Kamis, Oktober 24, 2013

Aku dan Hujan

Hujan selalu mengingatkanku padanya. Selalu. Seperti sore ini, saat hujan turun mendera tanpa ampun membasahi tanah ibukota ini, aku mengingatnya. Mengingat suatu sore serupa di sebelah utara Jogjakarta. Sore itu, aku bersamanya. Tak kuingat persis berapa tahun sudah berlalu sejak sore itu. Mungkin sepuluh tahun lalu. Tapi sore itu istimewa, karena aku bersamanya, lelakiku.

Konyol memang, apa yang dilakukannya padaku sore itu. Tapi entah kenapa, setiap hujan turun, kejadian konyol itu yang selalu kuingat. Sore itu, dia, lelaki yang menghiasi hari dan hatiku bertahun-tahun lalu itu, terjebak hujan lebat. Dan dia pun terjebak denganku dan dengan hujan. Tapi diam-diam, aku berterimakasih pada hujan, sudah menjebakku dan menambahkan atmosfer sempurna sore itu. Bahkan rasanya, settingan sinetron pun kalah indah dengan yang kami alami sore itu.

Hujan deras, tapi kami harus pulang. Belum ada sepeda motor, belum ada mobil. Uang di saku hanya cukup membawa kami pulang dengan becak. Apa boleh buat, daripada terjebak dengan air hujan yang tak kunjung berhenti, ditambah dingin yang semakin menusuk tulang, kami memutuskan untuk menaiki becak. Baru saja berpikir tentang becak, sebuah becak lewat. Dengan baik hati bapak pengemudi becak yang sudah tua renta itu berhenti dan bersedia membawa kami berdua. Aku dan dia.

Tapi kondisi jalan yang basah, jarak pandang yang terbatas, membuat pengendara becak yang sudah renta itu terlihat kesulitan meminggirkan becaknya. Ketika akhirnya dia berhasil menepikan becaknya, kami berdua berusaha menaiki becak dengan susah payah. Saat itulah kejadian konyol itu terjadi. Saat kami berdua serentak menaiki becak, entah bagaimana dan apa yang terjadi, becak itu seketika terbalik!

Sungguh aku tak berbohong. Becak itu terbalik dan menimpa kami berdua! Untung, karena tak seluruh beban becak menimpa tubuh kami. Dan saat itu hujan masih turun dengan lebatnya. Terduduk di sana, di pinggir jalan raya di sudut utara kota Jogja, dengan becak menimpa kami. Kulihat wajahnya yang berada di sampingku yang terlihat panik melihat becak menimpa tubuh kami. Tak hentinya dia berteriak padaku berulang-ulang menanyakan apakah aku baik-baik saja.

Reaksi pertamaku tentu saja malu dan mau marah, tapi kulihat wajahnya, wajah lelakiku itu, tak bisa kupikirkan hal lain yang harus kulakukan selain tertawa. Menertawakan kami, menertawakan becak yang menimpa tubuhku, menertawakan hujan yang tak kunjung reda, menertawakan pengguna jalan lain yang juga terheran-heran melihat kami. Tapi yang terutama, aku ingin menertawakan momen itu, dengannya. Kembali aku memandangnya dengan senyum. Aku tahu saat itu dia bisa membaca pikiranku yang berkata, "Aku enggak apa-apa. Kita lucu sekali". Aku benar, karena dia pun langsung tertawa usai melihat wajahku. Kami puas tertawa sore itu meninggalkan bapak pengendara becak yang kebingungan.

Akhirnya becak itu diangkat dari tubuh kami. Lelakiku memapahku berdiri. Saat benar-benar kakiku menjejak tanah, aku mendongak dan melihat wajahnya sekali lagi yang ada persis di hadapanku. Kuberikan senyum terbaikku padanya. Hatiku berkata saat itu, "Aku mencintai lelaki ini". Walau tak kuucapkan. Dia, lelakiku ini, tahu persis cara kerja tubuh dan pikiranku. Jadi aku tahu, sore itu, dia tahu apa yang kupikirkan. Dia merentangkan tangannya dan langsung memelukku. Hujan boleh saja terus mendera tubuhku, dingin tak berhenti menusuk kulitku, tapi dalam pelukannya, tak ada yang lain selain kehangatan. Meski sedetik kemudian dia melepaskan pelukannya karena menyadari bapak pengendara becak kami sudah memperbaiki becaknya untuk dapat kami naiki.

