sudah melihatmu, dan diam-diam menepati janjiku untuk datang ke sana tadi. Aku tak tahu, apakah kau menyadari kehadiranku di sana tadi. Hanya kau dan Tuhan yang tahu itu.
Sore ini berbeda...
Konyol, karena aku tak cukup mengumpulkan kekuatan untuk sekadar menyapamu dan memberi selamat. Entah apa yang kupikirkan tadi, sehingga aku memutuskan untuk hanya melempar senyum dan melangkah pergi, menjauh. Sesal. Itu yang tersisa. Meski jauh di lubuk hati terdalam, aku merasa telah mengambil langkah yang benar dengan berlalu. Oh, kau tak tahu betapa aku ingin mengenalmu lebih jauh. Tapi aku merasa tadi bukan waktu yang tepat. Karena tadi bukan tentangku dan apa yang kuinginkan, tapi semua tentang mu. Sore tadi adalah sore milikmu.
Karena itu, sore tadi berbeda...
Sinaran matahari senja menemani perjalananku kembali ke kantor sore tadi. Senja merah yang meneduhkan hati untuk sejenak. Ditambah hembusan angin, memberiku waktu untuk menjernihkan kepala sejenak. Menarik nafas panjang, menambah timbunan polusi udara di paru-paru, dan kuhela nafas sama panjang sambil berbisik, "Aku lelah......"
Aku tak tahu, apakah kau menyadari kehadiranku di sana sore tadi. Aku bahkan tak tahu apakah kau mengenaliku di sana sore tadi. Tapi aku ada sore tadi. Di sana. Melihatmu menelurkan karya perdanamu, seseorang yang bahkan belum "kukenal".
Malam ini berbeda...
Karena hingga detik ini, yang terlintas di benakku cuma penggalan-penggalankisah sore tadi. Tak kutemukan benang merah di antara penggalan ingatanku tentang sore tadi. Tapi aku merasa ada sesuatu yang hilang dari penggalan itu. Kesempatan untuk mengenalmu.
Karena aku bukanlah aku sore tadi. Aku berbeda...
Tapi malam ini berbeda...
Sedikit ide terbersit di kepala. Bukan ide, tapi uneg-uneg mungkin tepatnya. Maka kuputuskan untuk membuka laptop dan mulai menulis. Tak tahu apa yang akan kutulis, tapi aku merasa perlu saja menuliskan sesuatu.
Karena malam ini berbeda...
Sejak pagi tadi, hari ini cukup complicated, begitu istilah anak gaul di social media zaman sekarang menyebutnya. Pagi tadi, aku mendapat pesan singkat yang "nyaris" membuatku bahagia bukan kepalang. Sayang, hanya "nyaris". Karena untuk kepastiannya, aku harus menunggu beberapa hari lagi. Perjalanan ke kantor pun cukup membuat kepala mendidih hari ini. Secara kiasan dan secara nyata, karena suhu udara cukup membuat kepala pusing, saking panasnya. Beranjak sore, aku tahu, aku harus memutuskan. Apakah akan berangkat ke sana, menepati janji, atau tidak. Kucoba menyembunyikan kegundahan sejak pagi. Sambil terus memproses di dalam kepala dan hati demi menemukan jawaban dari pertanyaan sederhana, "Haruskah aku datang?". Tapi akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke sana. Atas dasar profesionalisme dan rasa ingin tahu terhadap sosokmu dan karyamu, aku berangkat.
Hingga saat aku menuliskan ini pun, aku tak tahu, apakah kau menyadari kehadiranku di sana tadi? Bodoh memang, karena aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu lebih awal. Bagiku, meliatmu berbicara dari kejauhan di atas panggung itu sudah cukup. Aku sudah melihatmu, dan diam-diam menepati janjiku untuk datang ke sana tadi. Aku tak tahu, apakah kau menyadari kehadiranku di sana tadi. Hanya kau dan Tuhan yang tahu itu.
Sore ini berbeda...
