Hujan selalu mengingatkanku
padanya. Selalu. Seperti sore ini, saat hujan turun mendera tanpa ampun
membasahi tanah ibukota ini, aku mengingatnya. Mengingat suatu sore
serupa di sebelah utara Jogjakarta. Sore itu, aku bersamanya. Tak
kuingat persis berapa tahun sudah berlalu sejak sore itu. Mungkin
sepuluh tahun lalu. Tapi sore itu istimewa, karena aku bersamanya,
lelakiku.
Konyol memang, apa yang dilakukannya padaku sore itu.
Tapi entah kenapa, setiap hujan turun, kejadian konyol itu yang selalu
kuingat. Sore itu, dia, lelaki yang menghiasi hari dan hatiku
bertahun-tahun lalu itu, terjebak hujan lebat. Dan dia pun terjebak
denganku dan dengan hujan. Tapi diam-diam, aku berterimakasih pada
hujan, sudah menjebakku dan menambahkan atmosfer sempurna sore itu.
Bahkan rasanya, settingan sinetron pun kalah indah dengan yang kami
alami sore itu.
Hujan deras, tapi kami harus pulang. Belum ada
sepeda motor, belum ada mobil. Uang di saku hanya cukup membawa kami
pulang dengan becak. Apa boleh buat, daripada terjebak dengan air hujan
yang tak kunjung berhenti, ditambah dingin yang semakin menusuk tulang,
kami memutuskan untuk menaiki becak. Baru saja berpikir tentang becak,
sebuah becak lewat. Dengan baik hati bapak pengemudi becak yang sudah
tua renta itu berhenti dan bersedia membawa kami berdua. Aku dan dia.
Tapi
kondisi jalan yang basah, jarak pandang yang terbatas, membuat
pengendara becak yang sudah renta itu terlihat kesulitan meminggirkan
becaknya. Ketika akhirnya dia berhasil menepikan becaknya, kami berdua
berusaha menaiki becak dengan susah payah. Saat itulah kejadian konyol
itu terjadi. Saat kami berdua serentak menaiki becak, entah bagaimana
dan apa yang terjadi, becak itu seketika terbalik!
Sungguh aku
tak berbohong. Becak itu terbalik dan menimpa kami berdua! Untung,
karena tak seluruh beban becak menimpa tubuh kami. Dan saat itu hujan
masih turun dengan lebatnya. Terduduk di sana, di pinggir jalan raya di
sudut utara kota Jogja, dengan becak menimpa kami. Kulihat wajahnya yang
berada di sampingku yang terlihat panik melihat becak menimpa tubuh
kami. Tak hentinya dia berteriak padaku berulang-ulang menanyakan apakah
aku baik-baik saja.
Reaksi pertamaku tentu saja malu dan mau
marah, tapi kulihat wajahnya, wajah lelakiku itu, tak bisa kupikirkan
hal lain yang harus kulakukan selain tertawa. Menertawakan kami,
menertawakan becak yang menimpa tubuhku, menertawakan hujan yang tak
kunjung reda, menertawakan pengguna jalan lain yang juga terheran-heran
melihat kami. Tapi yang terutama, aku ingin menertawakan momen itu,
dengannya. Kembali aku memandangnya dengan senyum. Aku tahu saat itu dia
bisa membaca pikiranku yang berkata, "Aku enggak apa-apa. Kita lucu
sekali". Aku benar, karena dia pun langsung tertawa usai melihat
wajahku. Kami puas tertawa sore itu meninggalkan bapak pengendara becak
yang kebingungan.
Akhirnya becak itu diangkat dari tubuh kami.
Lelakiku memapahku berdiri. Saat benar-benar kakiku menjejak tanah, aku
mendongak dan melihat wajahnya sekali lagi yang ada persis di hadapanku.
Kuberikan senyum terbaikku padanya. Hatiku berkata saat itu, "Aku
mencintai lelaki ini". Walau tak kuucapkan. Dia, lelakiku ini, tahu
persis cara kerja tubuh dan pikiranku. Jadi aku tahu, sore itu, dia tahu
apa yang kupikirkan. Dia merentangkan tangannya dan langsung memelukku.
Hujan boleh saja terus mendera tubuhku, dingin tak berhenti menusuk
kulitku, tapi dalam pelukannya, tak ada yang lain selain kehangatan.
Meski sedetik kemudian dia melepaskan pelukannya karena menyadari bapak
pengendara becak kami sudah memperbaiki becaknya untuk dapat kami naiki.
Akhirnya
kami duduk di becak itu. Berdua, kami berhimpitan di dalam becak. Dia
merangkulkan lengannya melingkar di punggungku, seperti menjagaku untuk
tetap nyaman dan hangat. Kami berdua basah kuyup, tapi dingin tak
kurasakan lagi. Semua berganti hangat. Kusandarkan kepala ini ke dadanya
sambil menunggu bapak pengendara becak menutup terpal plastik di
hadapan kami agar terhindar dari terpaan hujan dari bagian depan.
Aku
tahu, pastilah rupaku tak karuan sore itu. Basah kuyup, plus bibir yang
nyaris membiru karena kedinginan. Tapi aku tak berhenti tersenyum
sembunyi-sembunyi sambil terus menempelkan kepala dan wajah ini di
dadanya seakan mencari perlindungan. Tak sekalipun aku berkata-kata sore
itu. Aku aman di pelukannya, di antara lengan dan bahunya yang kokoh.
Aku aman.
"Kau enggak apa-apa?," tanyanya lagi sambil memandang
wajahku. Aku mendongak dan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Saat
itulah dia menatapku tajam dan tiba-tiba mendaratkan kecupan di
keningku. Lelakiku, lelaki paling tidak romantis di dunia ini, sore itu
meluluhkan hatiku. Setelah itu dia tak berkata apa-apa lagi sampai kami
tiba di tujuan. Tak sekalipun dia melonggarkan pelukannya, dan tak
sekalipun pula aku melepaskan kepalaku dari dadanya. Rasanya, aku ingin
selamanya ada di dalam becak itu.
