Jumat, Januari 10, 2014

Only By The Grace of God.

Saya suka sekali menonton serial Grey's Anatomy. Sudah 10 musim penayangannya saat ini, saya tidak pernah melewatkan satu episode pun. Entah kenapa, kehidupan di ruang-ruang rumah sakit dan intrik kisah seorang dokter di karier dan kehidupan pribadinya menarik saya untuk mengikuti episode demi episodenya. Hampir setiap episode di Grey's Anatomy memperlihatkan kesibukan di ruang gawat darurat, ICU hingga ruang operasi sebuah rumah sakit. Saya selalu melihat itu semua sebagai paket tayangan televisi yang menarik.

Adegan di mana seorang pasien terbaring di tempat tidur sambil didorong menuju kamar operasi sambil melewati lorong-lorong rumah sakit, dengan sudut pandang pasien, menengadah ke langit-langit rumah sakit, selalu menjadi adegan favorit saya. Sering kali, saya menonton adegan itu sambil bertanya-tanya, apa yang sedang dirasakan pasien itu saat perjalanan menuju ruang operasi, ya?

Dan benar kata orang, "Be careful of what you wished for". Belum genap sebulan lalu, saya menjadi "aktor" di adegan Grey's Anatomy versi saya. Saya yang terbujur di tempat tidur itu, dikelilingi suster yang mendorong tempat tidur saya melewati lorong-lorong rumah sakit. Mata saya yang menatap langit-langit rumah sakit menuju ruang operasi. Sampai detik ini pun saya tidak bisa percaya saya melewati semua itu.

Saya ingin merekam ingatan saya akan semua proses itu, supaya kelak saya tahu mengingat masa-masa terburuk saya. Karena itu saya menuliskan cerita saya ini.

--19 Desember 2013, 04.10 PM

"Miss Yetta! Miss Yetta! Wake up! Your surgery is over. You're in an intensive care unit right now. Wake up, Miss!".

Sayup-sayup, itu yang saya dengar di telinga ini. Terus terang, saya teler total. Saya tidak ingat apa yang terjadi sebelum itu. Saat mata saya mulai membuka perlahan, saya dikelilingi kurang lebih enam suster. Semua memegang bagian tubuh saya. Salah satu dari mereka lah yang mengucapkan kalimat itu di dekat telinga saya sambil menepuk pipi saya.

Reaksi pertama saya langsung sedikit berontak. Saya ingin duduk, tapi entah kenapa, banyak kabel yang menahan saya. Kepala saya juga terasa 10 kali lebih berat. Terakhir saya ingat, saya masuk ruang operasi dengan satu infus di tangan kiri saya. Tapi saat itu, dua infus menempel di kedua tangan, ditambah banyak peralatan lain menempel. Belum lagi alat pernafasan yang menutup setengah wajah saya. Panik, itu yang saya rasakan.

"We have to do this, Miss. This is the regular procedure after you went on a surgery. we have to gradually check your condition before you can go to regular room."

Begitu saya mendengar lagi suster berbisik di telinga saya. Saya melirik jam di dinding di depan saya, hampir 16.10. Terakhir saya melihat jam, angka menunjukkan 13.40. Itu artinya, saya "tewas" selama 2 jam lebih. Kepala berputar keras, saya tidak sanggup berpikir. Karena itu saya biarkan tubuh dan kepala beristirahat. Sekeras apapun saya mencoba, toh saya tidak mengingat apapun yang terjadi selama 2 jam belakangan.

Satu yang saya rasakan, rasa hangat dan sedikit nyeri menjalar di sebelah kanan dadaku. Saat itu saya tahu, operasi itu benar-benar sudah selesai.

--10 AM, earlier that morning.

"It says here that you've been fasting since 08.30 AM, right? I've checked on everything and you're fit for surgery. You'll be my first case today. Now you can move to the ward and get prepared. I'll see you in the surgery room around 01.00 PM, okay?"

Begitu dokter menyapa saya pagi itu setelah dia melakukan kontrol terakhir sebelum operasi. Ya, hari itu sudah kami sepakati sebagai hari di mana sang dokter nan ramah dan lembut itu mengangkat dua tumor dari payudara kanan saya. Hari yang sudah saya tunggu-tunggu selama enam bulan terakhir, sejak saya pertama kali didagnosa memiliki dua "tamu" kecil yang bersarang di payudara saya. Semua sudah saya ceritakan sebelumnya di sini.

"Everything will be allright. You're young, nothing to be worry about."

Saya tahu, dokter bisa merasakan kegelisahan saya. Tapi saat itu saya tahu, ini keputusan yang tepat yang sudah melewati enam bulan masa pemikiran dan observasi. Saya dan dokter itu tidak mungkin salah lagi. I have to do this. WE have to do this.

Hari itu saya sudah menyiapkan semua pakaian di koper kecil saya. Jadi lah saya ditemani Mama dan Tante saya melangkah masuk ke ruang perawatan. Saya melirik jam, 11.00. Masih ada beberapa jam lagi untuk sekedar menatap ke langit-langit kamar perawatan ini dan menebak-nebak, apa yang akan terjadi.

"You can change your clothes to this, okay? After that, you can rest untill before the surgery," begitu seorang suster berkata pada saya sambil menyodorkan gaun pasien yang khas itu. Untuk pertama kalinya, saya ternyata bisa juga pakai baju backless dan masih terlihat oke. Ha ha ha.

--12.00 AM

Saya tahu, perintah suster adalah untuk tidur dan beristirahat. Tapi mata dan kepala saya tidak sinkron. Tidak kompak. Jadilah saya mencoba mengalihkan perhatian dengan menonton. Tapi sayang, film box office pun tak bisa menyingkirkan kegelisahan saya hari itu. Ditambah lagi melihat Mama saya yang mencoba sok tegar, semakin menambah kegundahan saya.

"Okay, now you have to take a bath to sterilize all parts of your body. Use this," kata suster itu lagi sambil memberikan botol putih berisi cairan berwarna pink. Jujur, waktu itu saya merasa seperti sapi qurban yang siap dipotong. tapi sebelum dipotong, harus didandani dulu. Ha ha ha. Sungguh, saya berpikir seperti itu. Selesai mandi, saya pun "terpaksa" menjalani sesi "waxing" dadakan. Benar kata saya, sapi kurban.

--12.30 AM

Waktunya pun tiba. Suster datang membawa kursi roda. Saya tambah panik. "This shit is really happening," begitu saya berpikir waktu itu. Dengan belagunya, saya pun berkata pada suster, "I can walk. No need to use the wheelchair." Ternyata berkata seperti itu kepada seorang suster yang mempersiapkan saya untuk operasi adalah kesalahan total. "No you can't walk, Miss. Please obey me," jawab si suster ketus. Dan saya pun mengalah.

Saya tidak sempat pamit pada Mama dan Tante. Mereka langsung menggiring saya ke pintu yang berbeda dengan penunggu pasien. Melihat Mama sekilas pun saya tidak sempat lagi. Saya cuma mendengar suster menyuruh Mama melewati pintu yang lain. Jantung saya berdegup kencang. Saya duduk di kursi roda. Saya dibawa menuju ruang persiapan operasi. Perjalanannya hanya sekitar 5 menit. Tapi rasanya itu 5 menit terlama dalam hidup saya. Sepanjang lorong rumah sakit, rasanya semua mata tertuju pada saya. Masuk ke dalam lift pun, semua memandangi saya. Saya tidak suka.

Sampai di ruang persiapan operasi, saya diperintahkan untuk berbaring di atas tempat tidur. saya menerawang ke sekitar saya, suster sibuk mondar-mandir dengan papan chart pasien di tangan mereka. Dekorasi Natal terlihat hampir di seluruh bagian ruangan. Sedikit menenangkan hati, begitu saya berpikir saat itu. Ditambah lagi, lagu-lagu Natal mengalun di pengeras suara. Di sebelah saya, ada seorang wanita yang juga sedang dipersiapkan untuk memasuki ruang operasi. Tapi sepertinya wanita itu mengidap sakit yang lebih serius dari saya karena banyak sekali kabel bergantungan di dekatnya. Hiiiii...

"Hi there Miss Yetta. We're gonna prep you up before the surgery. In just a minute, anesthesiologist will come and check you up, okay," kata seorang suster. Setelah itu, dia menanyakan sedikit riwayat kesehatan saya sambil memakaikan penutup rambut ke kepala saya. Suster itu sangat ramah, berbeda dengan suster di kamar perawatan. She smiles a lot. I liked her.