Konyol, karena aku tak cukup mengumpulkan kekuatan untuk sekadar menyapamu dan memberi selamat. Entah apa yang kupikirkan tadi, sehingga aku memutuskan untuk hanya melempar senyum dan melangkah pergi, menjauh. Sesal. Itu yang tersisa. Meski jauh di lubuk hati terdalam, aku merasa telah mengambil langkah yang benar dengan berlalu. Oh, kau tak tahu betapa aku ingin mengenalmu lebih jauh. Tapi aku merasa tadi bukan waktu yang tepat. Karena tadi bukan tentangku dan apa yang kuinginkan, tapi semua tentang mu. Sore tadi adalah sore milikmu.
Karena itu, sore tadi berbeda...
Sinaran matahari senja menemani perjalananku kembali ke kantor sore tadi. Senja merah yang meneduhkan hati untuk sejenak. Ditambah hembusan angin, memberiku waktu untuk menjernihkan kepala sejenak. Menarik nafas panjang, menambah timbunan polusi udara di paru-paru, dan kuhela nafas sama panjang sambil berbisik, "Aku lelah......"
Aku tak tahu, apakah kau menyadari kehadiranku di sana sore tadi. Aku bahkan tak tahu apakah kau mengenaliku di sana sore tadi. Tapi aku ada sore tadi. Di sana. Melihatmu menelurkan karya perdanamu, seseorang yang bahkan belum "kukenal".
Malam ini berbeda...
Karena hingga detik ini, yang terlintas di benakku cuma penggalan-penggalankisah sore tadi. Tak kutemukan benang merah di antara penggalan ingatanku tentang sore tadi. Tapi aku merasa ada sesuatu yang hilang dari penggalan itu. Kesempatan untuk mengenalmu.
Karena aku bukanlah aku sore tadi. Aku berbeda...
Kamis, Agustus 02, 2012
Suatu Hari Nanti
Suatu hari nanti, pasti namaku akan tertera di sampul sebuah
buku. Mimpi yang terus dipupuk sejak
lama. Ya, selain bepergian keliling dunia, menulis buku sudah menjadi cita-cita
terdalam. Sampai itu terjadi, aku hanya bisa menunggu, mereka-reka seperti apa
rasanya “menelurkan” karya sendiri.
Suatu hari nanti, kata demi kata pasti akan mengalir dari
pikiran ke tulisan. Sekarang pun, kalau ditanya, semua ide dan gagasan sudah
bergelimpangan. Bak potongan puzzle yang berserakan, hanya perlu dua tangan
untuk mengumpulkan potongan demi potongan dan merangkainya menjadi satu gambar
utuh. Proses itu yang sulit. Sulit, tapi bisa dikerjakan.
Suatu hari nanti, sepulang bepergian, pasti akan meluangkan
waktu khusus untuk memulai menulis. Pasti.
Sabtu, Juni 02, 2012
12 Tahun Lalu
Kemarin, 1 Juni 2012, tepat 12 tahun aku "meninggalkan" rumah dan kampung halaman. Dua belas tahun setelahnya, aku ada di sini, di ibukota, menikmati asap kendaraan, asap rokok, kemacetan dan hiruk-pikuk keegoisan. Aku menuliskan goresan tulisan ini sambil menahan rindu pada rumah dan kampung halamanku, Medan.
Dua belas tahun lalu, berbekal koper bekas yang dibeli Bapak di Monza, pasar loak terkenal di Medan, aku berangkat menuju Yogyakarta. Ditemani Mama, kami berlayar menuju perhentian pertama, Jakarta. Mama sudah siap dengan bekal rantang, yang akan menjadi ransum kami selama 3 hari dua malam di kapal laut. Aku tidak akan pernah melupakan saat itu, ketika aku dan Mama berdiri di dek samping kapal, melambaikan tangan pada Bapak yang tinggal di Medan, tidak ikut bersama kami, karena aku masih punya 2 adik lelaki yang harus diurusnya. Aku tidak menangis saat itu, tapi hatiku hancur, melihat Bapak dari kejauhan, kecil sekali. Dan berpikir, kapan aku bisa bertemu lagi dengan dia, Bapakku itu...Saat itu juga, kulambaikan tangan, mengucap salam perpisahan pada tanah kelahiranku. Tujuh belas tahun aku tinggal menetap di sana sebelum lambaian tanganku hari itu.
