Kamis, Januari 13, 2011

28


07.01.11

Hari itu..tepat usiaku 28 tahun. Sudah hampir seminggu merasakan usia 28 tahun. Duapuluh delapan. Angka genap dan sempurna, apalagi jika dijumlahkan, sepuluh. Duapuluh delapan tahun. Yang terucap hanya satu, terimakasih. Untuk nafas kehidupan, untuk berkat, untuk kesehatan, untuk banyak kesempatan, dan untuk duka dan airmata yang membuatku seperti sekarang, di usia 28 tahun. Tentu, semua terucap untuk Yang Punya Kuasa, Yang Empunya Kehidupan. Terimakasih...

Sekarang, tidak menuntut banyak..Hanya kesehatan, agar tubuh ini bisa terus melawan usia, bisa terus berbahagia dan tak menjadi lemah, meski usia menggerus terus-menerus. Setelah itu, umur yang panjang, agar bisa membahagiakan banyak orang. Itu saja. Aku ingin tubuh dan jiwa ini berbahagia, agar kelak, bisa membahagiakan banyak orang.

Pertanyaan selanjutnya, "Yakin cuma minta itu?" Maka jawabanku, "Enggak." Karena di usia 28 ini, aku sungguh-sungguh meminta untuk seseorang untuk menemaniku mewujudkan mimpi itu. Semoga, di usia 28 ini, Tuhan sudah cukup percaya dan mengutus seseorang untuk menemaniku di sisa usia yang entah tinggal berapa ini...Karena aku tidak hanya membutuhkan seseorang untuk menopangku ketika aku jatuh dan sendiri, terlebih lagi, aku membutuhkan seseorang untuk tertawa bersamaku ketika kelak aku berbahagia. Itu saja.

Selamat ulang tahun, Yetta.

"So you will live well and have a long life."
(Ef 6 : 3)

Rabu, Januari 05, 2011

Dua Nama


Kemarin malam, dihadapkan pada satu pertanyaan oleh seorang teman. Meski dalam konteks bercanda, pertanyaan itu sempat terngiang sampai sekarang, kira-kira 12 jam setelahnya. Begini isi pertanyaan itu. "Jadi, kau suka enggak sama dia?" Hmmm...reaksi pertama, tentu saja jawabanku, "Tidak." Karena memang tidak. Tapi setelah kupikir ulang, memang akhirnya, akupun tidak punya jawaban atas pertanyaan itu. Karena jujur, sekarang aku sedang menghindari pertanyaan bahkan pernyataan seputar itu. Jenuh.

Di saat yang berbeda, ada pertanyaan lain, juga dari seorang teman. "Emangnya, kau sudah mulai berdoa minta pasangan hidup pada Tuhan?" Kujawab, "Sudah. Karena memang sudah waktunya." Kupikir hanya berhenti sampai di situ. Lantas, kali ini, dia mengeluarkan pernyataan, bukan pertanyaan. Katanya, "Kalau kau berdoa meminta pasangan hidup, dan kau sudah punya nama, siapa yang kau inginkan menjadi pasangan hidup, ucapkan nama itu di doamu." Menghindari topik melebar, waktu itu kuiyakan saja.

Tapi, setelah itu, pernyataan terakhir terus terngiang di kepala. Jadi, kuputuskan, aku akan mengucapkan nama-nama. Ya, nama-nama yang artinya plural. Lebih dari satu. Dua tepatnya. Karena memang saat ini, ada dua nama, dua lelaki yang dekat di hati. Salahkah?

Hmm..mungkin Tuhan pun bingung dan mungkin balik bertanya, "Maumu apa, Yetta? Tetapkan satu pilihanmu." Sialnya, kalau benar Tuhan bertanya seperti itu, aku belum punya jawabannya. Karena dua nama ini dekat di hatiku dengan cara mereka masing-masing. Dan benar, kuucapkan dua nama itu di dalam doaku siang dan malam sekarang. Berharap, jika Tuhan benar-benar merestui salah satu dari keduanya untuk menjadi jawaban, aku sudah siap. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Aku pun bukan siapa-siapa, bukan ratu sejagad yang layak memilih dan dipilih. Aku tahu diri. Bahkan, mungkin belum tentu dua nama ini memilihku kelak. Ha ha ha.

