Minggu, Juli 19, 2009

Rabu, Juli 15, 2009

Lentera Jiwa....

Ada yang tahu atau pernah mendengar lagu ini? Yup, ini lagu kepunyaan Nugie, judulnya Lentera Jiwa. Sebenarnya sudah lamu aku mengetahui keberadaan lagu ini. Tapi eventually, baru tadi pagi aku melihat video klipnya untuk pertama kali. Ya, sekarang ritual mengawali hari agak sedikit berbeda memang. Bangun tidur, matiin AC, ke kamar mandi, cuci muka, minum air putih buka pintu depan, trus duduk selonjoran di depan TV, dengan handuk melingkar menunggu otak cukup waras untuk bertemu dengan air..

Well, kok jadi ngelantur...Jadi, ceritanya, tadi pagi baru ngeliat video klipnya Nugie. Great clip! Simple but full of statement! Kalau yang udah pernah dengar, pasti ngerti kalau lagu ini nyeritain soal bagaimana orang akhirnya bermuara di impian akhir setelah melalui proses pencarian yang lumayan lama.. Video klip lantas digarap dengan menggunakan eberapa model, dari latar belakang profesi yang berbeda-beda. Tiap orang menggengam sebuah statement pada sebuah kertas di dada mereka, yang menunjukkan latar belakang mereka dulu dan sekarang. Beberapa statement yang ada seperti : Indra, fotografer, lulusan Matematika atau Indah, presenter infotainment, S-1 Arkeologi, atau Tomy, animation director, asli lulusan Teknik Mesin, atau Rio, arsitektur, sudah tahu akan menjadi apa nanti.

Intinya sih sederhana, bagaimana mengetahui apa yang loe mau, dan berjuang untuk itu, tanpa peduli latar belakang loe apa.
Karena mimpi itu terlalu besar untuk hanya diragukan oleh sebuah halangan nggak penting. Mimpi itu terlalu besar untuk diganggu 'hanya' dengan satu dua kegagalan. Setiap detik aku berusaha untuk menjadi seperti itu. Dan, dengan bangganya, sekarang, aku bisa bilang kalau aku sudah dalam jalur yang benar. Jalur menuju impianku....

Dari kecil, aku sudah membayangkan aku akan bekerja dan menjadi profesional di bidang ini. MEDIA. Meski belum tahu akan menjadi apa, sejak kecil aku seperti sudah punya bayangan. Dan sejak itu, yang bisa kuingat, aku cukup fokus. Ketika memutuskan untuk kuliah di Komunikasi, aku ditertawakan banyak orang. Maklum, waktu itu, komunikasi belum se-ngetop sekarang. Yang ada di otak keluarga besarku, kuliah itu cuma ada Kedokteran, Ekonomi, atau Teknik. Di luar itu, bukan kuliah katanya. Tapi dengan tekad bulat, aku memutuskan untuk mengambil jurusan itu. dan aku tidak salah, karena memang itu lah yang aku inginkan....

Sejak saat itu pula, tujuan hidupku lumayan jelas. Tapi setelah kuliah, agak sedkit bimbang, karena idealisme ternyata tidak bisa berjalan seiring dengan tuntutan ekonomi. sembilan bulan lamanya, aku mengubur idealisme itu untuk bekerja di bidang yang tidak pernah aku bayangkan. PERBANKAN! So lame...Tapi aku yakin, pasti ada jalan, dan aku juga mengerti, semua butuh pengorbanan, termasuk untuk meraih mimpi...