Akhirnya kami duduk di becak itu. Berdua, kami berhimpitan di dalam becak. Dia merangkulkan lengannya melingkar di punggungku, seperti menjagaku untuk tetap nyaman dan hangat. Kami berdua basah kuyup, tapi dingin tak kurasakan lagi. Semua berganti hangat. Kusandarkan kepala ini ke dadanya sambil menunggu bapak pengendara becak menutup terpal plastik di hadapan kami agar terhindar dari terpaan hujan dari bagian depan.

Aku tahu, pastilah rupaku tak karuan sore itu. Basah kuyup, plus bibir yang nyaris membiru karena kedinginan. Tapi aku tak berhenti tersenyum sembunyi-sembunyi sambil terus menempelkan kepala dan wajah ini di dadanya seakan mencari perlindungan. Tak sekalipun aku berkata-kata sore itu. Aku aman di pelukannya, di antara lengan dan bahunya yang kokoh. Aku aman.

"Kau enggak apa-apa?," tanyanya lagi sambil memandang wajahku. Aku mendongak dan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Saat itulah dia menatapku tajam dan tiba-tiba mendaratkan kecupan di keningku. Lelakiku, lelaki paling tidak romantis di dunia ini, sore itu meluluhkan hatiku. Setelah itu dia tak berkata apa-apa lagi sampai kami tiba di tujuan. Tak sekalipun dia melonggarkan pelukannya, dan tak sekalipun pula aku melepaskan kepalaku dari dadanya. Rasanya, aku ingin selamanya ada di dalam becak itu.

Di tengah hujan, di bilik becak yang sempit itu, aku menemukan kebahagiaan seluas samudera. Saat itu aku tahu, lelaki ini pun mengasihiku. Tak perlu kata-kata puitis dan romantis atau seikat bunga mawar. Hanya pelukan erat tanpa henti dan satu kecupan, dia sudah melakukan segalanya.

Karena itulah aku selalu mengingatnya, mengingat lelakiku setiap hujan turun. Di belahan bumi manapun aku berpijak, setiap hujan turun, pikiran ini langsung bertolak ke sore itu, di pinggir Ring Road Utara Jogjakarta yang diterpa hujan deras. Meskipun sekarang sudah lima tahun berlalu sejak kami sepakat mengakhiri kisah sewindu yang kami lewati, meski kini aku tak lagi berbicara dengannya, tak lagi tahu bagaimana keadaannya, meskipun dia sudah berbahagia dengan istri dan anaknya. Meskipun aku tetap di sini, sendiri. Tapi setiap hujan turun, aku akan selalu mengingat sore itu.

Sore terbaikku dengan lelakiku kala itu...

Karena itulah, aku selalu suka hujan...

Rabu, Juli 17, 2013

Hari Itu, di Père Lachaise Cemetery…




Saya sangat ingin menikmati kesunyian saat ini. Sekarang semua terlalu “bersuara”, mengganggu telinga..Terlalu riuh, terlalu ricuh…

Saya ingat beberapa bulan lalu, saya menginjakkan kaki di kota Paris. Di saat semua orang berlomba mengabadikan foto di Menara Eiffel (yang juga saya lakukan), saya dan rekan seperjalanan saya memutuskan untuk mengunjungi pemakaman. Bayangkan, kami menempuh perjalanan dari Jakarta ribuan kilometer jauhnya, dan kami memutuskan untuk datang dan berkunjung ke pemakaman.