Tapi, sebagai bentuk iman percayaku, kubawa dua nama ini dalam doaku. Sambil meminta petunjuk Tuhan untuk hasil akhirnya. Apakah satu nama akan tereliminasi, atau bahkan dua-duanya? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Ini toh bukan yang pertama kali. Pernah, setahun lalu, aku mengucapkan sebuah nama di doaku, memohon petunjuk Tuhan, ke mana aku harus melangkah. Apa yang harus kulakukan? Apakah dia orangnya? Dan, Tuhan pun menjawab. Tepat seminggu setelah doa itu kuucapkan pertamakali, Tuhan bekerja. Jawabannya waktu itu, "Tidak." Meski setelah itu aku babak belur, fisik dan mental, dan perlu waktu lama untuk menerima keputusan Tuhan, tapi itulah jawabannya. Dan seperti juri di perlombaan-perlombaan, keputusan Tuhan mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. :)

Jadi, sekarang, saatnya mencoba mencetuskan nama baru. Dua nama baru tepatnya. Sesekali mungkin bisalah meringankan beban-Mu, ya Tuhan? Jadi, sengaja kupilihkan dua nama..Monggo, dipilih..Semoga kali ini, satu nama untuk selamanya ya, Tuhan....

Semoga... :)

Senin, Januari 03, 2011

Hati yang Baru...

Tahun ini, tidak ada resolusi berlebihan. entah kenapa, sedang tidak ingin bermuluk-muluk. Bukan pesimis karena takut ujungnya akan menyisakan kekecewaan, tapi hanya sedang tidak ingin saja. Ingin sederhana, ingin yang biasa saja. Intinya, hanya ini memulai tahun ini dengan benar. Itu yang kukutip dari khotbah pendeta di gerejaku di Minggu pertama tahun ini. Aku ingin memulai semuanya dengan benar kali ini....

Setulus hati, yang terlintas di pikiran ini ketika memasuki tahun baru hanya satu, SYUKUR. Setidaknya itulah kata yang bisa merangkum semua rasa. Sungguh bersyukur atas satu tahun lagi yang luar biasa mengesankan. Bukan hanya karena tiap berkat yang kuterima, tapi bahkan untuk setiap tetes airmata dan kekecewaan yang tercipta sepanjang tahun. Entah kenapa, tahun ini kututup dengan perasaan yang lega. Lega dan bersyukur. Memang sudah saatnya, menutup setiap luka, membalutnya, dan berharap akan ada obat hati yang ampuh. Dan aku menemukan obat itu, doa namanya. Aku tahu, aku pasti kuat. Kita semua pasti kuat. Di saat semua berperang melawanmu pun, tak yakinkah kau bahwa Tuhan ada bersamamu? Aku yakin. Meski mataku tak melihat. Aku tahu Dia ada berperang bersamaku, di garis terdepan. Dan aku punya doa untuk menyampaikan semuanya pada-Nya.

Meski ada doa-doa yang belum terjawab, meski ada rasa-rasa yang tertinggal, bagaimanapun aku menutup tahun 2010, dengan setitik harapan melegakan menghiasi hati. Terus terang, tahun 2010 adalah tahun berkat bagiku. Kalau dirinci, secara akal manusiawi pun, aku enggak akan bisa berada di posisi sekarang kalau bukan karena campur tangan Tuhan. Pekerjaanku yang baik, keluargaku yang penuh berkat, teman-teman yang luar biasa, menemani setiap hariku. Tahun 2010, banyak sekali kesempatan-kesempatan luar biasa yang tak pernah terpikirkan sekalipun. Semua kurasakan.

Miris, karena sepanjang tahun, bisa dihitung berapa kali aku berdoa dan bergereja. Dan itu bukan sesuatu yang kubanggakan, kok. Tapi, somehow, Tuhan punya rencana dan cara sendiri untuk selalu ada di dekatku. Di satu titik aku merasa perlu menundukkan kepala dan mengaku, aku tak lagi bersama-Nya. Aku meninggalkan-Nya. Tapi bahkan di saat bersamaan, aku disadarkan bahwa Dia tak pernah pergi, tak pernah beranjak selangkahpun dariku. Jadi, masa aku tidak melakukan apapun? Sampai kapan mau berlari? Lelah...

Karena itu, tahun ini, aku ingin memulai semuanya dengan benar. Sudah terlalu lama aku terlena, dan melenceng dari-Nya. Mengingatnya saja mengiris hati. Tapi sungguh, sekuat tenaga aku ingin menjadi lebih baik tahun ini. Aku ingin ucapanku, pikiranku, tindakanku menjadi berkat untuk banyak orang. Susah luar biasa, tapi aku tahu, aku harus membiasakan diri. Aku ingin jadi lebih benar. Aku ingin dipulihkan. Sungguh...