"Hi there, Yetta. My name is Doctor Tan. I'm your anesthesiologist. I'll be putting a quite giant needle to your left hand now. It won't hurt at all."

And he wasn't lying. Entah karena perhatian saya teralihkan karena dokter itu super duper ganteng, atau karena dia sibuk mengajak saya berbicara dan bercanda selama dia berusaha mencari-cari pembuluh darah yang tepat di tangan saya, entahlah. Yang jelas, saya memang tidak meraskan sakit sama sekali. Tiba-tiba ada sebuah pipa yang menancap di tangan kiri saya. MagicallyWell, benar kata orang, pretty face surely able to distract you from any kinds of pain. Ha ha.

"Okay, we're gonna wait untill your doctor is here, than i'll push you to the surgery room. Relax," begitu dokter nan tampan itu membesarkan hati saya. Ditambah hiasan dan lagu Natal yang terus mengalun, sejenak saya tenang dan bisa mengatur nafas saya. Diam-diam saya berdoa dalam hati. Saya ingat saat itu saya seperti mengaku dosa dalam hati. Saya tahu, saya tidak banyak berdoa belakangan ini. Tapi saat itu, saya memohon agar Tuhan mendengar doa saya. Operasi itu harus berhasil, saya harus sehat, bebas dari tumor bodoh itu. Untuk pertama kali setelah sekian lama, saya menyerah pada kuasa Tuhan. Saya pasrah.

--01.30 PM

"Okay, your doctor is here, let's do this. Let's go." 

Sambil tersenyum Dokter Tan mulai menggiring saya menuju ruang operasi. Dalam perjalanan menuju ruang operasi itulah, dengan pandangan menatap langit-langit melewati lampu-lampu di plafon, hidup saya seperti terjadi dalam rangkaian slide show yang super cepat. Satu demi satu slide rekaman adegan demi adegan di sepanjang hidup saya sampai detik itu lewat di pikiran saya. Saya ingat sekali, momen waktu adik saya ulang tahun sewaktu kami masih kecil, tiba-tiba muncul di pikiran saya. saya ingat betul adegan kami sedang membuka kado bersama-sama. Isinya ternyata telepon mainan berwarna kuning. Aneh memang. Tapi itu yang terjadi saat itu. Kenangan-kenangan berserakan di kepala saya.

Perjalanan dari ruang persiapan ke ruang operasi tak sampai dua menit rasanya. Tapi terasa jauh lebih lama karena semua ingatan akan momen-momen terbaik saya dalam kehidupan muncul secara tiba-tiba. saya ingat, dalam hati saya berkata, "This is it. I can do this. I have to."

Akhirnya kami tiba di ruang operasi. Sayup-sayup masih terdengar lagu Jingle Bells di telinga saya. Dokter memindahkan saya ke meja operasi, merentangkan dua tangan saya ke dua panel panjang di sisi kiri dan kanan. Saya membuka mata, lampu operasi menyala terang di atas wajah. Silau sekali. Wajah saya terasa hangat, berbeda kontras dengan sekujur tubuh yang sangat dingin karena memang suhu di ruang operasi itu terasa dingin sekali.

"Okay, take a deep breath, Yetta. Relax. You'll be just fine," kata Dokter Tan yang ganteng itu sambil menaruh alat seperti mangkuk alat pernafasan menutupi mulut dan hidung saya. "Hmmm..wangi sekali uap bius ini," pikirku saat itu. Masih sadar. Saya melirik jam dinding, 01.40 PM.

"Why is it so cold in here,doc?." Itulah kalimat terakhir yang kuingat sebelum aku tertidur pulas tanpa mimpi selama dua jam.

--04.30 PM

Nafas dan detak jantung saya mulai stabil. Saya mulai sadar. Kepala saya masih berat, tapi sudah bisa berpikir dengan jernih. "Your surgery went well, Miss. everything is fine. In a moment you'll be transfered to reguler ward," kata suster ramah sambil berucap di dekat telingaku. Saya mengangguk lemah saat itu. Masih pusing tapi saya sudah sadar. "Can you make sure my Mom knows where i am, nurse?." Itu adalah kalimat pertama yang saya ucapkan setelah dua jam lebih berlalu sejak saya kehilangan kesadaran karena efek bius. "I think your Mom is outside, Miss. I'll make sure i'll tell her that you're already wake up."

Setengah jam berlalu, suster beranggapan saya sudah pulih dan siap dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Dan lagi-lagi dalam kondisi terbaring lemah, tempat tidur saya didorong menuju ruang perawatan. "Mama di mana?," cuma itu yang ada di pikiran saya saat itu. Saya belum melihat Mama sejak sebelum diboyong ke ruang persiapan sebelum operasi. Saat akhirnya tiba di ruang perawatan pun, Mama belum ada. I feel so helpless. Mereka memindahkan saya ke tempat tidur perawatan. Pipa yang disambungkan dengan infus saya lihat masih menempel di tangan. Suster lantas menyuntikkan beberapa cairan ke dalam pipa itu. Saya tidak merasakan apa-apa lagi, kecuali nyeri di bagian kanan dada.

"Ta..di sini kau rupanya. Udah selesai, ya...sehatnya kau." Ah, itu Mama. Dia datang sambil terus mengusap-usap dahi saya. "Sakit sedikitnya enggak apa-apa, ya," kata Mama sambil terus mengusap dahi saya, beralih mengusap pergelangan kaki sampai telapak kaki saya. Mungkin dia mengecek semua, apakah bagan tubuh saya masih lengkap.

Saya masih lemas sekali saat itu. Tante mengucapkan sesuatu di dekat telinga saya. "Bersyukur ya, Ta..semua udah lewat. Bersyukur," begitu kata Tante saya saat itu. Perasaan saya tak bisa saya kendalikan. Saya berusaha untuk tegar sepanjang hari itu. Saya berusaha mencerna semuanya dengan akal pikiran saya hari itu. Sejak pagi saya melakukan itu. Memilah-milah pikiran dan segala kemungkinan. Tapi menit itu, saya tahu, yang harus dilakukan memang hanya bersyukur.

Saya tidak memiliki cukup tenaga untuk berkata-kata. Tiba-tiba saya merasa sesuatu yang hangat muncul di pelupuk mata. Dan selama beberapa menit setelahnya, air mata tidak berhenti keluar dari mata saya. Menghapus airmata saja saya belum sanggup sangking lemasnya. Mama dan Tante menjadi saksi bahwa saat itulah saat terendah di hidup saya, betapa saya berserah pada kekuatan Tuhan, tak lagi mengandalkan kekuatan sendiri.  

That was my ultimate wake up call.

Momen itu mengubah hidup saya. Momen di mana airmata hangat mengalir deras tak henti dari mata saya. Momen di mana saya tahu, saya ada di sana hanya karena kuasa Tuhan, bukan karena kekuatan saya. Only by the grace of God.

I was healed.

--10 Januari 2014

Dua puluh dua hari sudah berlalu sejak hari itu. Perban masih menempel di payudara kanan saya sekarang. Ini adalah perban terakhir sebelum besok saya melepaskannya secara permanen. Saya sudah melihat bekas luka operasi saya. Dan saya senang, operasi itu meninggalkan bekas. Untuk mengingatkan betapa saya sudah melewati satu rintangan besar dalam hidup.

Kemarin, saya menerima email dari dokter yang mengoperasi saya. Email berisi hasil pemeriksaan laboratorium terhadap dua tumor yang diangkat oleh dokter. "I will send you the detail file. But i've read the result. It's non cancerous. You don't have to worry anymore. But in six months you have to check back." Dan untuk pertama kali dalam enam bulan terakhir, saya menarik nafas panjang dan berbisik, "Terima kasih, Tuhan."

Beban besar sudah terangkat dari tubuh dan jiwa saya. Dalam hati saya berjanji kepada diri saya sendiri, bahwa saya dan tubuh ini akan mencoba lebih kompak. Saya akan "mendengarkan" keluhannya, dan berhenti melakukan banyak hal yang bisa merubuhkannya lagi. Untuk kali pertama, saya benar-benar tahu bahwa saya harus berbenah dan berubah.