Tiga hari di kapal, rasanya campur aduk. Dulu kondisi keuangan Mama-Bapak tidak memadai untuk mengongkosi kami di kelas 1. Hanya tempat tidur massal bak bangsal di kelas 3 Wisata yang menjadi "rumah" kami selama 3 hari perjalanan Medan-Jakarta. Selama 3 hari itu, rasanya tidak karuna. Bekal dalam rantang yang dibawa Mama dari Medan jadi satu-satunya penyelamat. Ikan teri sambal sampai rendang. Selebihnya, tidak ada hal menarik yang bisa kuingat dari perjalanan itu. Yang tersisa hanya aroma pengap bercampur uap dari mie instant dalam kemasan cup.
Tiba di Jakarta, aku tak terlalu mengingat banyak hal. Yang kuingat hanya kami kembali menaiki kereta api, melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Lagi-lagi, tidak ada cukup dana untuk menikmati fasilitas eksekutif. Aku dan Mama cukup puas bermukim di kelas Bisnis, bercampur dengan puluhan pedagang yang menyerbu masuk dengan dagangannya di setiap stasiun.
Akhirnya, tanah penuh harapan itu pun terlihat dari kejauhan. Yogyakarta. Kota pilihanku. Tidak ada yang memaksaku untuk melanjutkan kuliah di Kota Gudeg itu. Tapi sejak pertama kali mengunjunginya di tahun 1994, aku sudah berbisik di dalam hati, "Satu hari aku akan kembali dan menetap di sini". Mungkin saat itul yang disebut cinta pada pandangan pertama, antara aku dan Yogyakarta. Tujuh tahun setelahnya, kupenuhi janjiku, dan mengunjunginya lagi untuk menetap sementara.
Mama tidak lama menemaniku di Yogyakarta. Dia bahkan tidak sempat melihatku berangkat kuliah untuk pertama kali. Dia hanya menitipkanku pada adik lelakinya yang bermukim di Yogyakarta. Tulang, begitu aku menyapanya, resmi menjadi waliku di Yogyakarta. Waktu Mama akan pulang kembali ke Medan, rasanya tidak terdefinisikan. Seribu tanya melesat di pikiran. "Apa yang akan terjadi? Kalau enggak ada Mama, Bapak? Kalau aku sakit bagaimana? Kalau uangku kurang, bagaimana?". Tapi sebagai perempuan tomboy yang tidak pernah ingin terlihat cengeng di hadapan siapapun, aku menyimpan segala pertanyaan dan kecemasan itu. Cuma aku yang tahu apa yang berkecamuk di dada saat harus melambaikan tangan pada Mama yang menaiki gerbong kereta, kembali ke Jakarta, dan melanjutkan perjalanan pulang ke Medan.
Malam itu, setelah Mama pulang, aku menempati kamar cadangan di rumah Tulang. Tengah malam, aku menangis tak bersuara. Menyadari bahwa aku sudah benar-benar sendiri, dan harus bertanggung jawab dengan kehidupanku sendiri. Alasan lain, aku rindu rumah, Mama, Bapak, semuanya di Medan. Malam pertama, sudah rindu. Selama dua minggu setelah itupun, aku masih rutin menangis di malam hari, menahan rindu. Dua belas tahun yang lalu...
Tapi kehidupan sungguh berbaik hati padaku. Tahun demi tahun, aku menjalani kehidupan jauh dari Mama, Bapak, tanpa kekurangan. Teman-teman "seperjuangan" banyak menguatkan di rantau. Lima tahun aku menetap di Yogyakarta, sampai studiku selesai. Lima tahun yang membentuk kehidupan, watak dan karakterku. Lima tahun terpenting dalam hidupku. Tak pernah sedetik pun berlalu tanpa aku berpikir bahwa pilihanku untuk merantau adalah pilihan yang paling tepat.