Di tengah hujan, di bilik becak
yang sempit itu, aku menemukan kebahagiaan seluas samudera. Saat itu
aku tahu, lelaki ini pun mengasihiku. Tak perlu kata-kata puitis dan
romantis atau seikat bunga mawar. Hanya pelukan erat tanpa henti dan
satu kecupan, dia sudah melakukan segalanya.
Karena itulah aku
selalu mengingatnya, mengingat lelakiku setiap hujan turun. Di belahan
bumi manapun aku berpijak, setiap hujan turun, pikiran ini langsung
bertolak ke sore itu, di pinggir Ring Road Utara Jogjakarta yang diterpa
hujan deras. Meskipun sekarang sudah lima tahun berlalu sejak kami
sepakat mengakhiri kisah sewindu yang kami lewati, meski kini aku tak
lagi berbicara dengannya, tak lagi tahu bagaimana keadaannya, meskipun
dia sudah berbahagia dengan istri dan anaknya. Meskipun aku tetap di
sini, sendiri. Tapi setiap hujan turun, aku akan selalu mengingat sore
itu.
Sore terbaikku dengan lelakiku kala itu...
Karena itulah, aku selalu suka hujan...
skip to main |
skip to sidebar
Beberapa hari ini aku tidak nyaman dengan diriku sendiri. Aku bukan seperti aku. Aku menyadari itu dan orang-orang di sekelilingku pun mulai merasakan hal yang sama. “Kenapa, sih, loe?,” begitu mereka kerap bertanya. Sayangnya, aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Karena aku pun menyimpan pertanyaan yang sama. “What’s wrong with me?”.
.....my greatest escape.....
Kamis, Oktober 24, 2013
Rabu, Juli 17, 2013
Hari Itu, di Père Lachaise Cemetery…
Saya sangat ingin menikmati kesunyian saat ini. Sekarang semua
terlalu “bersuara”, mengganggu telinga..Terlalu riuh, terlalu ricuh…
Saya ingat beberapa bulan lalu, saya menginjakkan kaki di
kota Paris. Di saat semua orang berlomba mengabadikan foto di Menara Eiffel (yang
juga saya lakukan), saya dan rekan seperjalanan saya memutuskan untuk mengunjungi
pemakaman. Bayangkan, kami menempuh perjalanan dari Jakarta ribuan kilometer
jauhnya, dan kami memutuskan untuk datang dan berkunjung ke pemakaman.
Père Lachaise Cemetery namanya. Penduduk asli Prancis akan
menyebutnya Cimetière du Père Lachaise. Pemakaman ini adalah salah satu pemakaman
paling luas di kota Paris, memakan lahan seluas 44 hektar.
Jangan langsung membayangkan pemakaman di Indonesia, yang
seringkali lebih menonjolkan unsur kengerian. Bukan tidak nasionalis, hanya
saja saya pikir bangsa Barat lebih memahami konsep pemakaman sebagai memorial, tempat
mengingat dan mengenang kehidupan sesorang dengan cara yang baik, bukan dengan
menakut-nakuti dengan cerita dan atmosfer super seram.
Père Lachaise Cemetery berada di 20th arrondissement. Mungkin
kalau di Indonesia, arrondissement itu seperti kecamatan, lah. Di Paris, “kecamatan” itu diberi julukan
arrondissement. Di Paris, terdapat 20 arrondissement.
Tak sulit menemukan lokasi Père Lachaise Cemetery. Saking
luasnya, pemakaman ini memang bisa diakses dari beberapa pintu masuk yang
langsung terkoneksi dengan jaringan transportasi, terutama Paris Métro (kereta
api bawah tanah-nya Paris). Saat itu kami memutuskan untuk turun di stasiun Père
Lachaise dan berjalan kaki sekitar 500 meter menuju pintu masuk Père Lachaise
Cemetery.
Saat memasuki gerbang pemakaman, memang kesan misterius dan “gelap”
langsung terasa. Tapi tidak menyeramkan. Untungnya saat itu tengah musim gugur.
Pepohonan sedang indah-indahnya berhiaskan dedaunan berwarna cokelat keemasan
dan satu per satu daun-daun itu lepas dari rantingnya saat angin kencang
berhembus. Pas. Pemandangan yang sempurna.
Pemakaman ini terlalu luas untuk sekedar dijelajahi tanpa
arah. Karena itu, di setiap sudut terdapat peta yang bisa mengarahkan
pengunjung. Saat melihat daftar pemakaman, jangan heran, karena banyak nama
tersohor yang dimakamkan di sini. Pemakaman ini seakan menjadi saksi keagungan
Prancis selama 200 tahun belakangan. Nama-nama hebat yang tertera di daftar
nisan membuat saya terkagum-kagum. Seumur hidup, belum pernah saya setakjub itu
saat mengunjungi pemakaman.
Mereka yang dimakamkan di Père Lachaise Cemetery adalah
orang-orang yang secara langsung atau tidak langsung memberi warna dan kontribusi
terhadap Prancis dan dunia. Dari penyair, pahlawan perang, politikus hingga
rocker. Semua terbaring damai di pemakaman yang kabarnya memuat nyaris satu
juta nisan.
Saya memandangi satu per satu nisan yang saya lewati. Tak ada rasa takut, malah damai. Tepat di saat itu, konsep saya tentang kematian berubah 180 derajat. Kalau di pemakaman di dunia saja bisa terasa indah seperti ini, bagaimana nanti “di alam sana”? Entah kenapa, saya yakin, "di sana" nanti tidak mungkin lebih buruk dari ini.
Sesekali saya berhenti di nisan yang sepertinya baru saja
dikunjungi. Di sana-sini masih terlihat bunga segar di sekitar nisan.