Banyak yang terlintas di pikiran untuk dijadikan resolusi tahun ini, tapi semua melayang begitu saja. Semua komitmen, fana. Yang nyata dan terasa hanya yang ada di hati ini, untuk menjadi lebih baik. Lebih dekat dan takut pada Tuhan. Dan kurasa, semua akan menyusul kemudian. Aku tahu, Tuhan tidak pernah tidur. God is on work. Aku tahu, kadang aku perlu keajaiban. Tapi, sungguh saat ini aku mengerti, bahkan keajaiban tak bisa datang instan. Pertolongan Tuhan datang segera, tidak terlambat dan tidak etrlalu cepat. Tuhan tahu apa yang kumau. Aku membiasakan diri untuk berseru pada-Nya siang dan malam. Dan pada saat-Nya nanti, aku tahu dan aku yakin, seruanku akan mendapatkan jawaban. Karena pada akhirnya, tidak ada yang tidak mungkin. Nothing is impossible. Aku tahu, Dia ada di setiap doa dan permohonanku. Sungguh aku tahu...

Sekarang, aku tak meminta lebih...Tak ada resolusi berlebihan..Hanya dua hal penting, untuk bisa menabung dan berhenti mengigiti kuku jariku..:) Selebihnya, Tuhan yang mencukupkan nanti...PASTI.. ^_^


Yetta

(03.01.11 ; 18.14, dari cubicle mungilku di kantor yang dingin ini, where magic things often happened..^^)

Jumat, November 19, 2010

"Sing Penting Sehat, Nduk...."