Père Lachaise Cemetery namanya. Penduduk asli Prancis akan menyebutnya Cimetière du Père Lachaise. Pemakaman ini adalah salah satu pemakaman paling luas di kota Paris, memakan lahan seluas 44 hektar.
Jangan langsung membayangkan pemakaman di Indonesia, yang seringkali lebih menonjolkan unsur kengerian. Bukan tidak nasionalis, hanya saja saya pikir bangsa Barat lebih memahami konsep pemakaman sebagai memorial, tempat mengingat dan mengenang kehidupan sesorang dengan cara yang baik, bukan dengan menakut-nakuti dengan cerita dan atmosfer super seram.

Père Lachaise Cemetery berada di 20th arrondissement. Mungkin kalau di Indonesia, arrondissement itu seperti kecamatan, lah.  Di Paris, “kecamatan” itu diberi julukan arrondissement. Di Paris, terdapat 20 arrondissement.

Tak sulit menemukan lokasi Père Lachaise Cemetery. Saking luasnya, pemakaman ini memang bisa diakses dari beberapa pintu masuk yang langsung terkoneksi dengan jaringan transportasi, terutama Paris Métro (kereta api bawah tanah-nya Paris). Saat itu kami memutuskan untuk turun di stasiun Père Lachaise dan berjalan kaki sekitar 500 meter menuju pintu masuk Père Lachaise Cemetery.

Saat memasuki gerbang pemakaman, memang kesan misterius dan “gelap” langsung terasa. Tapi tidak menyeramkan. Untungnya saat itu tengah musim gugur. Pepohonan sedang indah-indahnya berhiaskan dedaunan berwarna cokelat keemasan dan satu per satu daun-daun itu lepas dari rantingnya saat angin kencang berhembus. Pas. Pemandangan yang sempurna.

Pemakaman ini terlalu luas untuk sekedar dijelajahi tanpa arah. Karena itu, di setiap sudut terdapat peta yang bisa mengarahkan pengunjung. Saat melihat daftar pemakaman, jangan heran, karena banyak nama tersohor yang dimakamkan di sini. Pemakaman ini seakan menjadi saksi keagungan Prancis selama 200 tahun belakangan. Nama-nama hebat yang tertera di daftar nisan membuat saya terkagum-kagum. Seumur hidup, belum pernah saya setakjub itu saat mengunjungi pemakaman.

Mereka yang dimakamkan di Père Lachaise Cemetery adalah orang-orang yang secara langsung atau tidak langsung memberi warna dan kontribusi terhadap Prancis dan dunia. Dari penyair, pahlawan perang, politikus hingga rocker. Semua terbaring damai di pemakaman yang kabarnya memuat nyaris satu juta nisan.


Saya memandangi satu per satu nisan yang saya lewati. Tak ada rasa takut, malah damai. Tepat di saat itu, konsep saya tentang kematian berubah 180 derajat. Kalau di pemakaman di dunia saja bisa terasa indah seperti ini, bagaimana nanti “di alam sana”? Entah kenapa, saya yakin, "di sana" nanti tidak mungkin lebih buruk dari ini.




Sesekali saya berhenti di nisan yang sepertinya baru saja dikunjungi. Di sana-sini masih terlihat bunga segar di sekitar nisan. Nisan-nisan dan pemakaman yang ada di sini pun tidak biasa-biasa saja. Kebanyakan dari mereka dibangun dengan megah, bahkan ada yang bak istana. Tapi entah kenapa, tidak terkesan berlebihan. 
Mungkin karena selera bangsa Eropa yang sangat artistik.

Saya tiba di salah satu makam paling penting di Père Lachaise Cemetery. Tak susah menemukan makam ini saat itu. Dari kejauhan saya sudah mendengar sayup-sayup musik mengalun. Saat itu saya tahu, saya telah menemukan makam Jim Morrison, pentolan grup band The Doors yang tersohor itu. Jim Morrison sebenarnya asli Amerika Serikat. Namun ia meninggal dunia di Paris pada 3 Juli 1071 di usia 27 tahun dan dimakamkan di sini.