Nisan-nisan dan pemakaman yang ada di sini pun tidak biasa-biasa saja.
Kebanyakan dari mereka dibangun dengan megah, bahkan ada yang bak istana. Tapi entah
kenapa, tidak terkesan berlebihan.
Mungkin karena selera bangsa Eropa yang
sangat artistik.
Saya tiba di salah satu makam paling penting di Père
Lachaise Cemetery. Tak susah menemukan makam ini saat itu. Dari kejauhan saya
sudah mendengar sayup-sayup musik mengalun. Saat itu saya tahu, saya telah
menemukan makam Jim Morrison, pentolan grup band The Doors yang tersohor itu. Jim
Morrison sebenarnya asli Amerika Serikat. Namun ia meninggal dunia di Paris
pada 3 Juli 1071 di usia 27 tahun dan dimakamkan di sini.
Saat saya tiba di sana, seorang fans fanatiknya mencuri
perhatian saya. Dia, pria itu, yang memasang musik The Doors saat itu. Berbekal
ipod dan ipod dock, dia memutar lagu-lagu The Doors sambil menghembuskan
gelembung-gelembung sabun di sekitar makam sang idola. Saya yakin, pria itu
sangat mencintai karya-karya Jim Morrison. Ia tak peduli banyak orang
memandanginya dengan raut penuh tanda tanya. Ia ikut bernyanyi melantunkan lagu
demi lagu sambil terus menghembuskan gelembung-gelembung ke udara. Mendengar
suara Jim Morrison bernyanyi tepat di depan makamnya saat itu, bulu kuduk saya
berdiri. Bukan karena takut, tapi saya (lagi-lagi) takjub.
Sayang, sudah beberapa tahun belakangan ini makam Jim
Morrison harus dipagari dengan pagar-pagar besi, berbeda dengan makam lainnya.
Maklum, keluarga ingin melindungi makam Jim dari sejumlah ritual “aneh” dan vandalisme
berlebihan dari penggemar fanatiknya.
Jim Morrison bukanlah satu-satunya pesohor yang dimakamkan
di Père Lachaise Cemetery. Ada Frédéric Chopin, sang komposer terkenal itu. Ada
pula makam Oscar Wilde, pujangga kenamaan dunia, dan ribuan makam lain.
Berat rasanya melangkahkan kaki keluar dari Père Lachaise
Cemetery. Saya belum pernah mengunjungi pemakaman lain di luar Indonesia. Ini
baru kali pertama. Tapi entah kenapa, saya rasa akan sulit mengimbangi
keindahan Père Lachaise Cemetery. Perjalanan singkat saya ke Père Lachaise
Cemetery mengajarkan saya banyak hal. Tentang kehidupan dan tentang kematian. Tentang
kenangan, tentang legacy, tentang warisan. Tentang ketenangan, tentang “berhenti”
sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan bersyukur. Tentang melapangkan hati, tentang
menenangkan jiwa, tentang nostalgia.
Dan yang terpenting, tentang ikhlas…
Minggu, Juni 23, 2013
Membungkus Duka dengan Tawa
Sepekan lalu, aku berpapasan dengan seorang rekan kerja. Kami bekerja di kantor dan ruangan yang sama. Jadi setiap harinya, pasti dia hapal betul tingkah lakuku, dan sebaliknya. Siang itu, kami berpapasan di kantin saat jam makan siang. Begitu melihatku, dia langsung berkata, "Ih, enak banget ya jadi Yetta ini. Selalu terlihat bahagia, ceria. Kayaknya enggak pernah susah. Pengen deh kayak Yetta."
Saat itu, reaksiku bisa saja. Dengan ringan kujawab, "Ya ngapain juga susah? Ya udah sih." Sesederhana itu jawabanku. Hanya saja, di hatiku terdalam pun tahu aku sedang melakukan salah satu kebohongan terbesar. Andai saja temanku itu tahu apa yang sedang menimpaku hari itu. Mungkin akan sekonyong-konyong dia akan menarik perkataannya dan bahkan mungkin berharap dia tidak menjadi seperti yang selalu terlihat "ceria" ini.
Entah kenapa, temanku ini harus memilih hari itu untuk menyampaikan pendapatnya tentangku. Hari dimana justru aku berpikir bahwa ada kemungkinan duniaku ini akan berakhir. Dia, temanku ini, harus menyampaikan kata-kata indah bernada pujian sarkastik itu tepat di hari itu, setelah aku menyelesaikan pemeriksaan kesehatanku.
Andai dia tahu, hari itu aku sudah ingin mati saja rasanya. Andai kau tahu, teman, hari itu kepala ini tak bisa berpikir jernih. Semua kecemasan dan kekhawatiran akan kemungkinan terburuk akan terjadi, menggelayuti pikiranku setiap menit, tepat di hari itu.
Tapi entah kenapa, sepertinya aku tak bisa menunjukkan raut wajah yang sesuai dengan isi hatiku. Hari itu, secara tampak luar, ya seperti hari-hari biasanya. Tapi andai ada superhero yang bisa melihat menembus ke dalam hati dan kepalaku, pasti dia akan tahu bahwa hari itu, aku nyaris hancur.
Aku jadi teringat beberapa pekan lalu aku sempat kesulitan mencari potret diriku yang terlihat tidak ceria. Nyaris tidak ada. Padahal aku memerlukan foto itu untuk kepentingan tulisan. Dan ternyata, setelah menghabiskan banyak waktu membongkar koleksi ribuan foto, aku tidak menemukan foto diriku yang tidak nyengir, tidak tertawa lebar, tidak senyum. Semua menampilkan ekspresi yang sama. Senyum lebar dan ceria, penuh kebahagiaan. Ha ha ha.