Namanya Mbah Martosuwidjo. Cucu-cucunya biasa memanggil dia dengan sebutan Mbah Marto. Pertama kali aku bertemu dengan Mbah sewaktu aku sedag liputan ke pengungsian korban Merapi di Pendopo kompleks Pemkab Klaten, Jawa Tengah. Di antara ribuan pengungsi yanga da, sosok si Mbah menarik perhatianku.
Alasan utamanya, sekilas setelah aku melihat beliau, sungguh sangat mengingatkanku dengan sosok Oppungku yang sudah meninggal dunia 11 tahun lalu. Mirip sekali..sungguh…Melihat Mbah Marto, seperti melihat Oppung ada di depanku lagi. :’)
Siang itu, 11/11, cuacanya super panas. Setelah berkeliling melihat kondisi pengungsian, aku bertemu dengan mbah Marto. Beliau, di usai senjanya, sedang "nongkrong", duduk-duduk santai di atas bak truk pasir. Truk berukuran besar yang tadinya dalah truk pengangkat pasir, terpaksa disulap jadi rumah Mbah selama di pengungsian.
Takjub melihat isi truk itu. Dari piring, ember, baju, sampai sepeda motor ada di dalamnya. Mbah Kakung, suami Mbah Marto sedang tidur siang di sana sewaktu aku menghampiri mereka.
Dengan luwes, Mbah marto bercerita soal pengalaman dia selama proses evakuasi. Aku, yang kemampuan berbahasa Jawa Kromo Hinggilnya masih pas-pas an, tadinya cemas enggak akan bisa berkomunikasi dengan si Mbah. Apalagi kebanyakan lansia di sana tidak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Tapi Mbah Marto bisa. Dan aku sangat terbantu.
Beliau mulai bercerita. Bahwa di malam evakuasi, karena usianya yang sudah lanjut, beliau dan suami sempat tertinggal di Dusun Mbutuh, perbatasan Klaten-Yogyakarta. Di saat semua orang sudah mengungsi, beliau dan suami pun sempat tertinggal dan terpisah satu sama lain. Mbah harus berjuang sendiri menerobos kerumunan orang. Sewaktu evakuasi mulai berlangsung, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Mbah Marto akhirnya baru benar-benar berkumpul dengan seluruh anggota keluarganya pukul 04.00 WIB keesokan harinya. Mendengar ceritanya dan menuliskannya kembali seperti ini saja, membuatku merinding. “Yow is lah, Nduk. Semua ya ora keruwan….,” katanya sambil mengingat kejadian malam itu.
Menurut Mbah, usianya sudah menginjak 70-an. Untuk ukuran usia lanjut, stamina Mbah dan Mbah Kakung sangat prima. Masih segar, masih fresh, tidak seperti berumur 70-an. Senyum pun tak pernah lepas dari wajahnya. Terutama waktu bercerita soal kegemarannya, menonton pertunjukan wayang. “Mbah suka sekali wayang. Mbah senang, tadi malam ada wayang-an di sini. Senang,” ujarnya sambil tertawa. Dia tertawa, aku mewek… 
Oh iya, Mbah punya enam anak. Tiga perempuan dan tiga lelaki, semua sudah berkeluarga. Tiga dari enam anaknya pun ikut mengungsi di tempat yang sama.
Selesai pertemuan kami hari pertama, Mbah sempat ngomong, “Doakan ya Nduk, biar Mbah dan keluarga selamat-selamat.” Lagi-lagi, aku mewek. Cengeng memang, tapi sungguh, paras Mbah membuatku sangat iba sekaligus bahagia di waktu yang bersamaan.
Kali kedua kami bertemu, sebenarnya tidak sengaja. Aku pikir, Mbah sudah tidak ada di pengungsian. Tapi ternyata beliau masih di sana dengan nyamannya. Di truk pasir miliknya. “Mbah belum mau pulang sebelum ada perintah dari Pak Lurah. Kan bahaya,” katanya ketika kutanya. Di saat dia berkata seperti itu, sebenarnya ratusan pengungsi di tempat itu sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi Mbah patuh pada Lurahnya. Siang itu kami bertemu di bawah pohon, di saat Mbah sedang menggelar tikar di samping truknya, ngaso di siang hari. “Panas'e, nduk..Mbah mau tidur-tiduran di luar saja. Adem.”
Kami pun sempat mengobrol sebentar. Sampai ada keputusan bahwa Mbah akan pulang keesokan harinya, karena memang sudah ada instruksi dari pemerintah setempat. “Wah, Mbah mau pulang, Nduk. Senangnya, sudah 15 hari belum pulang. Omah'e yo wis ora keruwan mesti,” kata Mbah. Tak sekalipun, selama mengungsi, Mbah pulang ke rumahnya. Hanya Mbah Kakung yang sesekali masih pulang melihat kondisi rumah. Tapi Mbah Marto, belum.
Jadi, keesokan harinya, aku berjanji akan datang dan ngikut Mbah pulang ke desanya. Sekalian untuk berita foto yang bagus, pasti. Pagi hari, Mbah sudah bersiap pulang. Semua barang-barang sudah dikemas. Atap darurat yang terbuat dari terpal plastik di atas bak pasir pun sudah diturunkan. Tadinya rasanya enggak tega kalau harus melihat Mbah pulang dengan truk. Untungnya, seorang putranya menjemput Mbah dengan mobil. “Udah sarapan, Nduk? Mbah buatkan sarapan ya?” tanya Mbah. Hebat, di saat seperti itupun dia masih ingat untuk bersikap ramah. Tentu saja dengan halus aku menolak. Malu rasanya mau bercerita, kalau aku baru saja menghabiskan sarapan buffet mewah di hotel berbintang, sementara pagi itu, Mbah hanya sarapan nasi goreng yang lembek, tanpa topping, tanpa telor ceplok di atasnya. 
Singkat cerita, kami bertemu lagi dengan Mbah di rumahnya. Karena harus mampir dulu ke dusun lain untuk liputan, aku terlambat tiba di rumah Mbah. Ketika melihat beliau di ujung jalan rumahnya, aku bersemangat sekali. “Mbaaaah!,” aku sedikit berteriak. Saat itu dia sedang membersihkan debu di teras rumahnya. “Nduuuuk…sini-siniiiii,” ujar Mbah.
Waah, ternyata rumah Mbah besar sekali. Tapi semua tertutup debu tebal. Semua masih dalam posisi sama. Gelas-gelas bertebaran, persis di posisi yang sama dengans ebelum hiruk-pikuk evakuasi. “Oalah, Nduk..ini seminggu juga ndak cukup buat ngeresik’ke..sini, Mbah ajak ke belakang.” Di belakang, ada ruangan khusus Mbah memproduksi tempe. Periuk-periuk wadah berisi sari kedelai yang membusuk pun masih ada di sana. Di halaman belakang, ada kelapa yang sudah sempat dipanen. “Mau bawa?” kata Mbah sambil tersenyum.
Di depan rumah, Mbah punya banyak tanaman, dari manggis sampai kelapa. Tapi karena tertutup debu vulkanik, semua gagal panen. Tapi, dengan senyum Mbah menjawab, “Nanti dimulai lagi lah, pelan-pelan, yo?”
Kami sempat mengobrol beberapa lama. Tapi karena waktu dan agenda liputan lain yang masih menunggu, aku tidak bisa berbicara lebih lama lagi dengan Mbah. Di ujung pertemuan, beliau berujar, “Matur nuwun yah nduk, udah mampir ke rumah Mbah. Doakan ya..” Dengan mata berkaca-kaca, aku langsung memeluk dan mencium Mbah..sedih sekali rasanya…Tapi konyol kalau sampai Mbah melihat aku menangis. Dia saja, korban musibah, masih tegar dan tersenyum tulus.
Dari jauh, aku masih melihat dia, masih sibuk perlahan membersihkan rumahnya….Wanita itu, yang baru kukenal, tapi sudah mencuri hatiku. Wanita yang seharusnya di usia tuanya hanya tinggal menikmati kebahagiaan, tapi tetap harus waspada 24 jam, menghadapi amukan Merapi.
Sebenarnya lokasi rumah Mbah yang berjarak di radius 13 km dari merapi tadinya cukup aman. Bahkan di malam evakuasi, rumah Mbah malah jadi tempat pengungsian saudara-saudaranya yang lain. Tapi kali ini, amukan Merapi yang membabi buta harus membuat Mbah Marto berjibaku menyelamatkan nyawanya. Anugerah, karena desa lain, yang berjarak kurang lebih 3 km dari rumah Mbah, sudah rata dengan tanah dan terbakar hangus.
Sore, aku kembali ke hotel. Karena habis dilanda debu, aku langsung menuju kamar mandi. Tapi justru ketika air hangat itu mengalir membilas badan, saat itu pula sosok Mbah Marto muncul di pikiranku. Ketika aku bisa mandi dengan air hangat berlimpah, sementara di sana, air saja masih bercampur debu vulkanik. Sedih…. 
Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain berdoa, semoga Mbah tetap selamat..tetap sehat di usia tuanya. Tetap bertenaga mengerjalan ladang tanaman, membuat tempe, dan menemani Mbah Kakung. Semoga ia tetap bahagia di tengah keluarganya, bahkan di tengah amukan Merapi sekalipun. “Sing penting sehat, yo, Nduk..,” begitu aku mengingat pesan terakhir Mbah.
Aku berdoa, semoga suatu saat bisa bertemu lagi dengan beliau. Di depan teras rumahnya yang sudah bersih, dengan sajian hasil panen dari ladang beliau. Kelak. Sehat-sehat ya Mbaaaah….. :’)
-YETTA-