Aku yang sekarang, yang setiap hari berusaha menaklukkan ibukota, terbentuk dari keputusan orangtuaku yang membiarkan anak perempuan satu-satunya merantau jauh ke kampung orang. Kadang aku berpikir, apa yang akan terjadi padaku jika seandainya Bapak dan Mama berpikiran seperti kebanyakan orangtua saat itu, tidak mengizinkan anaknya untuk merantau? Aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Aku yang sekarang, terbentuk dari keputusan-keputusan penting itu.
Merantau adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Keputusan besar pertama yang akhirnya mengubah hidupku. Dua belas tahun setelahnya, hari ini, aku akan selalu mencari jalan pulang ke sana, ke Medan, ke kehangatan yang tidak bisa terbayar oleh kemewahan dan keindahan kota-kota di Eropa sekalipun. Karena ke manapun kaki ini sudah, sedang dan akan melangkah, ke sanalah, ke Medan, hati dan pikiranku akan tertuju. Sesederhana itu. Aku anak Medan! :)
Dua belas tahun lalu, berbekal koper bekas yang dibeli Bapak di Monza, pasar loak terkenal di Medan, aku berangkat menuju Yogyakarta. Ditemani Mama, kami berlayar menuju perhentian pertama, Jakarta. Mama sudah siap dengan bekal rantang, yang akan menjadi ransum kami selama 3 hari dua malam di kapal laut. Aku tidak akan pernah melupakan saat itu, ketika aku dan Mama berdiri di dek samping kapal, melambaikan tangan pada Bapak yang tinggal di Medan, tidak ikut bersama kami, karena aku masih punya 2 adik lelaki yang harus diurusnya. Aku tidak menangis saat itu, tapi hatiku hancur, melihat Bapak dari kejauhan, kecil sekali. Dan berpikir, kapan aku bisa bertemu lagi dengan dia, Bapakku itu...Saat itu juga, kulambaikan tangan, mengucap salam perpisahan pada tanah kelahiranku. Tujuh belas tahun aku tinggal menetap di sana sebelum lambaian tanganku hari itu.
Tiga hari di kapal, rasanya campur aduk. Dulu kondisi keuangan Mama-Bapak tidak memadai untuk mengongkosi kami di kelas 1. Hanya tempat tidur massal bak bangsal di kelas 3 Wisata yang menjadi "rumah" kami selama 3 hari perjalanan Medan-Jakarta. Selama 3 hari itu, rasanya tidak karuna. Bekal dalam rantang yang dibawa Mama dari Medan jadi satu-satunya penyelamat. Ikan teri sambal sampai rendang. Selebihnya, tidak ada hal menarik yang bisa kuingat dari perjalanan itu. Yang tersisa hanya aroma pengap bercampur uap dari mie instant dalam kemasan cup.
Tiba di Jakarta, aku tak terlalu mengingat banyak hal. Yang kuingat hanya kami kembali menaiki kereta api, melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Lagi-lagi, tidak ada cukup dana untuk menikmati fasilitas eksekutif. Aku dan Mama cukup puas bermukim di kelas Bisnis, bercampur dengan puluhan pedagang yang menyerbu masuk dengan dagangannya di setiap stasiun.
Akhirnya, tanah penuh harapan itu pun terlihat dari kejauhan. Yogyakarta. Kota pilihanku. Tidak ada yang memaksaku untuk melanjutkan kuliah di Kota Gudeg itu. Tapi sejak pertama kali mengunjunginya di tahun 1994, aku sudah berbisik di dalam hati, "Satu hari aku akan kembali dan menetap di sini". Mungkin saat itul yang disebut cinta pada pandangan pertama, antara aku dan Yogyakarta. Tujuh tahun setelahnya, kupenuhi janjiku, dan mengunjunginya lagi untuk menetap sementara.