Memang, apapun masalah yang menimpa, seringkali aku menemukan cara untuk tetap tersenyum, atau setidaknya berpura-pura untuk tersenyum atau tertawa. Meski disaat yang bersamaan, dunia ini serasa runtuh dan ingin menghantam tubuhku, aku tetap berusaha tersenyum. Aku ingin pernyataan temanku tadi yang menjadi ingatan orang-orang tentangku. Yetta yang selalu ceria dan tersenyum, apapun masalahnya.
Kelak, aku ingin meninggalkan ingatan itu di hati dan pikiran setiap orang yang mengenalku.
Itu saja...
Saat itu, reaksiku bisa saja. Dengan ringan kujawab, "Ya ngapain juga susah? Ya udah sih." Sesederhana itu jawabanku. Hanya saja, di hatiku terdalam pun tahu aku sedang melakukan salah satu kebohongan terbesar. Andai saja temanku itu tahu apa yang sedang menimpaku hari itu. Mungkin akan sekonyong-konyong dia akan menarik perkataannya dan bahkan mungkin berharap dia tidak menjadi seperti yang selalu terlihat "ceria" ini.
Entah kenapa, temanku ini harus memilih hari itu untuk menyampaikan pendapatnya tentangku. Hari dimana justru aku berpikir bahwa ada kemungkinan duniaku ini akan berakhir. Dia, temanku ini, harus menyampaikan kata-kata indah bernada pujian sarkastik itu tepat di hari itu, setelah aku menyelesaikan pemeriksaan kesehatanku.
Andai dia tahu, hari itu aku sudah ingin mati saja rasanya. Andai kau tahu, teman, hari itu kepala ini tak bisa berpikir jernih. Semua kecemasan dan kekhawatiran akan kemungkinan terburuk akan terjadi, menggelayuti pikiranku setiap menit, tepat di hari itu.
Tapi entah kenapa, sepertinya aku tak bisa menunjukkan raut wajah yang sesuai dengan isi hatiku. Hari itu, secara tampak luar, ya seperti hari-hari biasanya. Tapi andai ada superhero yang bisa melihat menembus ke dalam hati dan kepalaku, pasti dia akan tahu bahwa hari itu, aku nyaris hancur.
Aku jadi teringat beberapa pekan lalu aku sempat kesulitan mencari potret diriku yang terlihat tidak ceria. Nyaris tidak ada. Padahal aku memerlukan foto itu untuk kepentingan tulisan. Dan ternyata, setelah menghabiskan banyak waktu membongkar koleksi ribuan foto, aku tidak menemukan foto diriku yang tidak nyengir, tidak tertawa lebar, tidak senyum. Semua menampilkan ekspresi yang sama. Senyum lebar dan ceria, penuh kebahagiaan. Ha ha ha.
Memang, apapun masalah yang menimpa, seringkali aku menemukan cara untuk tetap tersenyum, atau setidaknya berpura-pura untuk tersenyum atau tertawa. Meski disaat yang bersamaan, dunia ini serasa runtuh dan ingin menghantam tubuhku, aku tetap berusaha tersenyum. Aku ingin pernyataan temanku tadi yang menjadi ingatan orang-orang tentangku. Yetta yang selalu ceria dan tersenyum, apapun masalahnya.
Kelak, aku ingin meninggalkan ingatan itu di hati dan pikiran setiap orang yang mengenalku.
Itu saja...
Kamis, Mei 02, 2013
Tidak "Lengkap"
Beberapa hari ini aku tidak nyaman dengan diriku sendiri. Aku bukan seperti aku. Aku menyadari itu dan orang-orang di sekelilingku pun mulai merasakan hal yang sama. “Kenapa, sih, loe?,” begitu mereka kerap bertanya. Sayangnya, aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Karena aku pun menyimpan pertanyaan yang sama. “What’s wrong with me?”.
Beberapa hari ini aku sedang merasa aku tidak menjadi diriku
sendiri. Aku resah, untuk alasan yang aku pun tidak bisa menjelaskan. Aku
mencoba tetap ceria, seperti aku biasanya. Senyum memang terpampang jelas di
wajahku. Tapi entahlah, ada yang hilang…
Rasanya, aku sedang tidak bahagia…
Beberapa hari ini, aku merasakan sedih yang luar biasa,
nyaris dalam segala hal. Sedih sekali…Entah kenapa. Aku merasa, saya harus “mengeluarkan”
sesuatu, uneg-uneg atau apapun itu. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dan aku tidak tahu harus berlari ke siapa. Jangan salah mengartikan. Aku dikelilingi banyak orang yang (aku yakin) mengasihiku. Hanya saja, aku tidak mampu untuk bercerita pada mereka…
Beberapa hari ini, aku ingin sekali bercerita dengan
seseorang, siapapun itu. Aku butuh pertolongan. Untuk meredakan gejolak di
hatiku. Aku merasa harus ada seseorang atau sesuatu yang bisa menemukan dan
kemudian meletakkan kepingan yang hilang dari hatiku, dari jiwaku, dari
pikiranku.
Beberapa hari ini, ada yang hilang dariku. Aku diliputi
kecemasan luar biasa. Entah karena apa. Aku berdoa sungguh-sungguh, tadi
malam, untuk yang pertamakalinya sejak beberapa saat. Aku bahkan tidak
mengeluarkan banyak kata-kata, hanya airmata bercucuran tanpa alasan. Aku
tumpahkan semua. Tapi tetap, aku merasa ada yang hilang…
Aku tidak “lengkap”..
Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengirimkan pesan
singkat. Isinya seperti ini, “Apa lagi yang kurang? Karier loe ok, loe udah
keliling dunia, apa yang kurang?”. Aku terdiam sejenak. Aku tidak tahu mau
menjawab apa. Tapi dalam hati, aku ingin sekali menuliskan apa yang ada di
pikiranku.
“Aku butuh seseorang…”
Rabu, Maret 27, 2013
Siapa yang Salah?