Rabu, September 15, 2010

Fallin' For You


Ya!

Seharusnya aku sudah menuliskan pengakuan ini sejak lama. Sejak lama. Tapi hari ini, aku semakin yakin. Yakin, bahwa dia, lelaki yang secara konstan 'mengganggu' itu sudah merasuki pikiran dan hatiku. Benar kata orang Jawa, witing tresno jalaaran soko kulino. Cinta datang karena kebiasaan, karena keseharian. Dan sepertinya itu yang sedang menimpaku.

Tiba-tiba aku menemukan lagu yang sempurna secara tidak sengaja. Judulnya aku cuplik sebagai judul tulisan ini. Fallin' For You, and yes i do fallin' for him. Dan seperti biasa, semua tiba-tiba cerah. Ada alasan setiap pagi untuk aku bangun dan bersemangat.

Maaf, aku belum bisa membuka identitasnya. Dalam beberapa kesempatan, kecerobohanku membuka nama-nama lelaki itu berbuah aib dan ledekan. Jadi, sementara, biar aku simpan sendiri dulu. Tapi perlahan, semua yang ada di dirinya membuatku luluh dan leleh..(hahaha!)

Dan sekarang, Yetta Angelina pun memasuki periode blushing. Hahaha (lagi!). I blushed for every single memorable thing that reminds me of you. I just wish that it'll be easy for me, for you, for us. Dont want to hanging my hopes to high now, just crossing my fingers. But i do can't stop thinking about you now. And i want you to be near me everyday. Darn!

Even while writing this, i blushed and wishing you were near me right now. :*

-------

Fallin For You (Colbie Caillat)

I don't know but
I think I maybe
Fallin' for you

Dropping so quickly
Maybe I should
Keep this to myself
Waiting 'til I
Know you better

I am trying
Not to tell you
But I want to
I'm scared of what you'll say
So I'm hiding what I'm feeling
But I'm tired of
Holding this inside my head

I've been spending all my time
Just thinking about ya
I don't know where to
I think I'm fallin' for you
I've been waiting all my life
And now I found ya

I don't know where to
I think I'm fallin' for you
I'm fallin' for you

As I'm standing here
And you hold my hand
Pull me towards you
And we start to dance

All around us
I see nobody
Here in silence
It's just you and me

Oh I just can't take it
My heart is racing
The emotions keep spinning out

I've been spending all my time
Just thinking about ya
I don't know where to
I think I'm fallin' for you
I've been waiting all my life
and now I found ya
I don't know where to
I think I'm fallin' for you

Kamis, Agustus 19, 2010

DEREK GRATIS DI JALAN TOL?!?!? BOHONG BESAR!