Mama tidak lama menemaniku di Yogyakarta. Dia bahkan tidak sempat melihatku berangkat kuliah untuk pertama kali. Dia hanya menitipkanku pada adik lelakinya yang bermukim di Yogyakarta. Tulang, begitu aku menyapanya, resmi menjadi waliku di Yogyakarta. Waktu Mama akan pulang kembali ke Medan, rasanya tidak terdefinisikan. Seribu tanya melesat di pikiran. "Apa yang akan terjadi? Kalau enggak ada Mama, Bapak? Kalau aku sakit bagaimana? Kalau uangku kurang, bagaimana?". Tapi sebagai perempuan tomboy yang tidak pernah ingin terlihat cengeng di hadapan siapapun, aku menyimpan segala pertanyaan dan kecemasan itu. Cuma aku yang tahu apa yang berkecamuk di dada saat harus melambaikan tangan pada Mama yang menaiki gerbong kereta, kembali ke Jakarta, dan melanjutkan perjalanan pulang ke Medan.
Malam itu, setelah Mama pulang, aku menempati kamar cadangan di rumah Tulang. Tengah malam, aku menangis tak bersuara. Menyadari bahwa aku sudah benar-benar sendiri, dan harus bertanggung jawab dengan kehidupanku sendiri. Alasan lain, aku rindu rumah, Mama, Bapak, semuanya di Medan. Malam pertama, sudah rindu. Selama dua minggu setelah itupun, aku masih rutin menangis di malam hari, menahan rindu. Dua belas tahun yang lalu...
Tapi kehidupan sungguh berbaik hati padaku. Tahun demi tahun, aku menjalani kehidupan jauh dari Mama, Bapak, tanpa kekurangan. Teman-teman "seperjuangan" banyak menguatkan di rantau. Lima tahun aku menetap di Yogyakarta, sampai studiku selesai. Lima tahun yang membentuk kehidupan, watak dan karakterku. Lima tahun terpenting dalam hidupku. Tak pernah sedetik pun berlalu tanpa aku berpikir bahwa pilihanku untuk merantau adalah pilihan yang paling tepat.
Aku yang sekarang, yang setiap hari berusaha menaklukkan ibukota, terbentuk dari keputusan orangtuaku yang membiarkan anak perempuan satu-satunya merantau jauh ke kampung orang. Kadang aku berpikir, apa yang akan terjadi padaku jika seandainya Bapak dan Mama berpikiran seperti kebanyakan orangtua saat itu, tidak mengizinkan anaknya untuk merantau? Aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Aku yang sekarang, terbentuk dari keputusan-keputusan penting itu.
Merantau adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Keputusan besar pertama yang akhirnya mengubah hidupku. Dua belas tahun setelahnya, hari ini, aku akan selalu mencari jalan pulang ke sana, ke Medan, ke kehangatan yang tidak bisa terbayar oleh kemewahan dan keindahan kota-kota di Eropa sekalipun. Karena ke manapun kaki ini sudah, sedang dan akan melangkah, ke sanalah, ke Medan, hati dan pikiranku akan tertuju. Sesederhana itu. Aku anak Medan! :)
Rabu, Mei 16, 2012
Eropa, Setahun Kemarin...
Minggu ini, setahun kemarin, menjadi minggu yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Minggu di mana sebuah mimpi lama terwujud dengan mudahnya. Aku, si empunya mimpi pun tidak pernah bermimpi bahwa mimpiku akan terwujud secepat itu. Kata seorang teman, "Mungkin Tuhan sudah bosan mendengar doamu. Jadi Dia memutuskan untuk segera mengabulkannya,, jauh lebih cepat dari yang Dia rencanakan. Karena kuping-Nya panas mendegar doamu hampir setiap hari." Ha ha ha.
(Dan mimpi itu bernama Eropa).
Minggu ini, setahun kemarin, aku duduk di salah satu bangku penonton di Emirates Stadium, markas besar kesebelasan Arsenal, berlokasi di London. Seminggu sebelumnya, untuk pertama kali, kaki ini menjejak tanah Benua Biru. Di usia 28 tahun, Tuhan mengabulkan doaku. Jauh lebih cepat dari rencana yang sudah kurancang jauh-jauh hari. Dan semua mimpi itu terwujud tanpa dana sepeser pun. Itu yang membuat mimpi ini terasa terwujud dua kali lebih baik.
(Dan mimpi itu bernama Eropa).