Doaku terkabul....aku bisa kembali di jalur yang benar..Dan sekarang malah menjadi semakin lebih baik...Makanya, tadi pagi, waktu melihat dan mendengar lagu Lentera Jiwa, aku seperti diingatkan untuk bersyukur..Bahwa pencarianku sudah mendekati akhirnya...Aku mengerjakan sesuatu yang aku cintai..Dan aku bisa bergabung dengan sedikit orang yang juga melakukan hal yang sama. Mencintai apa yang mereka kerjakan dan mengerjakan apa yang mereka cintai. Dan ketika itu sudah kau genggam, yang kau cintai itu, akan secara otomatis menjadi Lentera Jiwamu...Lentera Jiwaku....^.^

LENTERA JIWA (Nugie)

Lama sudah kumencari Apa yang hendak kulakukan
Sgala titik kujelajahi
Tiada satupun kumengerti
Tersesatkah aku di samudra hidupmu
Kata-kata yang kubaca
Terkadang tak mudah kucerna
Bunga-bunga dan rerumputan
Bilakah kau tahu jawabnya Inikah jalanku inikah takdirku
Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
Yang slalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani
Menjadi penunjuk jalanku
Lentera jiwaku




Jumat, Juli 10, 2009

AKU (cuma) TAKUT.....



Beberapa bulan terakhir, aku memang agak malas..bukan agak lagi, tapi sangat malas jika harus berhadapan dengan topik jodoh, pacar, pernikahan dan semua antek-anteknya. Aku pribadi, nggak pernah bisa menemukan definisi dari semua itu. Gak peduli apa 'bungkus'nya, tetap saja tema soal semua itu tidak mengenakkan terdengar di hati...

Kalau mereka yang mengetahui riwayat asmaraku beberapa tahun terakhir pasti bisa memaklumi semuanya. Dulu aku sempat berkelakar, bahkan novel Siti Nurbaya yang tragis pun nggak bisa menyaingi semua kisah asmaraku yang tragis..Awalnya semua bahagia, tapi somehow, semua berakhir dengan ketragisannya masing-masing...

Delapan tahun, delapan tahun! aku menghabiskan waktuku dengan seseorang yang bahkan sulit untuk didefinisikan sebagai pacar..Kami tidak pernah mendeklarasikan apapun..karena selama 8 tahun, hanya aku, dia dan Tuhan yang tahu apa yang kami jalani. Aku tidak bisa menyebut 8 tahun itu sebagai sebuah kesia-siaan, karena toh, banyak yang didapat, banyak pula yang harus dilepaskan...Mengingatnya pun membawa perasaan aneh yang nggak bisa kudefinisikan..aneh aja...Mungkin gejolak darah muda membutakan segalanya, karena memang hubungan itu tidak akan mungkin bisa berakhir bahagia, sesuatu yang sudah kami tahu sejak awal..Tapi sekali lagi, dengan alasan cinta buta, kami menjalaninya...8 tahun...Hingga suatu hari, akhirnya akal sehat kami bisa mengalahkan perasaan. Dan ketika kami merasa sudah saatnya berpisah dari saling ketergantungan itu, kami sepakat berpisah..Sayangnya, kami butuh 8 tahun untuk menyadarinya...Sesuatu yang tidak kuanjurkan untuk siapapaun..tapi aku tidak menyesal, tak sedetik pun...Tapi, sedikit terlintas, andai saja semua bisa lebh baik untuk kami berdua...Seandainya kami bisa menembus tembok-tembok itu, pasti kami akan baik-baik saja sampai sekarang..Tapi sekali lagi, aku tidak pernah menyesal....Karena aku memang pernah mencintainya...Dan aku tahu, dia pun pernah merasa yang sama...

Dia, lelaki yang sudah mengisi separuh umurku itu...berbicara denganku beberapa hari lalu, membicarakan kemungkinan dia menikah tahun ini. Jujur, reaksi yang pertama kali aku lontarkan yah pasti kaget. Dia, lelaki yang pernah berkata akan menjadikanku istrinya jika semua mudah bagi kami, akan menikah dengan perempuan lain...I knew it was gonna happen..i just didn't expect that it would be this fast...Yang kupikirkan adalah :"Oh God, he's trully are moving on..."

Seharusnya ini tidak menjadi masalah untukku. Seharusnya aku sudah berjanji untuk bahagia atas semua hal yang bikin dia bahagia. Tapi kegagalan yang kualami setelahnya yang membuat aku merasa 'kalah'....