Sebenarnya saya sudah tidak mau mengingat-ingat peristiwa ini. Mungkin sepele, tapi efek peristiwa ini cukup membuat saya sedikit trauma dengan pelayanan Jasa Marga lewat fasilitas jalan tol nya. Tapi, saya rasa,banyak orang yang harus tahu, supaya ketika mereka membaca ini, mereka tahu harus berbuat apa.

Rabu (18/08), seperti biasa saya pergi ke kantor denganmenggunakan mobil pribadi. Seperti biasa pula, saya melewati jalur 'maut', dari Jatibening (rumah saya) ke Kebon Jeruk (kantor saya). Setiap hari, saya harus masuk tol Pondok Gede Timur (bayar 1.000), dilanjutkan masuk ke tol Dalam Kota(bayar 6.500). Macet sudah pasti jadi makanan sehari-hari. Yang terparah,setelah keluar gerbang tol Halim karena penyempitan jalur. Bayangkan, dari sekitar7 gerbang tol, menyempit jadi 4! Tapi saya cukup tabah, karena toh, sudah setiap hari melewati jalur itu.

Kalau sedang beruntung, perjalanan bisa saya tempuh hanya dengan waktu 45 menit. Kalau lumayan lancar, sekitar 1 jam. Kalau macet, 1,5 jam. Kalau macet banget 2-2,5 jam. Kalau macetnya minta ampun, 3 jam. Rekor terlama saya menempuh Jatibening-Kebon Jeruk adalah 4 jam!

Walaupun namanya jalan tol, jalan bebas hambatan, tapi saya sudah melupakan definisi itu. Tidak mungkin bebas hambatan, kecuali Anda melewatinya pukul 3 dini hari! Makanya, saya termasuk orang yang paling kesalketika mengetahui tariff tol naik. Sistem tidak bekerja dengan baik, tapi maunya naik naik naik melulu.

Hmm..saya belum sampai ke poin utama tulisan saya, tapi saya sudah emosi. Maaf. Hmmm...oke, begini ceritanya. Rabu itu, saya berangkat dari rumah sekitar pukul 10 pagi. Di luar dugaan, sampai setelah gerbang tol Pondok Gede Barat, jalanan masih lancar. Setelah Jatiwaringin, mulai tersendat, tapi lancar. Akhirnya sampai di gerbang tol MAUT, gebang tol Halim. Saya sudah stuck sejak antri sebelum pembayaran di gerbang tol. Tapi, saya berhasil melewati gerbang tol dalam waktu hampir sejam (padahal jarak yang ditempuh cuma sekitar 500 m!).Tapi lagi-lagi, saya ikhlas.

Sebenarnya, tidak ada masalah di mobil saya. Semua dalam kondisi baik. Tapi hari itu, saya memang mengisi bensin Premium, karena memang kondisinya sudah hampir habis. Tapi saya tidak tahu, kalau itu jadi awal bencana saya hari itu. saya terkena dampak bensin yang katanya tidak murni, ada semacam gel yang terkandung di Premium, yang membuat tractor bensinnya ngadat dan bensin tidak memompa dengan baik. (Sumpah, sejak saat itu saya enggak mau ngisi Bensin Premium! NEVER!)

Kembali ke gerbang tol maut, setelah hampir 1,5 jam stuck di gerbang tol Halim, tiba-tiba mesin mobil saya mati. Untungnya, saya berada di lajur paling kanan jalan tol itu. Saya panik, karena seumur-umur belum pernah mogok di tengah jalan, apalagi jalan tol! Saya coba starter beberapa kali,tetap mati. Akhirnya saya keluar, coba membuka kap mesin, cek radiator dan lainnya yang saya masih paham. Tapi saya enggak tahu apa pangkal masalahnya.Saya panik!

Saya putuskan adik laki-laki saya yang lebih paham tentang mesin mobil. Tapi tidak menolong juga. Waktu itu matahari panasnya minta ampun. Panik bercampur bingung, saya tidak tahu harus bagaimana. Puluhan klakson jelas-jelas diarahkan ke saya dan mobil saya yang malang. Semua marah karena otomatis lajurdimana saya berhenti jadi tidak bergerak sama sekali. Saya mau menangis waktu itu. Saya tidak tahu harus bagaimana, jadi saya masuk mobil dan benar-benar mau menangis.