Saat saya tiba di sana, seorang fans fanatiknya mencuri perhatian saya. Dia, pria itu, yang memasang musik The Doors saat itu. Berbekal ipod dan ipod dock, dia memutar lagu-lagu The Doors sambil menghembuskan gelembung-gelembung sabun di sekitar makam sang idola. Saya yakin, pria itu sangat mencintai karya-karya Jim Morrison. Ia tak peduli banyak orang memandanginya dengan raut penuh tanda tanya. Ia ikut bernyanyi melantunkan lagu demi lagu sambil terus menghembuskan gelembung-gelembung ke udara. Mendengar suara Jim Morrison bernyanyi tepat di depan makamnya saat itu, bulu kuduk saya berdiri. Bukan karena takut, tapi saya (lagi-lagi) takjub.

Sayang, sudah beberapa tahun belakangan ini makam Jim Morrison harus dipagari dengan pagar-pagar besi, berbeda dengan makam lainnya. Maklum, keluarga ingin melindungi makam Jim dari sejumlah ritual “aneh” dan vandalisme berlebihan dari penggemar fanatiknya.

Jim Morrison bukanlah satu-satunya pesohor yang dimakamkan di Père Lachaise Cemetery. Ada Frédéric Chopin, sang komposer terkenal itu. Ada pula makam Oscar Wilde, pujangga kenamaan dunia, dan ribuan makam lain.

Berat rasanya melangkahkan kaki keluar dari Père Lachaise Cemetery. Saya belum pernah mengunjungi pemakaman lain di luar Indonesia. Ini baru kali pertama. Tapi entah kenapa, saya rasa akan sulit mengimbangi keindahan Père Lachaise Cemetery. Perjalanan singkat saya ke Père Lachaise Cemetery mengajarkan saya banyak hal. Tentang kehidupan dan tentang kematian. Tentang kenangan, tentang legacy, tentang warisan. Tentang ketenangan, tentang “berhenti” sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan bersyukur. Tentang melapangkan hati, tentang menenangkan jiwa, tentang nostalgia.

Dan yang terpenting, tentang ikhlas…
   

Minggu, Juni 23, 2013

Membungkus Duka dengan Tawa

Sepekan lalu, aku berpapasan dengan seorang rekan kerja. Kami bekerja di kantor dan ruangan yang sama. Jadi setiap harinya, pasti dia hapal betul tingkah lakuku, dan sebaliknya. Siang itu, kami berpapasan di kantin saat jam makan siang. Begitu melihatku, dia langsung berkata, "Ih, enak banget ya jadi Yetta ini. Selalu terlihat bahagia, ceria. Kayaknya enggak pernah susah. Pengen deh kayak Yetta."

Saat itu, reaksiku bisa saja. Dengan ringan kujawab, "Ya ngapain juga susah? Ya udah sih." Sesederhana itu jawabanku. Hanya saja, di hatiku terdalam pun tahu aku sedang melakukan salah satu kebohongan terbesar. Andai saja temanku itu tahu apa yang sedang menimpaku hari itu. Mungkin akan sekonyong-konyong dia akan menarik perkataannya dan bahkan mungkin berharap dia tidak menjadi seperti yang selalu terlihat "ceria" ini.

Entah kenapa, temanku ini harus memilih hari itu untuk menyampaikan pendapatnya tentangku. Hari dimana justru aku berpikir bahwa ada kemungkinan duniaku ini akan berakhir. Dia, temanku ini, harus menyampaikan kata-kata indah bernada pujian sarkastik itu tepat di hari itu, setelah aku menyelesaikan pemeriksaan kesehatanku.

Andai dia tahu, hari itu aku sudah ingin mati saja rasanya. Andai kau tahu, teman, hari itu kepala ini tak bisa berpikir jernih. Semua kecemasan dan kekhawatiran akan kemungkinan terburuk akan terjadi, menggelayuti pikiranku setiap menit, tepat di hari itu.

Tapi entah kenapa, sepertinya aku tak bisa menunjukkan raut wajah yang sesuai dengan isi hatiku. Hari itu, secara tampak luar, ya seperti hari-hari biasanya. Tapi andai ada superhero yang bisa melihat menembus ke dalam hati dan kepalaku, pasti dia akan tahu bahwa hari itu, aku nyaris hancur.