This past six months has been a tremendeously awfull experience for me. Full of pain, anxieties and constant worries. Tapi ada hikmah di balik semua hal, termasuk musibah ini. Saya tahu, ini adalah "alarm" terbaik yang diberikan Tuhan untuk saya. Untuk bisa berbenah, menata hidup yang terlalu berharga untuk disia-siakan ini. Saya masih punya segudang rencana, dan saya perlu untuk selalu menjadi sehat untuk bisa menjalani mimpi-mimpi saya.

Because the best is yet to come. 

But for now, what i have is enough.

:)

Yetta.






Senin, Desember 16, 2013

I Have Tumors

Sebenarnya, sudah enam bulan belakangan saya menyimpan kegelisahan saya ini. Awalnya, saya tidak mau bercerita ke banyak orang. Alasannya sederhana. Pertama, saya tidak mau dilihat dengan pandangan pilu. Hidup saya berubah 180 derajat sejak kejadian ini, dan saya tidak mau orang melihat saya berbeda. Karena saya tidak berbeda. Saya Yetta yang sama, meski dengan beban hidup berbeda.

Kedua, saya sudah mulai lelah bercerita berulang-ulang mengenai kondisi saya ini. Dan saya tidak mau ada prasangka buruk mengenai kealpaan saya di banyak aspek seperti pekerjaan dan aktivitas sosial sebagai akibat dari kondisi saya ini. Karena itu, lewat tulisan ini saya mau bercerita. Semoga ada yang cukup tertarik untuk menyimak kisah ini hingga akhir. Soalnya, lumayan panjang nih! :)

Jadi, begini ceritanya...

---
                  I Have Tumors.

--12 Juni 2013--

Hari itu tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Pagi, saya sudah duduk rapi di ruang tunggu medical check up RS. Siloam, Kebon Jeruk. Hari itu, saya dijadwalkan bertemu dengan dokter umum yang akan membantu saya membaca hasil ultrasonografi (USG) di kedua payudara saya. Ya, tiga hari sebelumnya, saya menjalani pemeriksaan ultrasonografi di tempat yang sama.

Sebelum saya melanjutkan cerita, saya ingin menjawab pertanyaan yang banyak dilontarkan ke saya. "Memangnya kenapa kamu tiba-tiba periksa USG? Emang sakit? Atau bagaimana?". Tidak. Secara fisik saya tidak sakit. Tapi memang selama beberapa tahun belakangan, saya merasa ada yang salah. Kalian tahu kan, ada saat di mana kita merasa ada sesuatu yang salah sedang terjadi di tubuh kita? Sekarang saya menyimpulkan bahwa rasa itu menjalankan fungsinya sebagai "alarm" pengingat untuk saya. Mengingatkan untuk berhenti sejenak dan merasakan lebih dalam.

Alasan lainnya, boleh saja dianggap klise, tapi saya adalah salah satu perempuan yang terkena "Angelina Effect", begitu majalah TIME menyebutnya di edisi dengan tampilan siluet Angelina Jolie di sampulnya. Angelina Effect tertulis sebagai headline utamanya. Sesaat setelah saya membaca surat terbuka dari Angelina Jolie yang diterbitkan oleh New York Times, saya sadar, surat terbuka itu adalah "alarm" saya. Bagi yang belum begitu paham, di pertengahan tahun ini Angelina Jolie mengguncang dunia dengan publikasi surat terbuka yang menceritakan bahwa ia menjalani operasi double mastectomy, pengangkatan kedua payudara demi mengurangi resiko kanker payudara yang secara genetik sangat membahayakan dirinya. Angelina Jolie mengambil keputusan yang tepat dari hasil deteksi dini yang dilakukannya. Dan pesan yang disampaikannya cukup membuat saya untuk mantap memeriksakan diri lebih dini.

--11 Juni 2013, sehari sebelumnya--

Saya sendirian tergeletak di atas tempat tidur ruang medical check up RS. Siloam, Kebon Jeruk, pagi itu. Saya benci rumah sakit. Sungguh. Jadi kenyataan bahwa saya tergeletak di sana menunggu dokter dan dikelilingi peralatan medis, sungguh menciutkan nyali saya.

Untungnya, tak berapa lama, dokter datang dan langsung melakukan ritual USG. Saya tidak berani melihat layar monitor. Saya tidak punya cukup keberanian. Saya tahu, there's something wrong. My gut tells me so, and i never doubted my gut.
Semenit, dua menit, dokter masih sibuk menempelkan alat USG di dada saya. And boom! She stopped at one spot for a few seconds, and there, i just knew it. Something's wrong.

Momen itu adalah 10 menit terlama dalam hidup saya. I'm miserable. Sendiri dengan setengah bagian busana terkuak, dingin dan takut. "Ada benjolan. Dua buah. Saya tidak bisa memutuskan. Mbak harus ketemu dokter lagi untuk penjelasan detailnya," ujar si ibu dokter yang tampangnya sungguh tidak membuat saya lebih tenang.

Dari rumah sakit, saya harus kembali ke kantor. Saya harus bekerja, padahal otak dan badan saya sudah tidak sinkron bekerjasama. Saya bingung. Bingung sekali. Dan kebingungan itu berlangsung sampai sehari setelahnya, sebelum akhirnya saya duduk berhadapan dengan dokter umum lagi di ruang medical check up RS. Siloam, Kebon Jeruk. Hari itu, hari yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya.

--12 Juni 2013--

"Mbak Yetta, ya? Kok mukanya tegang gitu? Tenang aja Mbak, kita coba pelajari sama-sama, ya. Semua penyakit ada obatnya." Begitu dokter cantik yang aku tidak ingat namanya itu mencoba membuka pembicaraan. Aku hanya tersenyum. Itu senyuman terakhir yang kutampilkan sepanjang hari itu karena apa yang dikatakan dokter cantik itu selanjutnya has completely CHANGED me.

"Ada dua benjolan, benar memang. Saya tidak bisa mendiagnosis sekarang, karena ada dokter spesialis yang lebih tahu soal ini. Dokter spesialis onkologi. Kami punya dr. Bernard, dr. ... bla..bla..bla.." Saya sudah tidak ingat dengan sisa kalimat dokter itu karena ingatan saya berhenti di kata "onkologi". Saya tidak terlalu paham istilah medis. Tapi saya penggemar berat serial Grey's Anatomy. Jadi saya tahu, onkologi means tumors and cancers. And at that point, i was falling apart.

Dokter memberi kalimat wejangan penuh pesan positif siang itu. Sayangnya, satu pun tidak ada yang hinggap dan menetap di kepala saya. "Saya bisa pastikan ini tumor. Dua buah. Dan ukurannya masing-masing sudah lumayan besar. Dua-duanya ada di payudara kanan," begitu dokter cantik itu menjelaskan. Saya cuma bisa diam. "Mbak Yetta tenang saja..," lanjut dokter itu lagi. I'm sorry, doc. But even your pretty face didn't seemed to calm me down. How in the world can i be calm?

Saya hanya berbincang sebentar setelah itu. Saya mendapatkan nama dokter spesialis onkologi sebagai referensi. Saya harus kembali lagi beberapa hari setelahnya untuk bisa berkonsultasi dengan dokter itu. "Everything's gonna be alright, Mbak," kata dokter itu. Kujabat tangannya dan setelahnya, yang ingin sekali kulakukan adalah lari sekencang mungkin. Tapi tidak mungkin.

Di taksi dalam perjalanan dari RS kembali ke kantor, saya sudah tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya. Berulang kali saya berbisik dalam hati, "Jangan nangis, Yetta..You can do this, you'll survive. Jangan nangis.." Dan setiap kali saya berbisik seperti itu, mungkin hati saya berontak. Jadilah saya menangis tersedu-sedu di taksi. Tanpa suara, meski saya yakin supir taksi bisa dengan jelas melihat wajah saya yang sudah penuh air mata.

Sungguh, saya tidak ingin menangis hari itu. Saya tahu, jarak dari RS ke kantor hanya maksimal 15 menit. I don't have enough time to weep. But i can't help it. Sekuat tenaga saya coba menahan, tapi mata saya sudah seperti Bendungan Katulampa di kala siaga banjir. Tidak bisa menahan luapan air yang akan keluar.

Sampai di kantor, untungnya masih sepi. Saya mencoba menjadi normal. Tapi sekali lagi, entah kenapa, saya tidak bisa. "Benteng pertahanan" saya runtuh hari itu. Diam-diam, saya nangis sejadi-jadinya di meja saya. Untung, tidak ada yang menyadari hal itu. Tapi menangis sejadi-jadinya dalam posisi menahan suara itu sungguh tidak enak. Semua terasa sesak. Air mata saya tidak berhenti.