Tadi siang saya menerima broadcast message di telepon genggam saya. Isinya berita bahagia. Seorang teman seperjuangan saat berkuliah di Yogyakarta dulu, baru saja dikaruniai anak kedua. Setelah anak pertamanya berjenis kelamin perempuan, yang kedua ini, mereka dianugerahi bayi lelaki. Saya turut berbahagia tentunya, sebagai teman mereka. Dan sesuai prosedur kebahagiaan dan pertemanan, saya membalas pesan itu. Isinya, tentu saja, ucapan selamat diiringi doa agar kelak si jabang bayi tumbuh sehat.
Pembicaraan kemudian berkembang. Semakin "berkembang" ketika setelah beberapa pertanyaan dan pernyataan basa-basi, teman saya itu mulai "menyerang" dengan pertanyaan inti yang (saya yakin) pasti sudah ingin ditanyakannya sejak awal pembicaraan. "Kau kapan nyusul, Yet? Anakmu udah berapa?". Saya, yang sudah terlatih menghadapi dan menjawab pertanyaan model begini, tentu menjawab bijaksana. "Oh, belum. Doain aja. Anak-anak banyak, kok, banyak keponakan," kataku sambil membubuhkan tanda senyum yang (menurutku) melengkapi sikap santunku.
Tapi, tentu saja, skenario "penyerangan" tak berhenti di situ. Sudah pasti pertanyaan lanjutan akan mengikuti. Aku pun sudah menyiapkan amunisi jawaban yang cukup. Aku sudah terlatih menghadapi situasi seperti ini sejak beberapa tahun belakangan. Dulu aku selalu menjawab berapi-api, mencoba menangkis "serangan" pertanyaan-pertanyaan itu dengan keras. Tapi sekarang aku menemukan metode baru. Diam saja, amini, iyakan, lantas lontarkan senyum. Terbukti ampuh untuk perisai. Kalau kurang dan tidak mempan juga, keluarkan manuver kalimat-kalimat cerdas yang memutarbalikkan keadaan. Seperti siang tadi.
Pernyataan yang kemudian terlontar oleh temanku itu, kira-kira begini bunyinya. "Wah, ini kebanyakan nyari uang ini. Cari uanganya jangan terlalu serius, Yet". Sampai di situ, aku masih menanggapi dengan senyum ringan. Tidak ada yang kumasukkan ke dalam hati. Bagiku, pernyataan seperti itu ibarat selingan camilan sore hari. Berlalu begitu saja. Sangking sudah seringnya. Terlalu rutin.
(hening sejenak)
Setelah membaca kalimat itu, sudah pasti aliran darah langsung naik ke kepala. Tapi karena saya sudah menguasai "Ilmu Pengendalian Diri Terhadap Pertanyaan Maut", saya mencoba diam, menarik nafas panjang dan mencoba menerbitkan senyum, seperti berusaha memarodikan pernyataan itu. Sejujurnya, saya tahu jawaban yang pasti bisa memutarbalikkan keadaaan dan membuat teman saya itu menutup mulutnya dan berhenti "menyerang" saya. Dan apa yang saya tuliskan kemudian memang ternyata mampu membungkamnya. Di akhir tulisan ini nanti akan saya tuliskan jawaban saya.
Saya tidak melawan. Tapi sungguh, saya tidak mengerti dengan pernyataan seperti yang dilontarkan teman saya itu. Saya menuliskan ini dengan keadaan sadar dan sungguh-sungguh ingin bertanya, maksudnya apa ya? Bagi yang pernah membaca tulisan saya di blog ini, saya juga pernah menuliskan tulisan bertema serupa. Tapi sekarang saya benar-benar butuh untuk menelaah pernyataan itu. Maksudnya apa ya?
Apakah saya salah karena memiliki pekerjaan mapan? Apakah saya yang salah, karena bisa bepergian ke luar negeri, mewujudkan mimpi dan hasrat saya dengan uang hasil keringat saya sendiri? Apakah saya, sebagai perempuan, tidak bisa memangku jabatan? Apakah kondisi profesi saya dan pendapatan yang saya hasilkan itu membuat saya terlalu arogan untuk menikah dan memilih calon pendamping? Maksudnya, saya harus bagaimana? Sepertinya, kok, saya merasa orang-orang menyalahkan karier dan pendapatan saya sebagai penyebab saya tidak "laku" sampai sekarang, ya? Salah saya di mana, ya?
Se-arogan itukah para lelaki bujangan di luar sana? Atau semua akan ketakutan kalau berhadapan dengan perempuan dengan karier yang jelas? Wah, saya tambah bingung. Toh, karier saya biasa-biasa saja sepertinya. Enggak cemerlang-cemerlang banget juga, kok. entah dari mana semua orang-orang ini menyimpulkan seragam.
Bukannya seharusnya para lelaki ini merasa tertantang dan senang hati untuk bisa bersanding dengan perempuan-perempuan yang terbukti mampu mengatur kehidupannya sendiri ya? Atau maksudnya, para lelaki bujangan ini maunya bersanding dengan perempuan-perempuan yang bisa selalu berada di "bawah" nya ya? apakah itu yang membuat saya selalu gagal menjalin hubungan dengan lelaki? Entahlah...
Saya (ini saya, lho) tidak pernah takut bertemu dan berkenalan dengan pria yang saya tahu jelas memiliki posisi sosial, pendapatan dan pendidikan yang jauh lebih mumpuni dari saya. Bagi saya, itu berkat, karena saya bisa belajar banyak dari semua orang yang kehidupannya lebih baik dari saya. Saya tidak pernah merasa rendah diri, karena saya tahu, kita semua sedang menjalankan peran masing-masing. Saya selalu yakin, rezeki setiap orang sudah ditentukan. Tinggal usaha yang membedakan hasil akhirnya. Itu saya yakini sekali.