Tak lama setelah aku menyudahi cerita cinta 8 tahun dengannya, aku bertemu laki-laki lain. Lelaki yang entah datang darimana, begitu saja masuk ke kehidupanku...Di waktu yang tepat, di moment yang tepat, dan orang yang tepat. Begitu selalu yang kutanamkan di hatiku sejak pertama kali bertemu dengan lelaki ini...Hari berganti bulan, bulan berganti tahun..semua terasa sangat cepat, sangat mudah...dan hampir menuju kenyataan..Sampai berita itu menghantamku. Tepat di saat aku sudah akan bersiap-siap menuntut kejelasan atas apa yang kami jalani selama setahun lebih. Kenyataan bahwa dia terlibat dengan percintaan sesama jenis dengan seorang temanku yang lain, sungguh mematahkanku. Aku patah. I WAS BROKEN. Broken in to thousands pieces...Aku nggak bisa memikirkan kejadian yang lebih tragis daripada itu. Bahkan ketika harus menyudahi hubunganku yang 8 tahun itu, tidak terasa seberat dengan yang satu ini. Somehow, aku diliputi rasa bersalah luar biasa, bercampur marah, dendam dan cinta. Aku baru tahu, kalau kau mencampurkan semua perasaan itu, muaranya tentu SAKIT JIWA. Aku meng-klaim, jiwaku benar-benar sakit waktu itu. Aku butuh waktu cukup lama untuk bisa berdiri tangguh, mengeringkan airmata, mengelus dada dan berkata : "SCREW YOU!!!"...

Dan dikala semua itu bisa aku lakukan...di kala pekerjaan menyita banyak waktu dan pikiranku dari semua urusan yang berkedok asmara, perasaaan lain menyerangku..Perasaan yang bahkan aku sendiri tidak bisa mendefinisikan. Tapi setelah aku cerna...tahukah kalian apa yang kurasakan? AKU TAKUT...

AKU TAKUT...aku tak sekuat itu, ketika harus mendengar seorang pria yang pernah mengisi separuh umurku akan menikah dengan perempuan yang tidak aku sukai...Dan nyatanya, aku memang tidak sekuat itu....

AKU TAKUT...rasa trauma yang kualami dengan pria yang berubah menjadi gay itu akan menghantui semua hubunganku dengan pria-pria selanjutnya..Dan nyatanya, aku memang trauma.. He had hurt me so badly...sakit sekali, sampai ke palung hati terdalam..luar biasa...

AKU TAKUT..karena harus menghadapi kenyataan bahwa aku sendirian, tanpa seseorang yang bisa menopangku ketika aku jatuh...dan nyatanya, itu yang terjadi. Aku sendirian...Tanpa tahu apa yang aku mau...

AKU TAKUT..aku menyalahkan Tuhan karena keadaaanku dan semua masa lalu yang menghantuiku..Dan nyatanya, aku memang menyalahkan Tuhan..ampuni aku, tapi itulah ketakutan yang menjadi kenyataan..Aku sudah tidak ke gereja....aku lupa rasanya berdoa..aku bahkan sempat mempertanyakan keberadaan Tuhan di hidupku...

AKU TAKUT..aku tidak bisa memenuhi harapan orangtua dan keluargaku untuk membangun rumah tangga dengan seseorang yang mencintai aku...Kalian pikir aku nggak mau???? I WOULD LOVE TO...tapi masalahnya, BELUM ADA!!!! Dan nyatanya, aku pun tidak bisa memberikan pembelaan diri yang baik soal ini ke semua orang yang bertanya soal statusku..AKU CAPEK...

Dan tadi siang, aku menerima telepon dari seorang yang mungkin baru dua kali bertemu denganku dan dia langsung bertanya : "Kau udah punya pacar belum? Ada laki-laki yang mau aku kenalkan.." Aku cuma bisa bengong dan menghela nafas panjang..Akhirnya saat itu tiba juga, saat dimana semua orang berempati dan berjuang keras menjadikan jodoh untukku...Untuk pertama kalinya aku menjawab tanpa ego.."Ya udah, kasi aja nomor teleponku..."