Semua baru bisa terkendali ketika saya menarik nafas panjang, pergi ke toilet dan membasuh muka. "I need to get myself back together," begitu kata saya dalam hati. Untungnya, beberapa orang sahabat yang memang saya beritahu soal rangkaian pemeriksaan saya hari itu cukup menguatkan saya. Bercerita pada mereka adalah hal terbaik yang pernah saya lakukan karena beban saya terangkat separuhnya. Semua jadi terasa lebih ringan.

--14 Juni 2013--

Sudah satu jam saya menunggu dokter spesialis onkologi, tapi yang bersangkutan belum juga tiba. Padahal saya meninggalkan deadline di kantor demi datang ke sana. Ditambahblagi, saya tidak suka berlama-lama di ruang tunggu praktek dokter itu. Karena ke manapun saya mendengar, pembicaraan semua pasien di sana hanyalah seputar kanker. Saya sendiri hari itu dan saya takut.

Sampai akhirnya tiba giliran saya dipanggil. "Maaf ya Mbak, saya habis operasi jadi bikin lama menunggu. Saya sudah baca hasil USG Mbak Yetta. Benar, itu tumor. Dan saya tidak bisa memberi rekomendasi apapun selain operasi. Tumor itu harus diangkat dengan operasi SEKARANG karena kemungkinan dia mengecil tidak ada. Semakin lama menunggu, semakin besar. Persoalan yang menentukan adalah, apakah Mbak sudah siap?."

Jawaban hati saya saat itu tentu saja tidak siap. Semua terjadi terlalu cepat. Semua proses sejak saya check up sampai hari itu belum genap seminggu. Semua terlalu cepat. I can't think. Saya bingung. Tapi saya salut dengan dokter itu, karena as a normal human being, saya yang mungkin terlalu control freak ini sudah meng-google sendiri penyakit saya. Dan setumpuk kertas saya diskusikan dengan dokter itu dan dia sabar menjawab semua pertanyaan sok tahu saya. Tapi tetap, jawabannya hanya satu, "Harus dioperasi, Mbak. Setelah diangkat nanti kita bisa bawa ke patologi, bisa diobservasi, apalah ada kemungkinan kanker atau tidak." WHAT??!!!?.

Beberapa hari setelahnya pun, saya anxious, cemas, tidak bisa berpikir dengan baik, bingung. What should i do? Dan sampai detik itu pun, saya belum bercerita pada keluarga saya. Tidak satupun. Saya tidak tahu bagaimana menyampaikan berita ini tanpa menangis rasanya. Dan sampai saya bisa mengontrol emosi saya, saya memutuskan untuk menyimpan kondisi saya ini hanya kepada empat orang teman dekat saya.

Sejak dulu saya terbiasa melakukan banyak hal sendiri, termasuk menyimpan dan menyelesaikan masalah. Saya sudah terpisah dari orang tua saya sejak saya merantau di usia 17 tahun. Itu berarti, sudah 13 tahun saya hidup mandiri, terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Malah terkadang terlalu mandiri. Saya punya kesulitan untuk curhat sana-sini dengan mudahnya. Jadi, sedikit-sedikit, semua masalah saya hadapi sendiri.

Kembali ke soal dokter, saya tidak puas dengan jawaban dokter itu. Hari berlalu, saya habiskan dengan riset dokter terbaik di Jakarta yang menangani kasus seputar tumor, kanker dan bedah payudara. Dan satu nama dokter akhirnya saya temukan. Untuk mencari waktu pertemuan dengan dokter yang bersangkutan (yang sengaja tidak saya publish namanya), rasanya hampir sama dengan mengatur janji wawancara dengan presiden. Dia praktek di nyaris 6 RS ternama di Jakarta dan semua sudah fully booked. Bahkan ada satu RS yang baru bisa melayani request saya untuk konsultasi dengan beliau minimal 2 bulan ke depan. Tapi dengan segala cara dan upaya memelas, akhirnya saya mendapatkan jadwal di sebuah RS di bilangan Gatot Subroto, Jakarta, dua minggu kemudian.

Lagi-lagi, saya sendiri saat menunggu giliran menemui dokter. Di sebelah saya, ada seorang ibu ditemani anak lelakinya yang sudah remaja. Dia lebih dulu dipanggil. Saat keluar ruangan dokter, ibu itu sudah menangis dan kemudian duduk di samping saya lagi. Anak lelakinya memeluk sambil bertanya, "Gimana, Ma?". Dan si ibu menjawab. "Iya. Harus diangkat." Dan si ibu terus menangis pelan di pelukan anaknya. Makin deg-degan lah saya. Harapan saya cuma satu, bahwa akan ada opini berbeda. Bahwa magically, atau dengan kekuatan bulan ala Sailormoon, tumor ini akan hilang dan semua diagnosis dokter sebelumnya, salah.

Ternyata, saya yang salah. "Benar. Ada dua tumor di payudara kanan Anda. Dengan track record kanker di keluarga Anda, kita harus lebih waspada. Saya tahu semua berjalan terlalu cepat untuk Anda. Tapi memang harus dioperasi. Harus diangkat. Tapi saya mengerti kecemasan Anda. Tapi ingat, Anda masih muda. Jadi saran saya, enam bulan lagi datanglah ke sini dan kita observasi lagi. Sambil Anda mempersiapkan mental," kata dokter tersebut.

Entah kenapa, hari itu saya lebih tenang. Mungkin karena saya sudah siap. Jadi tidak seterkejut waktu pertama kali. Saya bisa berpikir. Dan keputusan saya cuma satu waktu itu. I need to stop for a second and speak to my family about this.

--6 Juli 2013--

Semua anggota keluarga saya yang di Jakarta sudah berkumpul di rumah. Adik lelakiku, si anak nomor dua dan istrinya, ditambah adik lelaki si bungsu, anak nomor tiga. Empat orang kami duduk di ruang tamu dan aku mencoba menjelaskan secara detail dan berurutan mengenai penyakit menyebalkan ini. Dan reaksi pertama mereka adalah diam. Ya, sama saja dengan reaksiku. Lagi pula, what's left to say?

Saat itu, saya pun mengungkapkan rencana saya untuk pulang ke Medan, menjelaskan semua secara langsung ke Mama dan Bapak. Saya sadar, saya tidak bisa menjelaskan kabar seperti ini hanya lewat telepon. Saya harus pulang. Kalau Anda mengenal orang tua saya, Anda akan mengerti. Mendengar salah satu anaknya demam saja, Mama saya bisa histeris. Apalagi ini.

Selain itu, saya juga mengungkapkan rencana untuk melakukan pemeriksaan (lagi) di negeri jiran. Saya mengambil keputusan itu dengan sadar. Secara mental dan emosional, saya lebih siap untuk ditangani dokter di sana. Ditambah lagi, biayanya jauh lebih murah. Jadi rencana saya waktu itu, saya pulang ke Medan, memberitahu orang tua dan keluarga, lantas terbang lagi ke Penang, Malaysia. Dan adik-adik saya sepakat dengan keputusan saya itu.

--Seminggu setelahnya--

Saya pulang. Tapi semua terasa berat. Saya ingat mengupdate status di path saya yang bertuliskan, "Pulang tidak pernah terasa seberat ini..." Dan memang itu yang saya rasakan. Satu jam perjalanan menuju airport, satu jam menunggu di waiting room, dua jam di perjalanan dalam pesawat, satu jam lagi perjalanan dari airport Kualanamu ke rumah, saya sibuk mereka-reka, merangkai kata. What to say? How to say it without making everyone panic?

"Kenapa kau pulang? Cuti? Atau tugas?," begitu pertanyaan yang dilontarkan Mama dan Bapak saat saya tiba di rumah. Saya cuma menjawab, "Ya, pengen pulang saja." Mama masak makan siang hari itu dan saya memutuskan untuk menikmatinya terlebih dahulu. Saya mengirim pesan singkat ke tante yang tinggal hanya 3 rumah dari rumah, untuk datang. Setelah makan siang, saya ajak mereka: Bapak, Mama dan Tante ke ruang tamu. Dan saya pun mulai bercerita sambil membentangkan foto-foto hasil USG.