Minggu ini, setahun kemarin, sendiri, aku menyusur jalan-jalan di bawah tanah kota London. Memutuskan berpisah dari rombongan, bermodalkan selembar peta, aku bertualang menjelajahi London. Pagi itu, suhu tak bersahabat, dingin menusuk tulang. Tapi kebahagiaan yang membuncah ternyata mampu menghangatkan kulit. Memandang dan menikmati kemegahan St.Paul's Cathedral di Minggu pagi menjadi penyemangat yang luar biasa pagi itu. Sendiri, aku bahagia.
(Dan mimpi itu bernama Eropa).
Minggu ini, setahun kemarin, aku tetap tidak percaya bahwa mimpi itu sudah terwujud. Berulang kali aku terdiam, tersenyum sendiri, menatap sudut-sudut bangunan di Oxford Street, mencermati dedaunan rindang di Hyde Park, menelan ludah ketika melihat Westminster Abbey Church di depan mata, berkaca-kaca di depan Parliament House, berlari di Stamford Bridge, terduduk diam menunggu Tube di Marble Arch. Bahagia. Sesederhana itulah definisi bahagia untukku. Bepergian, meilhat dunia.
(Dan mimpi itu bernama Eropa).
Minggu ini, tahun ini, saat ini, aku baru menyelesaikan persiapan perjalananku yang sesungguhnya. Rencana yang masih berupa ide setahun lalu, sudah mulai tercapai tahun ini. Saat menuliskan ini pun, di halaman lain sedang terpampang rute perjalananku. Empat bulan lagi, mimpiku akan berlanjut. Mengunjungi kiblat mimpiku, Paris. Menjejak tanah Benua Biru, mengobati rindu yang menggebu. Empat bulan lagi, dengan usaha, keringat, tabungan terkuras, kuraih mimpiku segera. SEGERA...
Karena mimpiku itu bernama EROPA....
(Dan mimpi itu bernama Eropa).
Minggu ini, setahun kemarin, aku duduk di salah satu bangku penonton di Emirates Stadium, markas besar kesebelasan Arsenal, berlokasi di London. Seminggu sebelumnya, untuk pertama kali, kaki ini menjejak tanah Benua Biru. Di usia 28 tahun, Tuhan mengabulkan doaku. Jauh lebih cepat dari rencana yang sudah kurancang jauh-jauh hari. Dan semua mimpi itu terwujud tanpa dana sepeser pun. Itu yang membuat mimpi ini terasa terwujud dua kali lebih baik.
(Dan mimpi itu bernama Eropa).
Minggu ini, setahun kemarin, sendiri, aku menyusur jalan-jalan di bawah tanah kota London. Memutuskan berpisah dari rombongan, bermodalkan selembar peta, aku bertualang menjelajahi London. Pagi itu, suhu tak bersahabat, dingin menusuk tulang. Tapi kebahagiaan yang membuncah ternyata mampu menghangatkan kulit. Memandang dan menikmati kemegahan St.Paul's Cathedral di Minggu pagi menjadi penyemangat yang luar biasa pagi itu. Sendiri, aku bahagia.
(Dan mimpi itu bernama Eropa).
Minggu ini, setahun kemarin, aku tetap tidak percaya bahwa mimpi itu sudah terwujud. Berulang kali aku terdiam, tersenyum sendiri, menatap sudut-sudut bangunan di Oxford Street, mencermati dedaunan rindang di Hyde Park, menelan ludah ketika melihat Westminster Abbey Church di depan mata, berkaca-kaca di depan Parliament House, berlari di Stamford Bridge, terduduk diam menunggu Tube di Marble Arch. Bahagia. Sesederhana itulah definisi bahagia untukku. Bepergian, meilhat dunia.
(Dan mimpi itu bernama Eropa).
![]() |
| Westminster Abbey, London |
Karena mimpiku itu bernama EROPA....
Minggu, Januari 08, 2012
Kali Ini, Aku Tidak Menangis...
Kali ini, aku tidak menangis...
Saat kau mengirimkan pesan itu padaku, aku hanya tersenyum.