Aku tidak melacurkan diriku..aku tidak memohon untuk orang menjadikanku pasangan mereka...aku bukan pungguk merindukan bulan...AKU HANYA TAKUT.......

I'M AFRAID...THAT MAYBE SOMEDAY...I WOULD ENDED UP BEING ALONE......

itu saja...

Jumat, Juni 26, 2009

GPS Girl..


Sebenarnya, seperti ucapan klise putra-putra daerah, rasanya dulu selalu berkoar-koar, "Ihh..apaan sih Jakarta ini? Nggak kebayang orang-orang yang hidup di Jakarta! Macetnya, sumpeknya..bla..bla.." Yes! i've been there..being that person yang sangat meremehkan orang-orang yang mampu bertahan hidup di Jakarta. Dulu, aku pun tidak pernah bercita-cita hidup di Jakarta. Tapi nasib dan pintu rezeki membawaku ke ibukota ini. Dulu, memutuskan untuk menetap di Jakarta sebenarnya merupakan pilihan terakhir untukku yang memang sudah putus asa karena tidak mendapatkan pekerjaan di Medan dan di Yogyakarta.

Pindah dari Yogyakarta ke Jakarta menjadi salah satu cobaan terberat yang pernah aku lalui selama hidupku. Bayangkan, kehidupan penuh santai dan mengemban semboyan 'Everyday is Sunday in Jogja' harus langsung digantikan dengan semboyan 'Siapa cepat dia selamat'. Yang kalau diibaratkan persneling mobil, dari gigi satu langsung ke 5!! Nggak ada ramah tamah, nggak ada senyuman tulus, semua tenggelam dengan dunianya sendiri. (And they say kids with autism has their own world? yeah, right!)

Dulu aku kesusahan sekali memahami jalanan Jakarta. Stress sempat melanda karena aku dipaksa untuk berkeliling Jakarta, memenuhi panggilan tes kerja di berbagai pelosok Jakarta. Aku ingat, sangking penasarannya memecahkan jalur dengan banyak persmpangan di kawasan UKI, aku khusus menyeberang ke tengah-tengah trotoar, di atas underpass Cawang bawah, untuk memahami simpang mana yang menuju mana. Lama sekali sampai ahirnya aku bisa memecahkan misteri banyaknya persimpangan di Cawang Bawah itu! hahahahaaha...tapi aku puas...

Memang, cara tercepat untuk mnguasai jalanan Jakarta adalah dengan menjajal bus dan angkutan kota. Syukurnya, Jakarta adalah salah satu kota diantara beberapa kota di Indonesia yang menganut paham 'kalau salah atau kesasar, tinggal muter cari jalan kebalikannya' (u know what i mean lah), alias prinsipnya, jalanan pasti muter, nggak mungkin nyasar jauh. Dan aku menghayati pedoman itu sebagai kunci keberhasilan menguasai jalanan Jakarta.

Tahun pertama di Jakarta, ruteku masih seputar Jakarta Timur dan sedikit Jakarta Selatan. Maklum, pendatang baru, teman belum begitu banyak, masih tertib, kantor tidak jauh dari kost-kostan, ngekost deket dengan teman-teman dari Jogja, intinya : tidak mengembangkan banyak kemampuan menjelajah Jakarta.

Tahun kedua, menyandang profesi baru sebagai repoter, kost-kostan dan kantor pindah ke Jakarta Selatan, pergaulan semakin luas, semakin menambah kemampuanku menguasai jalanan, terutama kawasan Jakarta Selatan. Sayangnya, keseringan liputan dengan mobil dan driver, juga menjadikan kemampuan sedikit menumpul. Karena tiap hari, masuk mobil, tinggal bilang mau kemana, driver akan selalu sedia mengatarkan sampai di tempat liputan. Kurang tertantang lah.