Aku jadi teringat beberapa pekan lalu aku sempat kesulitan mencari potret diriku yang terlihat tidak ceria. Nyaris tidak ada. Padahal aku memerlukan foto itu untuk kepentingan tulisan. Dan ternyata, setelah menghabiskan banyak waktu membongkar koleksi ribuan foto, aku tidak menemukan foto diriku yang tidak nyengir, tidak tertawa lebar, tidak senyum. Semua menampilkan ekspresi yang sama. Senyum lebar dan ceria, penuh kebahagiaan. Ha ha ha.

Memang, apapun masalah yang menimpa, seringkali aku menemukan cara untuk tetap tersenyum, atau setidaknya berpura-pura untuk tersenyum atau tertawa. Meski disaat yang bersamaan, dunia ini serasa runtuh dan ingin menghantam tubuhku, aku tetap berusaha tersenyum. Aku ingin pernyataan temanku tadi yang menjadi ingatan orang-orang tentangku. Yetta yang selalu ceria dan tersenyum, apapun masalahnya.

Kelak, aku ingin meninggalkan ingatan itu di hati dan pikiran setiap orang yang mengenalku.

Itu saja...

Kamis, Mei 02, 2013

Tidak "Lengkap"


Beberapa hari ini aku tidak nyaman dengan diriku sendiri. Aku bukan seperti aku. Aku menyadari itu dan orang-orang di sekelilingku pun mulai merasakan hal yang sama. “Kenapa, sih, loe?,” begitu mereka kerap bertanya. Sayangnya, aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Karena aku pun menyimpan pertanyaan yang sama. “What’s wrong with me?”.

Beberapa hari ini aku sedang merasa aku tidak menjadi diriku sendiri. Aku resah, untuk alasan yang aku pun tidak bisa menjelaskan. Aku mencoba tetap ceria, seperti aku biasanya. Senyum memang terpampang jelas di wajahku. Tapi entahlah, ada yang hilang…


Rasanya, aku sedang tidak bahagia…


Beberapa hari ini, aku merasakan sedih yang luar biasa, nyaris dalam segala hal. Sedih sekali…Entah kenapa. Aku merasa, saya harus “mengeluarkan” sesuatu, uneg-uneg atau apapun itu. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dan aku tidak tahu harus berlari ke siapa. Jangan salah mengartikan. Aku dikelilingi banyak orang yang (aku yakin) mengasihiku. Hanya saja, aku tidak mampu untuk bercerita pada mereka…

Beberapa hari ini, aku ingin sekali bercerita dengan seseorang, siapapun itu. Aku butuh pertolongan. Untuk meredakan gejolak di hatiku. Aku merasa harus ada seseorang atau sesuatu yang bisa menemukan dan kemudian meletakkan kepingan yang hilang dari hatiku, dari jiwaku, dari pikiranku.

Beberapa hari ini, ada yang hilang dariku. Aku diliputi kecemasan luar biasa. Entah karena apa. Aku berdoa sungguh-sungguh, tadi malam, untuk yang pertamakalinya sejak beberapa saat. Aku bahkan tidak mengeluarkan banyak kata-kata, hanya airmata bercucuran tanpa alasan. Aku tumpahkan semua. Tapi tetap, aku merasa ada yang hilang…


Aku tidak “lengkap”..


Beberapa hari yang lalu, seorang teman mengirimkan pesan singkat. Isinya seperti ini, “Apa lagi yang kurang? Karier loe ok, loe udah keliling dunia, apa yang kurang?”. Aku terdiam sejenak. Aku tidak tahu mau menjawab apa. Tapi dalam hati, aku ingin sekali menuliskan apa yang ada di pikiranku.


“Aku butuh seseorang…”


Rabu, Maret 27, 2013

Siapa yang Salah?