Sekuat hati saya menahan air mata sambil terus menjelaskan. Tapi suara saya tidak bisa berkompromi. Terputus-putus dan tidak lantang. Pertanda saya menahan emosi dan air mata. Sepanjang penjelasan itu, saya tidak berani menatap mata Mama, karena one single glimpse pasti akan membuat air mata saya banjir.

"Jadi begitulah kondisinya. Secara fisik aku enggak sakit. Enggak terasa sakit sama sekali. Tapi, yah, begitu keadaan di dalam badanku," begitu aku mengakhiri penjelasanku siang itu. Setelah itu kuberanikan diri menatap Mama dan Bapak. Bapak was as though as a solid rock. Dia tidak bereaksi sama sekali. Tapi saya kenal Bapak saya. Karena saya fotokopi Bapak saya. Yang selalu mencoba terlihat tegar, tapi hancur di dalam. Saya melihat itu dengan jelas saat itu. Tidak butuh mata Superman yang bisa melihat menembus tubuh, saya melihatnya di mata Bapak hari itu. Beda dengan Mama. As i predicted, dia langsung menangis. "Dulu kau bilang memang mau periksa, tapi udah pernah kutanya, gimana hasilnya, kau bilang baik-baik saja. Kenapa sekarang begini??," kata Mama sambil terus terisak.

Saya membiarkan Mama tenggelam di tangisnya. Sampai dia tenang, saya akan menjelaskannya. It took a while and then she was able to manage her emotions. Saya menjawab semua pertanyaannya dengan lugas. Apa keputusan dan pilihan yang saya ambil, semua saya bagi pada mereka. Saya juga mendelegasikan tante saya untuk mengabarkan ke empat tante saya yang lain dan satu om.

Tumbuh besar, saya dikelilingi 6 tante (saudara perempuan Mama) dan satu om (saudara lelaki Mama). Kami sangat dekat. Berbeda dengan sisi keluarga Bapak saya. Sepanjang hidup, saya selalu menganggap selain Mama, saya punya 6 "Mama" yang lain. Satu tante saya meninggal dunia pertengahan tahun lalu karena kanker rahim, satu lagi pindah ke Bandung. Jadi saat itu, hanya 4 orang tante yang masih tinggal di Medan. Om saya tinggal di Jogjakarta.

Saat itu saya baru menyadari, apapun dan bagaimanapun keadaannya, bahkan saat kau berada di titik terendah kehidupanmu, keluarga lah yang akan selalu berada di sampingmu. Keluarga. Dan hanya berselang satu jam setelah tanteku mengabarkan berita itu ke tante yang lain, semua sudah berkumpul di ruang tamu rumah. They leave everything behind and went straight to see me. Meski rasanya seperti "terdakwa" dikelilingi pertanyaan tak henti dari mereka, hari itu saya bertekad menjelaskan semua ke semua orang. Jadi semua pertanyaan saya jawab. At least saat itu saya benar-benar tahu rasanya artis kalau lagi konferensi pers. Ha ha ha.

Saya tahu mereka khawatir. Tapi saya tidak tahu caranya meredakan kekhawatiran itu. Saya punya jawaban atas segala pertanyaan mereka berkaitan dengan kondisi medis, tapi jika soal rasa dan emosi, saya sendiri bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dibilang tegar, kenyataannya saya bertambah cengeng setelah tahu soal penyakit ini. Tapi saya mencoba selalu tersenyum. Tapi itu hanya bertahan sementara, karena di dalam, saya memang sudah hancur.

Berhadapan dengan orang tua dan keluarga, pikiran saya cuma satu waktu itu. Kenapa saya tidak berhenti membuat mereka khawatir? Seharusnya saya sekarang sudah bisa membahagiakan mereka dan memberikan banyak kabar baik. Instead of, saya membawa kabar buruk! Tapi, saya harus bagaimana lagi? Tidak mungkin, kan, kalau saya menyimpan ini semua lebih lama? Maka hari itu saya mencoba mencerna semua lebih dalam. Saya mencoba sebisa mungkin memilih kata-kata terbaik yang bisa mendamaikan hati saya dan hati mereka semua. Dan saya rasa hari itu berawal buruk dan mengejutkan, tapi berakhir tenang.

Dua hari setelahnya, saya dan Mama terbang ke Penang, Malaysia. Saya ingat sekali pesan Mama waktu menunggu pesawat. "Enggak mungkin kami enggak mikirin. Setiap hari kami mikirin kalian. Bapak itu kelihatannya aja seperti itu. Tapi dalam hatinya juga dia yang paling khawatir." Dan saya hanya diam.

Konyolnya, dalam kondisi "genting" seperti itu pun, pikiran saya tidak bisa lepas dari kantor dan pekerjaan. Saat itu, saya memang memutuskan untuk meninggalkan kantor dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Saya butuh berhenti sejenak dari deadline, dari tugas liputan, dari lay out, dari foto, dari semua. Saya harus "bernafas" tenang dan memutuskan hal terbaik. Di satu titik, jujur, saya sempat berpikir bahwa pekerjaan yang gila-gilaan selama enam tahun belakangan lah yang menyebabkan ini semua. Saya mengabaikan kondisi tubuh saya. Saya menghiraukan berbagai "tanda peringatan" dari tubuh saya. Saya membiarkan fisik dan mental saya "dilahap" oleh pekerjaan saya.

Karena itu, saya harus "berhenti" sejenak dan mengutamakan kesehatan saya. Sulit untuk menjelaskan kondisi saya ke banyak teman di kantor yang sudah saya anggap keluarga. Tapi seperti yang saya ungkap di awal tulisan ini, saya tidak mau orang berubah melihat saya. Saya bukannya mau rahasia-rahasiaan, tapi memang saya hanya bercerita pada beberapa sahabat di kantor. Dan kepada mereka pun saya wanti-wanti untuk tidak bercerita lebih banyak. Saya belum siap. Saya belum siap dilihat dengan tatapan nanar penuh iba. Saya tidak mau semua berubah. Saya tetap Yetta yang sama.

Beberapa orang sudah mengetahui kondisi saya ini. Dan beberapa masih mencoba menebak-nebak. Dan itulah tujuan saya menuliskan kisah saya ini. Agar semua bisa jelas dipahami oleh semua orang. Kenapa saya menghilang, kenapa saya mencoba menutupi semua, kenapa saya mencoba tetap menjadi saya. Seorang sahabat kemudian mengingatkan saya untuk berpikir positif. Bahwa ketika orang banyak bertanya, semua tak semata-mata karena keingintahuan mereka, tapi juga karena kepedulian dan rasa sayang mereka terhadap saya. Dan saya melihatnya seperti itu sekarang. Karena alasan itu pula saya menuliskan cerita ini.

--Penang, Pertengahan Juli 2013--

Melihat dari kartu namanya, dokter ini jurusan Irlandia dengan spesialisasi breast and endocrin. Dan itu cukup membuat perasaan saya tenang pagi itu. At least he knows what he's doing. Kalau di Indonesia, cabang spesialisasi dokter yang menangani urusan seperti saya, disertakan di spesialis onkologi. Artinya, semua tumor dan kanker jenis apa saja. Dan dokter ini, benar-benar hanya berkutat di breast and endocrin.

"You have what we called fibro adenoma. It's not severe, but u have two lumps. It's not gonna get smaller. We have to do a surgery to get rid of the tumors. From my observation, i can assure you that it's not cancer. But still, they are tumors," begitu dokter menjelaskan ke saya. Secara spesifik, saya meminta dokter berbicara dan menjelaskan ke saya dalam Bahasa Inggris. Bukan karena apa-apa, tapi saya tidak mau Mama saya yang menemani di ruang periksa menjadi heboh dan panik. Jadi lebih aman kalau dia mengetahui detailnya dari saya saja. Jadi waktu dokter menawarkan, "I can explain this to you and your Mom in Bahasa Melayu," saya langsung menjawab, "No, please doc, in English."

Setengah jam lebih saya ada di ruang dokter itu. Membahas segala kemungkinan baik dan buruk. He can smell my anxieties. "It's not because of the food. Although, when you get older, you need to carefully watch your food. But that's not it. It's all in the mind. You need to rest. This all caused by stress, tensions and pressures. Your body can't handle it. So the tumors grews faster. You need to relax, don't think too much. You need a rest. What's your job anyway?," si dokter bertanya. "I'm an editor and i'm a journalist," begitu aku menjawabnya. Karena memang saat itu aku masih menjadi editor. "Okay, now i know. Deadlines after deadlines, right? You need to stop," kata dokter sedikit bercanda.