Tahun ketiga dan seterusnya.....rumah baru di Jakarta Timur coret, kantor di Jakarta Barat. Pas lah sudah. Apalagi selama di kantor baru, liputan kemana-mana lebih banyak naek angkutan umum. Sejak saaat itu, secara otomatis aku menguasai jalanan Jakarta. Dulu, aku paling anti dan nggak pernah bisa mengerti kawasan Jakarta Barat. Tapi terimakasih pada lokasi kantor, aku mengerti. Aku mengerti Pos Pengumben, Joglo, Kebon Jeruk, Slipi, Meruya dkk. Dan karena mulai rutin menjelajah jalanan dengan Transjakarta, aku mulai menguasai Jakarta Pusat dan Utara. Menyenangkan!

Dan predikat GPS Girl pun secara otomatis melekat. Tidak ada yang memulai atau memprakarsai apapun, Hanya saja, kalau di kantor aku suka sekali dimintai bantuan tentang petunjuk arah, jalur angkutan dsb. Nggak hanya dari rekan sekantor, bahkan teman-teman dari semua lingkaran pertemanan lainnya suka sekali menanyakan petunjuk jalan dan angkutan umum padaku. Dan sebenarnya, aku tidak bangga dengan kemampuan itu, kemampuan menguasai jalanan dan jalur angkutan umum jakarta. Karena satu saat, mimpiku untuk memiliki mobil dan menjelajahi Jakarta dengan mobilku sendiri, menjadi cita-cita tertiinggiku saat ini..

Jadi, aku sudah terbiasa dengan sms atau telepon meminta wangsit arah dan petunjuk jalan. Hahahaha..Pernah satu kali, aku sedang bertugas di Bali, di sela liputan, aku menyempatkan diri menikmati Pantai Kuta, berjalan sendirian di tepi pantai, sampai handphone ku berbunyi. Begitu diangkat, inilah yang terdengar : "Yettaaaaaaaa!! Aku lagi dari arah Cipete, mau ke Blok M, aku udah di deket ITC FAtmawati nih, naek Metro Mini nomor berapa yah???" YAELAAAAAAAAAHHH...Sore itu pesona Kuta langsung drop...hahaha, karena sampai aku di Bali pun, kemampuan sebagai GPS Girl ternyata masih dibutuhkan! Jadilah, di tengah matahari menyengat aku sibuk menerangkan arah dan jalur angkutan...

So, here i am..the GPS Girl...ready when u're ready!! ^.^

Rabu, Juni 24, 2009

FATIGUE...

For no reason..i just felt so tired lately...so tired and sick of everything..it seems like, there's always something or someone whose always pulled my trigger...I always get so mad, even if it's related to some small problems....

My work has been so hectic lately..maybe that could be one of the reason..And for God sake, i hate people who bothering me with stupid things and stupid act when i, myself, already packed up with lots of problems to think about!!

For one particular person, i felt so damn anxious to see, hear, or even smell at her...She used to be so fuckin cool and 'alright' for me..but somehow, these few weeks she been so destructive and always acting like a pain in the ass!!! She and her 'so-not-cute-face' make me sick!!!

So..this emotion was on top of all...Works was exhausting, friends were dissapearing to their own needs, family was escaping the responsibilities, love life was a tragedy, so...this was it...the most fuckin moment of my life!!!! Surrounded with fuckin 's0-called-hell' !!!!!

I kinda hate everybody right now...*sigh...need a vacation so badly...it would've been great to recharge the spirit...UGH!


3rd floor, Panjang 8a, 05.30 PM

Sabtu, Juni 06, 2009

Yipeeeeeeeeee.....!!!!


in love...in love....possibly in love....again..and again....in love..dudududu........with this guy !!!!

Semua Indah Pada waktu-Nya.....

Oke..kali ini agak serius...

Somehow..dari dulu aku percaya dengan segala kekuatan iman Kristen yang kuanut, bahwa segala sesuatu pasti indah pada waktu-Nya..bukan waktuku, bukan waktu keluargaku, bukan waktu teman-temanku. Tapi waktu-Nya...