Tadi siang saya menerima broadcast message di telepon genggam saya. Isinya berita bahagia. Seorang teman seperjuangan saat berkuliah di Yogyakarta dulu, baru saja dikaruniai anak kedua. Setelah anak pertamanya berjenis kelamin perempuan, yang kedua ini, mereka dianugerahi bayi lelaki. Saya turut berbahagia tentunya, sebagai teman mereka. Dan sesuai prosedur kebahagiaan dan pertemanan, saya membalas pesan itu. Isinya, tentu saja, ucapan selamat diiringi doa agar kelak si jabang bayi tumbuh sehat.

Pembicaraan kemudian berkembang. Semakin "berkembang" ketika setelah beberapa pertanyaan dan pernyataan basa-basi, teman saya itu mulai "menyerang" dengan pertanyaan inti yang (saya yakin) pasti sudah ingin ditanyakannya sejak awal pembicaraan. "Kau kapan nyusul, Yet? Anakmu udah berapa?". Saya, yang sudah terlatih menghadapi dan menjawab pertanyaan model begini, tentu menjawab bijaksana. "Oh, belum. Doain aja. Anak-anak banyak, kok, banyak keponakan," kataku sambil membubuhkan tanda senyum yang (menurutku) melengkapi sikap santunku.

Tapi, tentu saja, skenario "penyerangan" tak berhenti di situ. Sudah pasti pertanyaan lanjutan akan mengikuti. Aku pun sudah menyiapkan amunisi jawaban yang cukup. Aku sudah terlatih menghadapi situasi seperti ini sejak beberapa tahun belakangan. Dulu aku selalu menjawab berapi-api, mencoba menangkis "serangan" pertanyaan-pertanyaan itu dengan keras. Tapi sekarang aku menemukan metode baru. Diam saja, amini, iyakan, lantas lontarkan senyum. Terbukti ampuh untuk perisai. Kalau kurang dan tidak mempan juga, keluarkan manuver kalimat-kalimat cerdas yang memutarbalikkan keadaan. Seperti siang tadi.

Pernyataan yang kemudian terlontar oleh temanku itu, kira-kira begini bunyinya. "Wah, ini kebanyakan nyari uang ini. Cari uanganya jangan terlalu serius, Yet". Sampai di situ, aku masih menanggapi dengan senyum ringan. Tidak ada yang kumasukkan ke dalam hati. Bagiku, pernyataan seperti itu ibarat selingan camilan sore hari. Berlalu begitu saja. Sangking sudah seringnya. Terlalu rutin.

Kemudian, "serangan utama" dimulai. Begini isinya. "Makanya, kalau masih muda, jabatan jangan tinggi-tinggi dulu. Orang pada takut, Yet". 

(hening sejenak)

Setelah membaca kalimat itu, sudah pasti aliran darah langsung naik ke kepala. Tapi karena saya sudah menguasai "Ilmu Pengendalian Diri Terhadap Pertanyaan Maut", saya mencoba diam, menarik nafas panjang dan mencoba menerbitkan senyum, seperti berusaha memarodikan pernyataan itu. Sejujurnya, saya tahu jawaban yang pasti bisa memutarbalikkan keadaaan dan membuat teman saya itu menutup mulutnya dan berhenti "menyerang" saya. Dan apa yang saya tuliskan kemudian memang ternyata mampu membungkamnya. Di akhir tulisan ini nanti akan saya tuliskan jawaban saya.

Saya tidak melawan. Tapi sungguh, saya tidak mengerti dengan pernyataan seperti yang dilontarkan teman saya itu. Saya menuliskan ini dengan keadaan sadar dan sungguh-sungguh ingin bertanya, maksudnya apa ya? Bagi yang pernah membaca tulisan saya di blog ini, saya juga pernah menuliskan tulisan bertema serupa. Tapi sekarang saya benar-benar butuh untuk menelaah pernyataan itu. Maksudnya apa ya?

Apakah saya salah karena memiliki pekerjaan mapan? Apakah saya yang salah, karena bisa bepergian ke luar negeri, mewujudkan mimpi dan hasrat saya dengan uang hasil keringat saya sendiri? Apakah saya, sebagai perempuan, tidak bisa memangku jabatan? Apakah kondisi profesi saya dan pendapatan yang saya hasilkan itu membuat saya terlalu arogan untuk menikah dan memilih calon pendamping? Maksudnya, saya harus bagaimana? Sepertinya, kok, saya merasa orang-orang menyalahkan karier dan pendapatan saya sebagai penyebab saya tidak "laku" sampai sekarang, ya? Salah saya di mana, ya?