But in that moment, i knew, he wasn't kidding. I do need to stop. Saya harus menanggapi "alarm" tubuh saya ini dengan serius, dan saya harus berhenti sejenak. Pekerjaan sudah melumat kondisi tubuh saya. And because of that, a week after that day, i told my boss that i wanted to resign from editor position. Saya meminta mundur dari jabatan itu, jauh sebelum banyak drama kantor terjadi tak lama setelah itu. Tapi sudahlah, itu cerita lain di kisah yang lain nanti..

Dokter lantas mengajukan beberapa opsi. Saya tidak akan bercerita detail tentang kelanjutan diagnosa dan observasi hari itu. Tapi saya tenang. Dengan dokter yang kooperatif, saya bisa berpikir jernih. Jadi hari itu, saya dan dokter memutuskan untuk menunggu. Enam bulan. Dengan catatan, setiap bulannya saya wajib lapor by email mengenai update kondisi saya per bulan supaya tetap bisa diobservasi oleh dokter. Dia memberikan alamat email pribadi dan nomor telepon genggam pribadinya. Di bulan kelima, dia akan memberikan rekomendasi terbarunya.

"I know this all came too fast for you. But you have to thank God because you knew it and you have them checked earlier. That is something that many women didnt have the nerves and courages to. You need to stop and observes. You need to set boundaries for your body. I'll see you on December," begitu kata dokter. And, man, you don't know how relieved i am that day. Tumor masih ada, masih di sana, menggerogoti, tapi semangat saya pun masih belum mengendur. Saya tahu, saya pasti bisa melewati semua ketakutan ini.

--Pertengahan November 2013--

"Okay. You come here on December 17th, and i'll have you rechecked and we're doing the USG again. After that, you'll stay at the hospital and I will scheduled the surgery on December 19th."

Begitu isi pembicaraan terakhir dokter dengan saya di email terakhir yang saya terima di pertengahan November. Memang keadaan tidak lebih baik. Setiap hari selama enam bulan terakhir, saya terbangun di pagi hari berharap tumor ini akan lenyap begitu saja. Tapi setiap pagi saya merabanya, mereka masih di sana. Dan setiap pagi pula saya terbiasa menghela nafas panjang sebelum turun dari tempat tidur.

Keadaan memang tidak menjadi lebih baik. Semakin hari, saya bisa semakin merasakan keberadaan tumor ini semakin mengganggu saya. Saya tidak bisa tidur nyenyak jika bertumpu ke sisi sebelah kanan. Setiap beberapa jam, terutama jika dalam kondisi lelah, saya merasakan denyutan dan nyeri konstan. Artinya, secara fisik, saya mulai terganggu. Dan dari beberapa kali konsultasi via email dengan dokter di Penang, saya tahu, bahwa pada akhirnya, operasi adalah jalan terbaik.

--16 Desember 2013, 3 hari sebelum operasi--

Saya tahu, setiap tindakan operasi, apalagi rencana operasi ini termasuk tidak ringan, pasti memiliki resiko. Saya, yang selalu over think ini pun sudah mempersiapkan berbagai skenario, dari yang baik sampai yang terburuk sekalipun. Sampai detik ini pun saya masih cemas dan diliputi kekhawatiran. Saya tahu saya harus berpikir positif, and i'm trying to, believe me. Tapi banyak pikiran dan kemungkinan terburuk masih menggantung di kepala saya. Dan saya janji, saya akan berusaha keras mengeyahkan semua.

Saya menuliskan ini bukan untuk pamer atau mencari perhatian. Meski banyak yang menganggap saya aneh, tapi menulis adalah terapi terbaik untik saya. Sejak lama saya sudah menyadarinya. Banyak orang memilih untuk belanja, makan, memotret, berolahraga, semua demi terapi jiwa masing-masing. Tapi saya selalu menganggap bahwa menulis menyembuhkan saya. Writing is my ultimate theraphy. Selain traveling, tentu saja. But writing is instant. I can do it anywhere, anytime. And that's what i'm doing right now.

Banyak yang berubah dari diri saya selama 6 bulan terakhir. Saya belajar untuk lebih menikmati hidup. Tertawa lebih keras bahkan untuk gurauan yang tak terlalu lucu. Tertawa sampai mengeluarkan air mata. Menghabiskan lebih banyak waktu bertemu keluarga dan menjalin komunikasi lebih intens dengan Mama dan Bapak dan keluarga lain yang terpisah jarak. Belajar menikmati pekerjaan dan memulai ritme baru yang lebih menyenangkan. Mencoret satu per satu daftar mimpi dalam bucket list (yang terbaru adalah camping dan menjelajah hutan. thanks guys!). Mencoba berhenti beberapa menit dalam satu hari untuk menarik nafas panjang dan bersyukur. Mencoba mengamati semua fenomena keseharian dengan teman-teman, dengan lingkungan sekitar lebih baik dan lebih detail lagi. Saya mengamini satu istilah: YOLO: you only live once. So, enjoy it!

Semua hal itu yang memampukan saya menjalani 6 bulan terakhir. Ketakutan akan selalu ada. Tapi saya yakin, there's a rainbow everytime the storm passes. Tiga hari lagi, saya akan dijadwalkan untuk operasi pengangkatan dua tumor saya. Saya pasrah. Karena saya tahu, apapun yang terjadi, I HAVE LIVE MY LIFE TO THE FULLEST.

And i'm not planning to stop!  :)

So, i guess i'll see you guys around after the morphine runs out..haha!

I love each and everyone one of you..terimakasih sudah menambah cerita baru dalam setiap hari saya. If it wasn't for you guys, i wouldnt have made it untill now.

-Yetta-









Kamis, Oktober 24, 2013

Aku dan Hujan

Hujan selalu mengingatkanku padanya. Selalu. Seperti sore ini, saat hujan turun mendera tanpa ampun membasahi tanah ibukota ini, aku mengingatnya. Mengingat suatu sore serupa di sebelah utara Jogjakarta. Sore itu, aku bersamanya. Tak kuingat persis berapa tahun sudah berlalu sejak sore itu. Mungkin sepuluh tahun lalu. Tapi sore itu istimewa, karena aku bersamanya, lelakiku.

Konyol memang, apa yang dilakukannya padaku sore itu. Tapi entah kenapa, setiap hujan turun, kejadian konyol itu yang selalu kuingat. Sore itu, dia, lelaki yang menghiasi hari dan hatiku bertahun-tahun lalu itu, terjebak hujan lebat. Dan dia pun terjebak denganku dan dengan hujan. Tapi diam-diam, aku berterimakasih pada hujan, sudah menjebakku dan menambahkan atmosfer sempurna sore itu. Bahkan rasanya, settingan sinetron pun kalah indah dengan yang kami alami sore itu.

Hujan deras, tapi kami harus pulang. Belum ada sepeda motor, belum ada mobil. Uang di saku hanya cukup membawa kami pulang dengan becak. Apa boleh buat, daripada terjebak dengan air hujan yang tak kunjung berhenti, ditambah dingin yang semakin menusuk tulang, kami memutuskan untuk menaiki becak. Baru saja berpikir tentang becak, sebuah becak lewat. Dengan baik hati bapak pengemudi becak yang sudah tua renta itu berhenti dan bersedia membawa kami berdua. Aku dan dia.

Tapi kondisi jalan yang basah, jarak pandang yang terbatas, membuat pengendara becak yang sudah renta itu terlihat kesulitan meminggirkan becaknya. Ketika akhirnya dia berhasil menepikan becaknya, kami berdua berusaha menaiki becak dengan susah payah. Saat itulah kejadian konyol itu terjadi. Saat kami berdua serentak menaiki becak, entah bagaimana dan apa yang terjadi, becak itu seketika terbalik!

Sungguh aku tak berbohong. Becak itu terbalik dan menimpa kami berdua! Untung, karena tak seluruh beban becak menimpa tubuh kami. Dan saat itu hujan masih turun dengan lebatnya. Terduduk di sana, di pinggir jalan raya di sudut utara kota Jogja, dengan becak menimpa kami. Kulihat wajahnya yang berada di sampingku yang terlihat panik melihat becak menimpa tubuh kami. Tak hentinya dia berteriak padaku berulang-ulang menanyakan apakah aku baik-baik saja.