Aku percaya, Tuhan pasti punya waktu yang tepat untukmenjawab semua pertanyaan. Dan untuk yang kesekian kalinya, aku mengamini waktu Tuhan untuk bekerja dalam kehidupanku, khususnya dua bulan terakhir, yang kuanggap sebagai dua bulan paling bergejolak di sepanjang hidupku. Selama dua bulan juga lah, aku diliputi amarah dan pertanyaan tiada henti...Mempertanyakan eksistensi Tuhan dalam kehidupanku.....Karena yang kupikirkan cuma satu..Kalau Tuhan ada dan dekat denganku, kenapa harus dibiarkan-Nya aku jatuh dan tersakiti luar biasa??? Dan demi mencari jawaban itu, aku pun sepakat dengan diriku sendiri untuk melakukan 'gencatan senjata' dengan Tuhan...

Dua bulan terakhir, bisa dihitung dengan jari berapa kali aku ke gereja dan mengikuti kebaktian. Kadang teman memaksa untuk mengajakku duduk manis di gereja, tapi pikiranku tidak di sana. Karena bahkan di dalam rumah-Nya, aku masih terus bertikai dengan pertanyaan yang sama. "How could You, God??".

Tapi hari ini.....aku menyadari satu hal..bahwa Dia tidak pernah jauh dariku. Bahkan tak sedetik pun. Aku ingat, karena pergumulanku yang terlalu berat, dua bulan lalu dengan khusyuk di gereja aku minta Tuhan menjawab doaku, apakah aku harus meneruskan apa kuyakini benar. Itu terjadi tepat satu minggu sebelum 'petir ' itu menyambar dan mengubah hidupku. Tuhan ternyata hanya perlu waktu seminggu untuk menunjukkan jawabannya. Waktu itu, jawaban-Nya : "TIDAK".

Aku tahu dan sadar sesadar-sadarnya. Tapi sayang, amarah yang teramat sangat mengaburkan imanku pada-Nya. Sehingga bukannya bersyukur, tapi aku justru menjauh dan memilih untuk 'bermusuhan' dengan-Nya. Dua bulan kemudian, hari Minggu kemarin, lagi-lagi dengan setengah hati aku menerima ajakan teman untuk bergereja. Tapi siapa yang menyangka, hari itu hidupku berubah. Aku diingatkan untuk tidak usah menyimpan dendam pada Tuhan. Lebih baik selesaikan dengan berdoa dan lebih banyak berbicara dengan Tuhan. Toh, berdoa tidak makan biaya, dan Tuhan selalu available 24/7.

Hari Minggu itu, aku berjanji pada diriku sendiri, untuk mulai berdoa. Seberapa singkatnya pun itu, aku kembali berdoa. Sesuatu yang sangat jarang kulakukan selama dua bulan belakangan. Dan anehnya, aku merasa sangat damai. Tapi aku tidak bisa mendefinisikan apa yang kurasakan. Hanya kedamaian. Dan ternyata Tuhan memenuhi janji-Nya untuk menyelesaikan masalah dan amarah ku dengan cara-Nya sendiri.

Empat hari!! Setelah aku mulai berdoa di hari Minggu itu, Tuhan ternayta hanya perlu empat hari untuk menjawab apa yang kuminta. Menjawab apa yang menjadi kegelisahanku selama 1,5 tahun. Menjawab semua kelelahan hati dan pikiranku. Menjawab dan menuntunku untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak 1,5 tahun lalu. Membebaskan diriku dari semua ikatan tentang-'nya'.

Jadi, sekarang, kalau ada yang bisa aku lakukan, hanya berlutut memohon ampun....sekaligus mendeklarasikan perdamaian denganTuhan. Karena semua sudah selesai, urusanku terselesaikan tanpa aku harus berbuat apa-apa. Hatiku tenang dan damai karena Tuhan, dan bukan karena apa yang kulakukan, atau dendam yang sudah kubalaskan. Tapi karena Tuhan. As simple as that.....

So God, my chains are gone, i've been set free. You are my God, my Saviour that has ransom me....AMAZING GRACE....!

And for the first time, i'm shouting out to the world, I AM FREE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
^.^ Thank U, God......


*12.20 AM, @ the office while deadline-ing