Se-arogan itukah para lelaki bujangan di luar sana? Atau semua akan ketakutan kalau berhadapan dengan perempuan dengan karier yang jelas? Wah, saya tambah bingung. Toh, karier saya biasa-biasa saja sepertinya. Enggak cemerlang-cemerlang banget juga, kok. entah dari mana semua orang-orang ini menyimpulkan seragam.

Bukannya seharusnya para lelaki ini merasa tertantang dan senang hati untuk bisa bersanding dengan perempuan-perempuan yang terbukti mampu mengatur kehidupannya sendiri ya? Atau maksudnya, para lelaki bujangan ini maunya bersanding dengan perempuan-perempuan yang bisa selalu berada di "bawah" nya ya? apakah itu yang membuat saya selalu gagal menjalin hubungan dengan lelaki? Entahlah...

Saya (ini saya, lho) tidak pernah takut bertemu dan berkenalan dengan pria yang saya tahu jelas memiliki posisi sosial, pendapatan dan pendidikan yang jauh lebih mumpuni dari saya. Bagi saya, itu berkat, karena saya bisa belajar banyak dari semua orang yang kehidupannya lebih baik dari saya. Saya tidak pernah merasa rendah diri, karena saya tahu, kita semua sedang menjalankan peran masing-masing. Saya selalu yakin, rezeki setiap orang sudah ditentukan. Tinggal usaha yang membedakan hasil akhirnya. Itu saya yakini sekali.

Saya belum menemukan formula jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya tadi. Sungguh saya ingin bertanya, khususnya ke kaum lelaki. Karena saya tahu, saya masih harus menghadapi pertanyaan dan pernyataan penuh nada "serangan" seperti tadi sampai beberapa waktu ke depan. Sampai saya menemukan lelaki yang cukup berani menghadapi saya. Sampai itu terjadi, mungkin saya hanya perlu mengatur tekanan darah dan kadar emosi jika ada yang melontarkan pernyataan atau pertanyaan serupa.

Oh iya, seperti yang saya jelaskan di atas tadi, ini jwaban saya yang mampu membungkam pernyataan teman saya tadi.

"Karier itu rezeki. Kalau ada yang takut dengan rezekiku, berarti dia laki-laki yang enggak percaya diri. Pertanyaan justru dibalik. Masih muda, banyak kesempatan, kok belum punya jabatan?'. 

Sekali lagi, kutambahkan tanda senyuman, demi sopan santun dan ramah tamah. Sukses, karena dia cuma menjawab, "Oc lah..."

:)

Senin, November 05, 2012

Kau Menikah? Selamat!

Aku melakukan kesalahan fatal malam ini. Entah kenapa tergerak untuk membuka album foto lama di antara tumpukan file di komputer ini. Malam menjelang, lampu di kantor sudah redup. Hanya sinar-sinar kecil yang menemani dari beberapa lampu cadangan di ruangan ini.

Satu per satu foto terbuka, sampai menampilkan wajah sumringahmu. Sejenak terlintas di pikiran,
 "Apa yang salah..kenapa akhirnya bisa seperti ini..."

Di headphone mengalun lagu Fake Plastic Tree milik Radiohead berulang-ulang. "Fake plastic love", begitu salah satu kalimat di lirik lagu itu. Dan berulang-ulang pula ingin kuteriakkan dari mulut ini. "Fake plastic love..fake plastic love..fake plastic love..". Berharap tiga kata itu bisa berubah jadi mantra, untuk bisa menghilangkan semua momenku bersamamu..hilang selamanya...

Harus hilang, harus terhapus, harus. Karena bulan depan kau sudah akan menikah dengan orang lain. Sepuluh bulan. "Hanya" sepuluh bulan lamanya aku memutuskan untuk tidak lagi mengganggumu. Menghilang dari kehidupanmu. Dan dalam sepuluh bulan itu, kau menemukan yang baru. Selamat.