Tak kuselesaikan membaca pesanmu yang berbaris-baris itu.
Hanya 2 baris terakhir, dan sudah kututup, tak ingin kubaca lagi.
Aku tidak menangis...
Ketika satu jam setelahnya, kuputuskan untuk membaca pesan itu sampai selesai.
Aku sudah tahu maksudmu.
Dan aku tidak menangis.
Aku tidak menangis...
Meski hari itu hujan turun terus-menerus.
Seperti ingin bersimpati pada gelapnya hatiku.
Tapi aku hanya tersenyum.
Aku tidak menangis...
Karena aku mengadu pada-Nya hari itu.
Karena aku tahu, apa yang terjadi hari itu adalah jawaban doaku.
Tidak seperti yang kuinginkan, tapi itu jawaban Tuhan.
Aku tidak menangis...
Karena untuk yang pertamakalinya, aku merasa lega.
Karena aku sudah mengikuti kata hatiku.
Tak ada sesal.
Aku tidak menangis...
Kuputuskan membuka hati untuk yang lain.
Pasti tersedia.
Di waktu yang tepat, nanti.
Kali ini aku tidak menangis. Karena hari itu aku belajar sesuatu, bahwa hati ini memang sedang kupersiapkan untuk yang terbaik. NANTI.
Jadi, untuk apa menangis?
Saat kau mengirimkan pesan itu padaku, aku hanya tersenyum.
Tak kuselesaikan membaca pesanmu yang berbaris-baris itu.
Hanya 2 baris terakhir, dan sudah kututup, tak ingin kubaca lagi.
Aku tidak menangis...
Ketika satu jam setelahnya, kuputuskan untuk membaca pesan itu sampai selesai.
Aku sudah tahu maksudmu.
Dan aku tidak menangis.
Aku tidak menangis...
Meski hari itu hujan turun terus-menerus.
Seperti ingin bersimpati pada gelapnya hatiku.
Tapi aku hanya tersenyum.
Aku tidak menangis...
Karena aku mengadu pada-Nya hari itu.
Karena aku tahu, apa yang terjadi hari itu adalah jawaban doaku.
Tidak seperti yang kuinginkan, tapi itu jawaban Tuhan.
Aku tidak menangis...
Karena untuk yang pertamakalinya, aku merasa lega.
Karena aku sudah mengikuti kata hatiku.
Tak ada sesal.
Aku tidak menangis...
Kuputuskan membuka hati untuk yang lain.
Pasti tersedia.
Di waktu yang tepat, nanti.
Kali ini aku tidak menangis. Karena hari itu aku belajar sesuatu, bahwa hati ini memang sedang kupersiapkan untuk yang terbaik. NANTI.
Jadi, untuk apa menangis?
Senin, Desember 05, 2011
PRANCIS, FRANCE.

Bagi orang-orang yang meras cukup mengenalku, pastilah tahu, satu mimpi yang masih menggelayut di pikiranku hingga saat ini. Mimpi itu bernama Paris. Dan beginilah cerita tentang mimpiku itu.
Semua bermula dari suatu siang yang terik di pertengahan tahun 1998. Tiga belas tahun yang lalu. Aku, yang kala itu duduk di bangku kelas 2 SMA, tengah bersiap mengikuti pelajaran selanjutnya, sepetri juga rutinitas harianku. Ternyata hari itu mengubah duniaku, mengubah haluan mimpiku. karena hari itu, ternyata kelasku mendapat kunjungan dari lembaga bahasa Prancis, tepatnya Alliance Francaise de Medan. Tadinya, kupikir, sesi hari itu tak berbeda dengan sesi-sesi 'blockingan' lainnya yang biasa diselenggarakan di sekolahku.
Ada seorang perempuan mungil berambut pendek yang masuk ke kelasku siang itu. Aku lupa namanya. Tapi sejak saat dia memasuki kelasku, i knew, there was something special about her. And indeed, it was a special session. Perempuan itu ternyata salah seorang pengajar Bahasa Prancis di Alliance Francaise de Medan, satu-satunya lembaga kebudayaan Prancis di Medan. Ternyata, kehadirannya di sana untuk memberikan presentasi singkat tentang Prancis, dan menjaring minat siswa-siswa di SMA ku untuk belajar Bahasa Prancis.