Saya belum menemukan formula jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya tadi. Sungguh saya ingin bertanya, khususnya ke kaum lelaki. Karena saya tahu, saya masih harus menghadapi pertanyaan dan pernyataan penuh nada "serangan" seperti tadi sampai beberapa waktu ke depan. Sampai saya menemukan lelaki yang cukup berani menghadapi saya. Sampai itu terjadi, mungkin saya hanya perlu mengatur tekanan darah dan kadar emosi jika ada yang melontarkan pernyataan atau pertanyaan serupa.
Oh iya, seperti yang saya jelaskan di atas tadi, ini jwaban saya yang mampu membungkam pernyataan teman saya tadi.
Sekali lagi, kutambahkan tanda senyuman, demi sopan santun dan ramah tamah. Sukses, karena dia cuma menjawab, "Oc lah..."
:)
Pembicaraan kemudian berkembang. Semakin "berkembang" ketika setelah beberapa pertanyaan dan pernyataan basa-basi, teman saya itu mulai "menyerang" dengan pertanyaan inti yang (saya yakin) pasti sudah ingin ditanyakannya sejak awal pembicaraan. "Kau kapan nyusul, Yet? Anakmu udah berapa?". Saya, yang sudah terlatih menghadapi dan menjawab pertanyaan model begini, tentu menjawab bijaksana. "Oh, belum. Doain aja. Anak-anak banyak, kok, banyak keponakan," kataku sambil membubuhkan tanda senyum yang (menurutku) melengkapi sikap santunku.
Tapi, tentu saja, skenario "penyerangan" tak berhenti di situ. Sudah pasti pertanyaan lanjutan akan mengikuti. Aku pun sudah menyiapkan amunisi jawaban yang cukup. Aku sudah terlatih menghadapi situasi seperti ini sejak beberapa tahun belakangan. Dulu aku selalu menjawab berapi-api, mencoba menangkis "serangan" pertanyaan-pertanyaan itu dengan keras. Tapi sekarang aku menemukan metode baru. Diam saja, amini, iyakan, lantas lontarkan senyum. Terbukti ampuh untuk perisai. Kalau kurang dan tidak mempan juga, keluarkan manuver kalimat-kalimat cerdas yang memutarbalikkan keadaan. Seperti siang tadi.
Pernyataan yang kemudian terlontar oleh temanku itu, kira-kira begini bunyinya. "Wah, ini kebanyakan nyari uang ini. Cari uanganya jangan terlalu serius, Yet". Sampai di situ, aku masih menanggapi dengan senyum ringan. Tidak ada yang kumasukkan ke dalam hati. Bagiku, pernyataan seperti itu ibarat selingan camilan sore hari. Berlalu begitu saja. Sangking sudah seringnya. Terlalu rutin.
Kemudian, "serangan utama" dimulai. Begini isinya. "Makanya, kalau masih muda, jabatan jangan tinggi-tinggi dulu. Orang pada takut, Yet".
(hening sejenak)
Setelah membaca kalimat itu, sudah pasti aliran darah langsung naik ke kepala. Tapi karena saya sudah menguasai "Ilmu Pengendalian Diri Terhadap Pertanyaan Maut", saya mencoba diam, menarik nafas panjang dan mencoba menerbitkan senyum, seperti berusaha memarodikan pernyataan itu. Sejujurnya, saya tahu jawaban yang pasti bisa memutarbalikkan keadaaan dan membuat teman saya itu menutup mulutnya dan berhenti "menyerang" saya. Dan apa yang saya tuliskan kemudian memang ternyata mampu membungkamnya. Di akhir tulisan ini nanti akan saya tuliskan jawaban saya.
Saya tidak melawan. Tapi sungguh, saya tidak mengerti dengan pernyataan seperti yang dilontarkan teman saya itu. Saya menuliskan ini dengan keadaan sadar dan sungguh-sungguh ingin bertanya, maksudnya apa ya? Bagi yang pernah membaca tulisan saya di blog ini, saya juga pernah menuliskan tulisan bertema serupa. Tapi sekarang saya benar-benar butuh untuk menelaah pernyataan itu. Maksudnya apa ya?
Apakah saya salah karena memiliki pekerjaan mapan? Apakah saya yang salah, karena bisa bepergian ke luar negeri, mewujudkan mimpi dan hasrat saya dengan uang hasil keringat saya sendiri? Apakah saya, sebagai perempuan, tidak bisa memangku jabatan? Apakah kondisi profesi saya dan pendapatan yang saya hasilkan itu membuat saya terlalu arogan untuk menikah dan memilih calon pendamping? Maksudnya, saya harus bagaimana? Sepertinya, kok, saya merasa orang-orang menyalahkan karier dan pendapatan saya sebagai penyebab saya tidak "laku" sampai sekarang, ya? Salah saya di mana, ya?
Se-arogan itukah para lelaki bujangan di luar sana? Atau semua akan ketakutan kalau berhadapan dengan perempuan dengan karier yang jelas? Wah, saya tambah bingung. Toh, karier saya biasa-biasa saja sepertinya. Enggak cemerlang-cemerlang banget juga, kok. entah dari mana semua orang-orang ini menyimpulkan seragam.
Bukannya seharusnya para lelaki ini merasa tertantang dan senang hati untuk bisa bersanding dengan perempuan-perempuan yang terbukti mampu mengatur kehidupannya sendiri ya? Atau maksudnya, para lelaki bujangan ini maunya bersanding dengan perempuan-perempuan yang bisa selalu berada di "bawah" nya ya? apakah itu yang membuat saya selalu gagal menjalin hubungan dengan lelaki? Entahlah...
Saya (ini saya, lho) tidak pernah takut bertemu dan berkenalan dengan pria yang saya tahu jelas memiliki posisi sosial, pendapatan dan pendidikan yang jauh lebih mumpuni dari saya. Bagi saya, itu berkat, karena saya bisa belajar banyak dari semua orang yang kehidupannya lebih baik dari saya. Saya tidak pernah merasa rendah diri, karena saya tahu, kita semua sedang menjalankan peran masing-masing. Saya selalu yakin, rezeki setiap orang sudah ditentukan. Tinggal usaha yang membedakan hasil akhirnya. Itu saya yakini sekali.