Setelah menunggu hampir setengah jam, tiba-tiba ada mobil Derek Jasa Marga yang mendatangi saya. Rasanya senang sekali. Saya keluar, dan dua orang petugas menghampiri saya. Saya ingat jelas, di sisi mobil Derek ada tulisan "DEREK GRATIS SAMPAI PINTU KELUAR TERDEKAT". Saya senang sekali.

Setelah petugas pertama (Saya lupa mencatat namanya. Badannya gemuk, rambutnya lurus dengan seragam Jasa Marga oranye yang kumal sekali) memeriksa mesin mobil saya. Dia bilang ada masalah dengan Fuel Pump, alias pompa yang seharusnya memompa bensin naik ke atas. Jadi, kesimpulannya,tidak ada bensin yang mengalir dari tangki ke mesin. Itu diagnosanya.

Saya bingung, tidak mengerti apa-apa. Akhirnya saya minta tolong agar mobil saya diderek saja, supaya saya cari bengkel. Tapi, di luar dugaan, dia dengan santainya berkata "Ya, saya bisa antar sampai pintu keluar terdekat, Pancoran, biayanya 50.000. Kalau sampai bengkel tujuan, tergantung di mana bengkelnya." Posisi saya saat itu tidak jauh dari Gerbang Tol Halim arah ke Cawang. Saya bilang "Bengkel langganan saya ada di Jatibening. Kalau saya mau diantar sampai ke sana,berapa bayarnya?". Setelah berdiskusi dengan rekannya (bapak-bapak tua memakai topi, beruban dan kurus. Lagi-lagi saya lupa mencatat namanya), dia menyebutkan harga. "Sampai Jatibening 375.000"

Dalam hati saya berpikir "Kampret! Mahal banget!". Tapi saya lantas berkata "Kok mahal? Bukannya gratis ya? Kalau gitu, saya mau diantar saja sampai Pancoran, kan itu gerbang keluar terdekat. Dari sana, biar saya dijemput adik saya." Eh, diluar dugaan si petugas gendut itu membalas saya "Enggak bisa Mba. Kalau kami antar keluar, berarti di arteri Pancoran,nanti Mba bakal diderek lagi ama Derek Polda. Kalau Polda, berarti dibawa ke Komdak. Bayarnya bisa 500 ribu. Atau Mba diangkut ama Derek Ambon, dibawa ke UKI, bayarnya segitu juga." Sumpah, saya enggak tahu apa itu Derek Ambon! "Kalau mau, kami antar ke bengkel Toyota di Saharjo, ya 350.000 lah." Tapi saya bersikukuh, "Antar saja saya ke Pancoran, nanti ada bengkel di sana, saya tahu ada bengkel di sana." Eh, dia menjawab "Enggak ada bengkel di sana.Kami enggak mau nyari-nyari bengkel. Kalau gitu, bayarannya nambah."

Lalu saya jawab "Oke. Kalau gitu, saya tunggu saja di sini. Saya telepon montir saya, nanti kalau dia udah periksa mobil saya, biar saya telepon Derek lagi." Si gendut menimpali lagi "Mba enggak bisa nunggu di sini.Nanti di Derek Ambon. Kalau udah di tangan Ambon, kami enggak bisa apa-apa." Bingung kan? "Lah, kan kalian Derek resmi? Mana mungkin Derek lain bisa masuk jalan tol? Kan udah dilarang?". Tapi dia menjawab itu bisa saja terjadi. Di titik itu, saya tahu, dia menakut-nakuti saya.

Saya kesal. Saya mencoba menelepon nomor telepon resmi Derek jasa Marga. Saya ceritakan masalah saya dan posisi saya berada waktu itu, sekaligus menceritakan soal biaya yang dibebankan dua lelaki sialan itu ke saya. Dari petugas di ujung telepon itu, saya tahu, bahwa rumus perhitungan Derek tol jasa marga yang sebenarnya adalah seperti ini : Pengangkutan pertama biayanya Rp 100.000, nah setelah itu, per kilometer dihitung Rp. 8000. Nah, kalau saya hitung, biaya Derek sampai keluar gerbang tol terdekat (Pancoran) seharusnya gratis. Lantas, dari Pancoran ke Jatibening jaraknya 14 km. Kalau dikalikan 8.000 berarti totalnya 112.000, ditambah100.000 di awal, maka seharusnya biayanya 212.000. Itu yang benar! Saya ikhla smengeluarkan biaya segitu! Enggak apa-apa!