Reaksi pertamaku tentu saja malu dan mau marah, tapi kulihat wajahnya, wajah lelakiku itu, tak bisa kupikirkan hal lain yang harus kulakukan selain tertawa. Menertawakan kami, menertawakan becak yang menimpa tubuhku, menertawakan hujan yang tak kunjung reda, menertawakan pengguna jalan lain yang juga terheran-heran melihat kami. Tapi yang terutama, aku ingin menertawakan momen itu, dengannya. Kembali aku memandangnya dengan senyum. Aku tahu saat itu dia bisa membaca pikiranku yang berkata, "Aku enggak apa-apa. Kita lucu sekali". Aku benar, karena dia pun langsung tertawa usai melihat wajahku. Kami puas tertawa sore itu meninggalkan bapak pengendara becak yang kebingungan.

Akhirnya becak itu diangkat dari tubuh kami. Lelakiku memapahku berdiri. Saat benar-benar kakiku menjejak tanah, aku mendongak dan melihat wajahnya sekali lagi yang ada persis di hadapanku. Kuberikan senyum terbaikku padanya. Hatiku berkata saat itu, "Aku mencintai lelaki ini". Walau tak kuucapkan. Dia, lelakiku ini, tahu persis cara kerja tubuh dan pikiranku. Jadi aku tahu, sore itu, dia tahu apa yang kupikirkan. Dia merentangkan tangannya dan langsung memelukku. Hujan boleh saja terus mendera tubuhku, dingin tak berhenti menusuk kulitku, tapi dalam pelukannya, tak ada yang lain selain kehangatan. Meski sedetik kemudian dia melepaskan pelukannya karena menyadari bapak pengendara becak kami sudah memperbaiki becaknya untuk dapat kami naiki.

Akhirnya kami duduk di becak itu. Berdua, kami berhimpitan di dalam becak. Dia merangkulkan lengannya melingkar di punggungku, seperti menjagaku untuk tetap nyaman dan hangat. Kami berdua basah kuyup, tapi dingin tak kurasakan lagi. Semua berganti hangat. Kusandarkan kepala ini ke dadanya sambil menunggu bapak pengendara becak menutup terpal plastik di hadapan kami agar terhindar dari terpaan hujan dari bagian depan.

Aku tahu, pastilah rupaku tak karuan sore itu. Basah kuyup, plus bibir yang nyaris membiru karena kedinginan. Tapi aku tak berhenti tersenyum sembunyi-sembunyi sambil terus menempelkan kepala dan wajah ini di dadanya seakan mencari perlindungan. Tak sekalipun aku berkata-kata sore itu. Aku aman di pelukannya, di antara lengan dan bahunya yang kokoh. Aku aman.

"Kau enggak apa-apa?," tanyanya lagi sambil memandang wajahku. Aku mendongak dan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Saat itulah dia menatapku tajam dan tiba-tiba mendaratkan kecupan di keningku. Lelakiku, lelaki paling tidak romantis di dunia ini, sore itu meluluhkan hatiku. Setelah itu dia tak berkata apa-apa lagi sampai kami tiba di tujuan. Tak sekalipun dia melonggarkan pelukannya, dan tak sekalipun pula aku melepaskan kepalaku dari dadanya. Rasanya, aku ingin selamanya ada di dalam becak itu.

Di tengah hujan, di bilik becak yang sempit itu, aku menemukan kebahagiaan seluas samudera. Saat itu aku tahu, lelaki ini pun mengasihiku. Tak perlu kata-kata puitis dan romantis atau seikat bunga mawar. Hanya pelukan erat tanpa henti dan satu kecupan, dia sudah melakukan segalanya.

Karena itulah aku selalu mengingatnya, mengingat lelakiku setiap hujan turun. Di belahan bumi manapun aku berpijak, setiap hujan turun, pikiran ini langsung bertolak ke sore itu, di pinggir Ring Road Utara Jogjakarta yang diterpa hujan deras. Meskipun sekarang sudah lima tahun berlalu sejak kami sepakat mengakhiri kisah sewindu yang kami lewati, meski kini aku tak lagi berbicara dengannya, tak lagi tahu bagaimana keadaannya, meskipun dia sudah berbahagia dengan istri dan anaknya. Meskipun aku tetap di sini, sendiri. Tapi setiap hujan turun, aku akan selalu mengingat sore itu.

Sore terbaikku dengan lelakiku kala itu...

Karena itulah, aku selalu suka hujan...

Rabu, Juli 17, 2013

Hari Itu, di Père Lachaise Cemetery…




Saya sangat ingin menikmati kesunyian saat ini. Sekarang semua terlalu “bersuara”, mengganggu telinga..Terlalu riuh, terlalu ricuh…

Saya ingat beberapa bulan lalu, saya menginjakkan kaki di kota Paris. Di saat semua orang berlomba mengabadikan foto di Menara Eiffel (yang juga saya lakukan), saya dan rekan seperjalanan saya memutuskan untuk mengunjungi pemakaman. Bayangkan, kami menempuh perjalanan dari Jakarta ribuan kilometer jauhnya, dan kami memutuskan untuk datang dan berkunjung ke pemakaman.

Père Lachaise Cemetery namanya. Penduduk asli Prancis akan menyebutnya Cimetière du Père Lachaise. Pemakaman ini adalah salah satu pemakaman paling luas di kota Paris, memakan lahan seluas 44 hektar.
Jangan langsung membayangkan pemakaman di Indonesia, yang seringkali lebih menonjolkan unsur kengerian. Bukan tidak nasionalis, hanya saja saya pikir bangsa Barat lebih memahami konsep pemakaman sebagai memorial, tempat mengingat dan mengenang kehidupan sesorang dengan cara yang baik, bukan dengan menakut-nakuti dengan cerita dan atmosfer super seram.

Père Lachaise Cemetery berada di 20th arrondissement. Mungkin kalau di Indonesia, arrondissement itu seperti kecamatan, lah.  Di Paris, “kecamatan” itu diberi julukan arrondissement. Di Paris, terdapat 20 arrondissement.

Tak sulit menemukan lokasi Père Lachaise Cemetery. Saking luasnya, pemakaman ini memang bisa diakses dari beberapa pintu masuk yang langsung terkoneksi dengan jaringan transportasi, terutama Paris Métro (kereta api bawah tanah-nya Paris). Saat itu kami memutuskan untuk turun di stasiun Père Lachaise dan berjalan kaki sekitar 500 meter menuju pintu masuk Père Lachaise Cemetery.

Saat memasuki gerbang pemakaman, memang kesan misterius dan “gelap” langsung terasa. Tapi tidak menyeramkan. Untungnya saat itu tengah musim gugur. Pepohonan sedang indah-indahnya berhiaskan dedaunan berwarna cokelat keemasan dan satu per satu daun-daun itu lepas dari rantingnya saat angin kencang berhembus. Pas. Pemandangan yang sempurna.

Pemakaman ini terlalu luas untuk sekedar dijelajahi tanpa arah. Karena itu, di setiap sudut terdapat peta yang bisa mengarahkan pengunjung. Saat melihat daftar pemakaman, jangan heran, karena banyak nama tersohor yang dimakamkan di sini. Pemakaman ini seakan menjadi saksi keagungan Prancis selama 200 tahun belakangan. Nama-nama hebat yang tertera di daftar nisan membuat saya terkagum-kagum. Seumur hidup, belum pernah saya setakjub itu saat mengunjungi pemakaman.

Mereka yang dimakamkan di Père Lachaise Cemetery adalah orang-orang yang secara langsung atau tidak langsung memberi warna dan kontribusi terhadap Prancis dan dunia. Dari penyair, pahlawan perang, politikus hingga rocker. Semua terbaring damai di pemakaman yang kabarnya memuat nyaris satu juta nisan.


Saya memandangi satu per satu nisan yang saya lewati. Tak ada rasa takut, malah damai. Tepat di saat itu, konsep saya tentang kematian berubah 180 derajat. Kalau di pemakaman di dunia saja bisa terasa indah seperti ini, bagaimana nanti “di alam sana”? Entah kenapa, saya yakin, "di sana" nanti tidak mungkin lebih buruk dari ini.




Sesekali saya berhenti di nisan yang sepertinya baru saja dikunjungi. Di sana-sini masih terlihat bunga segar di sekitar nisan. Nisan-nisan dan pemakaman yang ada di sini pun tidak biasa-biasa saja. Kebanyakan dari mereka dibangun dengan megah, bahkan ada yang bak istana. Tapi entah kenapa, tidak terkesan berlebihan. 
Mungkin karena selera bangsa Eropa yang sangat artistik.