Perempuan mungil itupun mulai mendemonstrasikan kemampuannya berbahasa Prancis. Dan seketika itu pula, pandangan dan pikiranku dibuat terpana. Apa yang diucapkannya, walau tak kumengerti, terdengar sangat indah. Kuamini saat itu sebagai momen di mana aku jatuh hati pada Prancis. Di siang hari yang terik itu, 13 tahun lalu, aku jatuh cinta.
Setelah sekolah usai hari itu, aku tak berpikir panjang untuk segera menemui Mama dan bercerita tentang si perempuan mungil dan Prancis. Rasanya seperti meledak-ledak. Dan sekuat tenaga aku meminta ke Mama supaya aku bisa belajar Bahasa Prancis. Mama awalnya tidak mengizinkan. Karena selain biayanya yang sangat mahal waktu itu, aku pun dinilai tidak konsisten karena baru saja meninggalkan les piano. Tapi dengan segala jurus bujuk rayu, aku meminta agar aku bisa ikut kelas Bahasa Prancis itu.
Akhirnya izin pun keluar. Namun, kendala berikutnya tentu saja biaya. Saat itu, biaya les Bahasa Prancis per grade sangat mahal untuk ukuran tahun 1998. Belum lagi biaya untuk membeli buku. Akhirnya aku mendapatkan jalan tengah, karena si perempuan mungil itu mengizinkan aku untuk menggunakan buku foto copy-an. Sedih, tapi juga senang.
Akhirnya, aku duduk di kelas itu. Menenteng buku foto copy-an, duduk di atas kursi bermeja setengah khas anak kuliahan, membawa mimpi. Mimpi untuk bisa mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Prancis. Tak hanya belajar bahasa, di sana aku diperkenalkan dengan segala bentuk kebudayaan Prancis. Aku pun jatuh cinta, untuk yang kesekian kalinya.
Sejak saat itulah, mimpiku mulai tertanam dan selalu terpelihara hingga kini. People often says, "You're too obsessed with Paris, with France." Tapi, aku selalu menjawabnya dengan senyum. Kecintaanku, mimpuku untuk bisa menjejakkan kaki di sana, di Prancis, di paris, tak tergambarkan dengan kata-kata. ada yang membuncah tiap kali aku melihat foto, video, film tentang Prancis. Adrenalin terpacu, senyum terbit di wajahku ketika aku melihat dan mendengar pengalaman banyak orang ketika berkunjung ke sana. Konyol memang, tapi sungguh, aku merasakan itu.
Di satu periode, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke sana. Semua sudah disiapkan. Tapi, akhirnya niatan itu mundur, karena satu alasan penting yang tak bisa kuungkapkan. Tapi, mimpi itu akan selalu ada. Akan selalu kupelihara, sampai akhirnya akan kutuai pada akhirnya. Mimpiku, mimpi Prancisku pasti akan terwujud tak lama lagi. Segala perispan sedang kurenda, kurajut dengan benang-benang pengharapan. karena kelak, kaki ini akan menjejak di Eiffel Tower, berjalan di pelataran Champs-Élysées, berpose di Arc de triomphe, menerawang di Palace of Versailles, menikmati angin berhembus di Louvre, dan banyak lagi...
Mimpiku...
Labels
- Cerita Liputan (1)
- Doa (1)
- Inspirasi Lagu (1)
- Intro (1)
- Liburan (1)
- Protes dan Kritik (1)
- Resolusi (1)
- sahabat (1)
- Selingan (1)
- Ulang Tahun (2)
- Urusan Hati (4)
- Urusan Jiwa (5)
Tautan Ku...
Tentang Ku...
- Yetta Angelina
- I'm simple. Nothing special to described about me. I'm a cheerfull person, and i'm not really good in hiding something from other people. I'm not a stabilized person. This minute i can laugh, but in the next minute, i could cry loud...:)