Saya sudah menginformasikan harga itu ke petugas Derek yang dua orang ini, tapi mereka tetap bersikukuh di harga 375.000. Saya bilang, saya enggak bawa banyak uang hari itu. Dan saya coba segala cara untuk berkompromi. Iseng saya bertanya lagi, "Kalau saya cuma mau dibawa ke Pancoran, kan itu gerbang tol terdekat. Gratis kan?" Dengan seenaknya si gendut itu menjawab "Enggak Mba. Tetap ada biaya 50.000. tapi Mba bakal di Derek polda..bla..bla...bla..," katanya mengulangi statement pertama. Saya muak!

Saya menyerah. Saya kepanasan, disoraki orang-orang lewa tklakson. Saya benci sekali hari itu. Saya benci! Saya akhirnya bilang, saya mau bayar 250.000. Eh, seenaknya (lagi) mereka menjawab "Ya udah. 300.000 udh paling mentok. Kalau enggak mau, kami jalan." Sumpah, kalau ada tenaga, saya ingin tonjok muka dua orang itu. Tapi saya mencoba untuk tetap berkepala dingin. Saya minta waktu berpikir. Tapi mereka menjawab lagi "Udah, kalau enggak mau enggak usah! Silahkan aja nunggu di sini. Kami mau jalan."

Saya terdiam. Untuk pertama kalinya saya sangat marah,sampai tidak bisa berkata-kata. Dua orang yang menurut saya tidak punya hati sama sekali. Di kepala mereka cuma ada uang! Dan sungguh-sungguh saya berdoa,mereka masuk neraka! SUNGGUH!

Saya akhirnya menyerah. Saya iyakan, mobil saya pun diangkut. Sepanjang perjalanan, si gendut yang mengendalikan mobil saya mengajak saya bicara, yang tentu saja tidak saya timpali. Tapi saya ingat,mereka petugas yang hari itu, Rabu, 18 Agustus 2010 bertugas di ruas tol DalamKota (Halim-Pluit) sekitar pukul 11 hingga 12 siang. Anda yang punya kenalan atau bekerja di Jasa Marga seharusnya bisa melacak keberadaan dua orang itu.Plat mobil Dereknya saya lupa, tapi seri akhirnya JW. Saya sudah terlalu marahuntuk mengingat hal-hal kecil tapi penting itu. Ketika akhirnya tiba di bengkel pun, saya hanya memberikan uang itu ke mereka, tanpa melihat mukanya. Saya muak!

Intinya, ENGGAK ADA TUH YANG NAMANYA DEREK GRATIS JASA MARGA SAMPAI GERBANG TOL TERDEKAT!!! ENGGAK ADA!! ENGGAK ADA HITUNGAN BAKU YANG DITERAPKAN DI DEREK JASA MARGA BERLAKU DI JALAN TOL!! JANGAN BERDOA AGAR DEREK DATANG MENYELAMATKAN MOBIL ANDA KETIKA MOGOK DI JALAN TOL. BERDOA DAN BERUSAHA SUPAYA SAJA MOBIL ANDA SELALU TERAWAT BAIK. JANGAN PERCAYA SPANDUK RAKSASA DI SETIAP RUAS TOL YANG BILANG "DEREK GRATIS JALAN TOL". KARENA SEMUA OMONG KOSONG BESAR!!!!

Senin, Agustus 16, 2010

1000 Stars Project


Sebenarnya, aku sudah melakukan ini beberapa tahun lalu, sewaktu masih jadi anak kost di Jogja. Membuat 1000 bintang kertas warna-warni. Untuk apa? Alasan pertama, iseng dan buat bahan killing time. Alasan kedua, kalau kata orang Jepang, setelah bintang-bintang itu genap berjumlah 1000, maka si pembuat berhak untuk mengajukan satu permintaan yang niscaya akan dikabulkan kelak. Percaya enggak percaya, tapi worth tryin for.

So, here i am. Doing and crafting 1.000 paper stars. Started on Friday, August 13th, and i don't know when will i finish. Since i'm working on this stars project at my office cubicle, my friends also gave some help. some of them already addicted! hahaha..One of my co-worker even bought me a nice and more solid papers. So happy.

This is day #2 (exclude weekend of course) i'm making these stars, and i've reached 194 stars already. Okay...let's go to 1.000! :)))