Jadi ketika malam ini wajahmu terpampang di monitor 15 inchi ini, tertawa lepas saat menghabiskan malam yang panjang di pulau seberang bersamaku, dingin langsung menusuk tulang ini.
Sakit. 

Sepuluh bulan ternyata cukup untukmu, menggantikan tahun-tahun yang sudah lama berlalu. Tahun-tahun saat aku menunggumu...

Sudahlah! Tak ada gunanya meleburkan diri dalam drama nestapa ini. Aku pun tak cukup "kudus" untuk melontarkan kata-kata mutiara ucapan selamat untukmu. Selamat melanjutkan hidupmu. Aku pun akan melanjutkan hidup. Hidup yang sempat "terhenti" bertahun-tahun saat aku menunggumu...

Selamat. 

Rabu, Agustus 15, 2012

Tentang Menganalisis

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menganalisis berarti: tindakan penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan.

Kalau diambil ringkasan sederhana, menganalisis berarti mengurai fakta, mencermatinya dan lantas menarik kesimpulan atas fakta tersebut.

Analisis pastilah lahir dari kekhawatiran. Berawal dari pertanyaan, "Bener enggak ya...", "Kayaknya...","Oh, mungkin...", dan banyak lagi. Meski jauh dari angan-angan, tapi selayaknya manusia tak perlu khawatir. Karena menurut pernyataan cerdas dari seseorang di masa lampau, kekhawatiran manusia itu sebenarnya hampir 90 persen tidak terjadi. Tapi sepertinya banyak manusia-manusia yang belum lepas dari rasa khawatir, karena itu kita sibuk menganalisis, termasuk saya.

Tapi tahukah kalian, kegiatan menganalisis sering berakhir pada kesimpulan yang tak terlalu benar, alias sedikit salah? Itulah kenapa, sejak memulai sesuatu, seharusnya janganlah bertekad untuk menganalisis terlalu dalam. Harusnya lebih menikmati proses demi proses terbentuknya fakta, bukan malah menghabiskan lebih banyak waktu untuk memutar otak dan menganalisis fakta tersebut. Tapi namanya manusia biasa, semakin banyak diingatkan, semakin sering pula kesalahan dilakukan. Akhirnya sudah bisa ditebak, akan jatuh ke "perangkap" yang sama, bak keledai.

Untuk urusan asmara, efek terlalu banyak menganalisis akan menjadi lebih rumit dan menyusahkan. Sampai-sampai, menurut saya, seharusnya ada aturan tertulis yang berisi peringatan untuk tidak menganalisis di masa-masa awal perkenalan dengan lawan jenis. Nikmati saja setiap prosesnya. Persetan dengan analisis. Begitu idealnya. Itu menurut saya.

Tapi yang terjadi tentu saja kebalikannya. Apalagi karena melibatkan dua jenis kelamin, dua tipe, dan dua karakter. Tak bisa dielakkan. Yang satu sibuk menganalisis kata per kata yang terucap dan tertulis, yang satu lagi sibuk menganalisis gerak tubuh dan cara berbicara. Syukur-syukur kalau analisisnya benar, semua akan berjalan benar pula. Mulus. Manis. Indah. Tak bertepuk sebelah tangan. Tipikal kisah cinta putri raja dan pangeran dalam dongeng. Sempurna.

Sial, jika ternyata salah satu pihak salah menganalisis. Drama pun dimulai. Sontak, semua rekaman analisis pasti akan melintas secepat kilat di pikiran, hingga bermuara di banyak pertanyaan standar seperti, "Tapi kan,...", "Masa sih...?", "Enggak mungkin, lah, wong,....", dan banyak lagi. Adakah jawaban yang tersedia? Entahlah.

Jadi, haruskah menghabiskan banyak waktu untuk menganalisis? Atau justru tinggalkan saja semua, nikmati proses secara natural dan berbahagia? Hanya kalian yang bisa menjawab..

-Yetta "over-analyzed" Angelina-