Saya belum menemukan formula jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya tadi. Sungguh saya ingin bertanya, khususnya ke kaum lelaki. Karena saya tahu, saya masih harus menghadapi pertanyaan dan pernyataan penuh nada "serangan" seperti tadi sampai beberapa waktu ke depan. Sampai saya menemukan lelaki yang cukup berani menghadapi saya. Sampai itu terjadi, mungkin saya hanya perlu mengatur tekanan darah dan kadar emosi jika ada yang melontarkan pernyataan atau pertanyaan serupa.
Oh iya, seperti yang saya jelaskan di atas tadi, ini jwaban saya yang mampu membungkam pernyataan teman saya tadi.
"Karier itu rezeki. Kalau ada yang takut dengan rezekiku, berarti dia laki-laki yang enggak percaya diri. Pertanyaan justru dibalik. Masih muda, banyak kesempatan, kok belum punya jabatan?'.
Sekali lagi, kutambahkan tanda senyuman, demi sopan santun dan ramah tamah. Sukses, karena dia cuma menjawab, "Oc lah..."
:)
Senin, November 05, 2012
Kau Menikah? Selamat!
Aku melakukan kesalahan fatal malam ini. Entah kenapa tergerak untuk membuka album foto lama di antara tumpukan file di komputer ini. Malam menjelang, lampu di kantor sudah redup. Hanya sinar-sinar kecil yang menemani dari beberapa lampu cadangan di ruangan ini.
Satu per satu foto terbuka, sampai menampilkan wajah sumringahmu. Sejenak terlintas di pikiran,
Di headphone mengalun lagu Fake Plastic Tree milik Radiohead berulang-ulang. "Fake plastic love", begitu salah satu kalimat di lirik lagu itu. Dan berulang-ulang pula ingin kuteriakkan dari mulut ini. "Fake plastic love..fake plastic love..fake plastic love..". Berharap tiga kata itu bisa berubah jadi mantra, untuk bisa menghilangkan semua momenku bersamamu..hilang selamanya...
Harus hilang, harus terhapus, harus. Karena bulan depan kau sudah akan menikah dengan orang lain. Sepuluh bulan. "Hanya" sepuluh bulan lamanya aku memutuskan untuk tidak lagi mengganggumu. Menghilang dari kehidupanmu. Dan dalam sepuluh bulan itu, kau menemukan yang baru. Selamat.
Jadi ketika malam ini wajahmu terpampang di monitor 15 inchi ini, tertawa lepas saat menghabiskan malam yang panjang di pulau seberang bersamaku, dingin langsung menusuk tulang ini.
Sepuluh bulan ternyata cukup untukmu, menggantikan tahun-tahun yang sudah lama berlalu. Tahun-tahun saat aku menunggumu...
Sudahlah! Tak ada gunanya meleburkan diri dalam drama nestapa ini. Aku pun tak cukup "kudus" untuk melontarkan kata-kata mutiara ucapan selamat untukmu. Selamat melanjutkan hidupmu. Aku pun akan melanjutkan hidup. Hidup yang sempat "terhenti" bertahun-tahun saat aku menunggumu...
Selamat.
Satu per satu foto terbuka, sampai menampilkan wajah sumringahmu. Sejenak terlintas di pikiran,
"Apa yang salah..kenapa akhirnya bisa seperti ini..."
Di headphone mengalun lagu Fake Plastic Tree milik Radiohead berulang-ulang. "Fake plastic love", begitu salah satu kalimat di lirik lagu itu. Dan berulang-ulang pula ingin kuteriakkan dari mulut ini. "Fake plastic love..fake plastic love..fake plastic love..". Berharap tiga kata itu bisa berubah jadi mantra, untuk bisa menghilangkan semua momenku bersamamu..hilang selamanya...
Harus hilang, harus terhapus, harus. Karena bulan depan kau sudah akan menikah dengan orang lain. Sepuluh bulan. "Hanya" sepuluh bulan lamanya aku memutuskan untuk tidak lagi mengganggumu. Menghilang dari kehidupanmu. Dan dalam sepuluh bulan itu, kau menemukan yang baru. Selamat.
Jadi ketika malam ini wajahmu terpampang di monitor 15 inchi ini, tertawa lepas saat menghabiskan malam yang panjang di pulau seberang bersamaku, dingin langsung menusuk tulang ini.
Sakit.
Sepuluh bulan ternyata cukup untukmu, menggantikan tahun-tahun yang sudah lama berlalu. Tahun-tahun saat aku menunggumu...
Sudahlah! Tak ada gunanya meleburkan diri dalam drama nestapa ini. Aku pun tak cukup "kudus" untuk melontarkan kata-kata mutiara ucapan selamat untukmu. Selamat melanjutkan hidupmu. Aku pun akan melanjutkan hidup. Hidup yang sempat "terhenti" bertahun-tahun saat aku menunggumu...
Selamat.
Rabu, Agustus 15, 2012
Tentang Menganalisis
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menganalisis berarti:
tindakan penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan
bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh
pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
Kalau diambil ringkasan sederhana, menganalisis berarti mengurai fakta, mencermatinya dan lantas menarik kesimpulan atas fakta tersebut.
Analisis pastilah lahir dari kekhawatiran. Berawal dari pertanyaan, "Bener enggak ya...", "Kayaknya...","Oh, mungkin...", dan banyak lagi. Meski jauh dari angan-angan, tapi selayaknya manusia tak perlu khawatir. Karena menurut pernyataan cerdas dari seseorang di masa lampau, kekhawatiran manusia itu sebenarnya hampir 90 persen tidak terjadi. Tapi sepertinya banyak manusia-manusia yang belum lepas dari rasa khawatir, karena itu kita sibuk menganalisis, termasuk saya.