Saya tiba di salah satu makam paling penting di Père Lachaise Cemetery. Tak susah menemukan makam ini saat itu. Dari kejauhan saya sudah mendengar sayup-sayup musik mengalun. Saat itu saya tahu, saya telah menemukan makam Jim Morrison, pentolan grup band The Doors yang tersohor itu. Jim Morrison sebenarnya asli Amerika Serikat. Namun ia meninggal dunia di Paris pada 3 Juli 1071 di usia 27 tahun dan dimakamkan di sini.


Saat saya tiba di sana, seorang fans fanatiknya mencuri perhatian saya. Dia, pria itu, yang memasang musik The Doors saat itu. Berbekal ipod dan ipod dock, dia memutar lagu-lagu The Doors sambil menghembuskan gelembung-gelembung sabun di sekitar makam sang idola. Saya yakin, pria itu sangat mencintai karya-karya Jim Morrison. Ia tak peduli banyak orang memandanginya dengan raut penuh tanda tanya. Ia ikut bernyanyi melantunkan lagu demi lagu sambil terus menghembuskan gelembung-gelembung ke udara. Mendengar suara Jim Morrison bernyanyi tepat di depan makamnya saat itu, bulu kuduk saya berdiri. Bukan karena takut, tapi saya (lagi-lagi) takjub.

Sayang, sudah beberapa tahun belakangan ini makam Jim Morrison harus dipagari dengan pagar-pagar besi, berbeda dengan makam lainnya. Maklum, keluarga ingin melindungi makam Jim dari sejumlah ritual “aneh” dan vandalisme berlebihan dari penggemar fanatiknya.

Jim Morrison bukanlah satu-satunya pesohor yang dimakamkan di Père Lachaise Cemetery. Ada Frédéric Chopin, sang komposer terkenal itu. Ada pula makam Oscar Wilde, pujangga kenamaan dunia, dan ribuan makam lain.

Berat rasanya melangkahkan kaki keluar dari Père Lachaise Cemetery. Saya belum pernah mengunjungi pemakaman lain di luar Indonesia. Ini baru kali pertama. Tapi entah kenapa, saya rasa akan sulit mengimbangi keindahan Père Lachaise Cemetery. Perjalanan singkat saya ke Père Lachaise Cemetery mengajarkan saya banyak hal. Tentang kehidupan dan tentang kematian. Tentang kenangan, tentang legacy, tentang warisan. Tentang ketenangan, tentang “berhenti” sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan bersyukur. Tentang melapangkan hati, tentang menenangkan jiwa, tentang nostalgia.

Dan yang terpenting, tentang ikhlas…
   

Minggu, Juni 23, 2013

Membungkus Duka dengan Tawa

Sepekan lalu, aku berpapasan dengan seorang rekan kerja. Kami bekerja di kantor dan ruangan yang sama. Jadi setiap harinya, pasti dia hapal betul tingkah lakuku, dan sebaliknya. Siang itu, kami berpapasan di kantin saat jam makan siang. Begitu melihatku, dia langsung berkata, "Ih, enak banget ya jadi Yetta ini. Selalu terlihat bahagia, ceria. Kayaknya enggak pernah susah. Pengen deh kayak Yetta."

Saat itu, reaksiku bisa saja. Dengan ringan kujawab, "Ya ngapain juga susah? Ya udah sih." Sesederhana itu jawabanku. Hanya saja, di hatiku terdalam pun tahu aku sedang melakukan salah satu kebohongan terbesar. Andai saja temanku itu tahu apa yang sedang menimpaku hari itu. Mungkin akan sekonyong-konyong dia akan menarik perkataannya dan bahkan mungkin berharap dia tidak menjadi seperti yang selalu terlihat "ceria" ini.

Entah kenapa, temanku ini harus memilih hari itu untuk menyampaikan pendapatnya tentangku. Hari dimana justru aku berpikir bahwa ada kemungkinan duniaku ini akan berakhir. Dia, temanku ini, harus menyampaikan kata-kata indah bernada pujian sarkastik itu tepat di hari itu, setelah aku menyelesaikan pemeriksaan kesehatanku.

Andai dia tahu, hari itu aku sudah ingin mati saja rasanya. Andai kau tahu, teman, hari itu kepala ini tak bisa berpikir jernih. Semua kecemasan dan kekhawatiran akan kemungkinan terburuk akan terjadi, menggelayuti pikiranku setiap menit, tepat di hari itu.

Tapi entah kenapa, sepertinya aku tak bisa menunjukkan raut wajah yang sesuai dengan isi hatiku. Hari itu, secara tampak luar, ya seperti hari-hari biasanya. Tapi andai ada superhero yang bisa melihat menembus ke dalam hati dan kepalaku, pasti dia akan tahu bahwa hari itu, aku nyaris hancur.

Aku jadi teringat beberapa pekan lalu aku sempat kesulitan mencari potret diriku yang terlihat tidak ceria. Nyaris tidak ada. Padahal aku memerlukan foto itu untuk kepentingan tulisan. Dan ternyata, setelah menghabiskan banyak waktu membongkar koleksi ribuan foto, aku tidak menemukan foto diriku yang tidak nyengir, tidak tertawa lebar, tidak senyum. Semua menampilkan ekspresi yang sama. Senyum lebar dan ceria, penuh kebahagiaan. Ha ha ha.

Memang, apapun masalah yang menimpa, seringkali aku menemukan cara untuk tetap tersenyum, atau setidaknya berpura-pura untuk tersenyum atau tertawa. Meski disaat yang bersamaan, dunia ini serasa runtuh dan ingin menghantam tubuhku, aku tetap berusaha tersenyum. Aku ingin pernyataan temanku tadi yang menjadi ingatan orang-orang tentangku. Yetta yang selalu ceria dan tersenyum, apapun masalahnya.

Kelak, aku ingin meninggalkan ingatan itu di hati dan pikiran setiap orang yang mengenalku.

Itu saja...

Kamis, Mei 02, 2013

Tidak "Lengkap"


Beberapa hari ini aku tidak nyaman dengan diriku sendiri. Aku bukan seperti aku. Aku menyadari itu dan orang-orang di sekelilingku pun mulai merasakan hal yang sama. “Kenapa, sih, loe?,” begitu mereka kerap bertanya. Sayangnya, aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Karena aku pun menyimpan pertanyaan yang sama. “What’s wrong with me?”.

Beberapa hari ini aku sedang merasa aku tidak menjadi diriku sendiri. Aku resah, untuk alasan yang aku pun tidak bisa menjelaskan. Aku mencoba tetap ceria, seperti aku biasanya. Senyum memang terpampang jelas di wajahku. Tapi entahlah, ada yang hilang…


Rasanya, aku sedang tidak bahagia…


Beberapa hari ini, aku merasakan sedih yang luar biasa, nyaris dalam segala hal. Sedih sekali…Entah kenapa. Aku merasa, saya harus “mengeluarkan” sesuatu, uneg-uneg atau apapun itu. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dan aku tidak tahu harus berlari ke siapa. Jangan salah mengartikan. Aku dikelilingi banyak orang yang (aku yakin) mengasihiku. Hanya saja, aku tidak mampu untuk bercerita pada mereka…

Beberapa hari ini, aku ingin sekali bercerita dengan seseorang, siapapun itu. Aku butuh pertolongan. Untuk meredakan gejolak di hatiku. Aku merasa harus ada seseorang atau sesuatu yang bisa menemukan dan kemudian meletakkan kepingan yang hilang dari hatiku, dari jiwaku, dari pikiranku.

Beberapa hari ini, ada yang hilang dariku. Aku diliputi kecemasan luar biasa. Entah karena apa. Aku berdoa sungguh-sungguh, tadi malam, untuk yang pertamakalinya sejak beberapa saat. Aku bahkan tidak mengeluarkan banyak kata-kata, hanya airmata bercucuran tanpa alasan. Aku tumpahkan semua. Tapi tetap, aku merasa ada yang hilang…


Aku tidak “lengkap”..


Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengirimkan pesan singkat. Isinya seperti ini, “Apa lagi yang kurang? Karier loe ok, loe udah keliling dunia, apa yang kurang?”. Aku terdiam sejenak. Aku tidak tahu mau menjawab apa. Tapi dalam hati, aku ingin sekali menuliskan apa yang ada di pikiranku.


“Aku butuh seseorang…”