Tapi tahukah kalian, kegiatan menganalisis sering berakhir pada kesimpulan yang tak terlalu benar, alias sedikit salah? Itulah kenapa, sejak memulai sesuatu, seharusnya janganlah bertekad untuk menganalisis terlalu dalam. Harusnya lebih menikmati proses demi proses terbentuknya fakta, bukan malah menghabiskan lebih banyak waktu untuk memutar otak dan menganalisis fakta tersebut. Tapi namanya manusia biasa, semakin banyak diingatkan, semakin sering pula kesalahan dilakukan. Akhirnya sudah bisa ditebak, akan jatuh ke "perangkap" yang sama, bak keledai.
Untuk urusan asmara, efek terlalu banyak menganalisis akan menjadi lebih rumit dan menyusahkan. Sampai-sampai, menurut saya, seharusnya ada aturan tertulis yang berisi peringatan untuk tidak menganalisis di masa-masa awal perkenalan dengan lawan jenis. Nikmati saja setiap prosesnya. Persetan dengan analisis. Begitu idealnya. Itu menurut saya.
Tapi yang terjadi tentu saja kebalikannya. Apalagi karena melibatkan dua jenis kelamin, dua tipe, dan dua karakter. Tak bisa dielakkan. Yang satu sibuk menganalisis kata per kata yang terucap dan tertulis, yang satu lagi sibuk menganalisis gerak tubuh dan cara berbicara. Syukur-syukur kalau analisisnya benar, semua akan berjalan benar pula. Mulus. Manis. Indah. Tak bertepuk sebelah tangan. Tipikal kisah cinta putri raja dan pangeran dalam dongeng. Sempurna.
Sial, jika ternyata salah satu pihak salah menganalisis. Drama pun dimulai. Sontak, semua rekaman analisis pasti akan melintas secepat kilat di pikiran, hingga bermuara di banyak pertanyaan standar seperti, "Tapi kan,...", "Masa sih...?", "Enggak mungkin, lah, wong,....", dan banyak lagi. Adakah jawaban yang tersedia? Entahlah.
Jadi, haruskah menghabiskan banyak waktu untuk menganalisis? Atau justru tinggalkan saja semua, nikmati proses secara natural dan berbahagia? Hanya kalian yang bisa menjawab..
-Yetta "over-analyzed" Angelina-
Kalau diambil ringkasan sederhana, menganalisis berarti mengurai fakta, mencermatinya dan lantas menarik kesimpulan atas fakta tersebut.
Analisis pastilah lahir dari kekhawatiran. Berawal dari pertanyaan, "Bener enggak ya...", "Kayaknya...","Oh, mungkin...", dan banyak lagi. Meski jauh dari angan-angan, tapi selayaknya manusia tak perlu khawatir. Karena menurut pernyataan cerdas dari seseorang di masa lampau, kekhawatiran manusia itu sebenarnya hampir 90 persen tidak terjadi. Tapi sepertinya banyak manusia-manusia yang belum lepas dari rasa khawatir, karena itu kita sibuk menganalisis, termasuk saya.
Tapi tahukah kalian, kegiatan menganalisis sering berakhir pada kesimpulan yang tak terlalu benar, alias sedikit salah? Itulah kenapa, sejak memulai sesuatu, seharusnya janganlah bertekad untuk menganalisis terlalu dalam. Harusnya lebih menikmati proses demi proses terbentuknya fakta, bukan malah menghabiskan lebih banyak waktu untuk memutar otak dan menganalisis fakta tersebut. Tapi namanya manusia biasa, semakin banyak diingatkan, semakin sering pula kesalahan dilakukan. Akhirnya sudah bisa ditebak, akan jatuh ke "perangkap" yang sama, bak keledai.
Untuk urusan asmara, efek terlalu banyak menganalisis akan menjadi lebih rumit dan menyusahkan. Sampai-sampai, menurut saya, seharusnya ada aturan tertulis yang berisi peringatan untuk tidak menganalisis di masa-masa awal perkenalan dengan lawan jenis. Nikmati saja setiap prosesnya. Persetan dengan analisis. Begitu idealnya. Itu menurut saya.
Tapi yang terjadi tentu saja kebalikannya. Apalagi karena melibatkan dua jenis kelamin, dua tipe, dan dua karakter. Tak bisa dielakkan. Yang satu sibuk menganalisis kata per kata yang terucap dan tertulis, yang satu lagi sibuk menganalisis gerak tubuh dan cara berbicara. Syukur-syukur kalau analisisnya benar, semua akan berjalan benar pula. Mulus. Manis. Indah. Tak bertepuk sebelah tangan. Tipikal kisah cinta putri raja dan pangeran dalam dongeng. Sempurna.
Sial, jika ternyata salah satu pihak salah menganalisis. Drama pun dimulai. Sontak, semua rekaman analisis pasti akan melintas secepat kilat di pikiran, hingga bermuara di banyak pertanyaan standar seperti, "Tapi kan,...", "Masa sih...?", "Enggak mungkin, lah, wong,....", dan banyak lagi. Adakah jawaban yang tersedia? Entahlah.
Jadi, haruskah menghabiskan banyak waktu untuk menganalisis? Atau justru tinggalkan saja semua, nikmati proses secara natural dan berbahagia? Hanya kalian yang bisa menjawab..
-Yetta "over-analyzed" Angelina-
Labels
- Cerita Liputan (1)
- Doa (1)
- Inspirasi Lagu (1)
- Intro (1)
- Liburan (1)
- Protes dan Kritik (1)
- Resolusi (1)
- sahabat (1)
- Selingan (1)
- Ulang Tahun (2)
- Urusan Hati (4)
- Urusan Jiwa (5)
Tautan Ku...
Tentang Ku...
- Yetta Angelina
- I'm simple. Nothing special to described about me. I'm a cheerfull person, and i'm not really good in hiding something from other people. I'm not a stabilized person. This minute i can laugh, but in the next minute, i could cry loud...:)




