Aku baru saja membuka file-file lama....entah kenapa, tiba-tiba aku ingin mengingat hari pertama kita bertemu...aku berusaha mengingatnya, karena kegemaranku mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan ternyata cukup berguna juga...
Aku menemukan tanggalnya..tanggal pertama kali aku bertemu, berbicara dan berkenalan dengannya...Aku menemukannyaa..!!! Rabu, 6 Februari 2008....Aku menemukannya tepat seminggu sebelum hari itu berusia setahun.....
Aku memutar kenanganku pada hri itu...aku ingat semuanya, detail pembicaraanku denganmu..hari itu...Rabu sore yang gak akan pernah aku lupakan semumur hidupku..Karena hari itu, dengan sepenuh hati aku bisa mengamini dalam hati..Kalau doaku terjawab....
Dan ketika aku hendak memulai tulisan ini...handphoneku berbunyi....pesan singkat darimu....Rindu sekali rasanyaaa....Tahukah kau...seminggu ke depan..genap sudah setahun aku mengenalmu...dan beberapa minggu terakhir justru menjadi minggu-minggu terbaik untukku...dan semoga pun untukmu.....Aku merindukanmu, sungguh........
Entah apa akhir dari cerita ini nanti...tapi aku yakin..selama aku berdoa..jalan pasti dibukakan.....Karena hampir setahun, meski sering ragu dan kecewa, di hatiku yang terdalam masih menganggap kalau kehadiranmu adalah berkat terbaikku dari Tuhan....
Semoga tak hanya setahun umur perjalanan ini.....Karena dua tahun, tiga tahun, dua puluh tiga tahun, bahkan hingga rambut ini memutih, aku ingin bersamamu......Karena kau yang kulipih....
Dengar itu **N** *E**A***.....!
skip to main |
skip to sidebar
.....my greatest escape.....
Jumat, Januari 30, 2009
Selasa, Januari 20, 2009
Senin, Januari 12, 2009
Pantang Mundur!!!!!
Sekarang.....
Apapun tidak akan bisa menghalangi ku...
Hujan..badai..bahkan langit gelap sekalipun...
Aku tidak takut....
Sekarang....
Mata, telinga, hati dan rasaku tertuju padamu.....
Maka yang kulihat, kudengar, dan kurasa...
Semuanya tertutupi rasa bahagia....
Tunggu di sana....
Aku segera datang.......
Segera...........
Apapun tidak akan bisa menghalangi ku...
Hujan..badai..bahkan langit gelap sekalipun...
Aku tidak takut....
Sekarang....
Mata, telinga, hati dan rasaku tertuju padamu.....
Maka yang kulihat, kudengar, dan kurasa...
Semuanya tertutupi rasa bahagia....
Tunggu di sana....
Aku segera datang.......
Segera...........
Jumat, Januari 09, 2009
It Takes A Year.....
Kata orang..kesabaran pasti berbuah kebaikan.....Aku selalu ingin terus meyakini hal itu...berharap satu hari aku masih terus memupuk kesabaran untuk segala hal...sabar dan tekun...itu yang sangat aku inginkan untuk mendarah daging di tubuh dan jiwa ini....
Satu demi satu kesabaranku berbuah....berbuah baik dan berbuah buruk....Beberapa hal yang kunanti berujung mengecewakan..beberapa hal malah begitu saja membuahkan hasil yang baik..Tanpa kukira dan kuduga...
Salah satu hal yang baik itu baru saja terjadi padaku...Aku bahagia luar biasa....Meski ini bukan lantas menajdi akhir dari penantianku..Tapi seperti memasuki babak baru dari penantian yang tadinya kupikir tak berujung ini....Ternyata penantian itu sedikit demi sedikit pupus menjadi setitik kebahagiaa...dan aku menikmatinyaa..sungguh..
Terimakasih kau ada di sana...di waktu dan moment yang tepat...di saat aku justru tidak mengharapkan apa-apa darimu...terimakasih...Meski butuh waktu satu tahun untukku merasakan semuanya...Terima kasih...
Setelah ini..aku sudah siap...untuk kemungkinan terburuk sekalipun..Setidaknya aku bisa membingkai waktu 'kita' di bingkai pikiran terbaikku..Aku bisa mengenangmu dengan kondisi terbaik mu..Tanpa dendam...tanpa amarah...Aku bisa merekam ini menjadi salah satu moment terbaik dalam 26 tahun kehidupanku di dunia ini...Aku bahagia...Sungguh...
Semoga kau tahu apa yang kumaksud....Kau pasti tahu...dari matamu aku bisa membacanya...Kau pasti tahu.....................Kalau aku MENCINTAIMU..........
Satu demi satu kesabaranku berbuah....berbuah baik dan berbuah buruk....Beberapa hal yang kunanti berujung mengecewakan..beberapa hal malah begitu saja membuahkan hasil yang baik..Tanpa kukira dan kuduga...
Salah satu hal yang baik itu baru saja terjadi padaku...Aku bahagia luar biasa....Meski ini bukan lantas menajdi akhir dari penantianku..Tapi seperti memasuki babak baru dari penantian yang tadinya kupikir tak berujung ini....Ternyata penantian itu sedikit demi sedikit pupus menjadi setitik kebahagiaa...dan aku menikmatinyaa..sungguh..
Terimakasih kau ada di sana...di waktu dan moment yang tepat...di saat aku justru tidak mengharapkan apa-apa darimu...terimakasih...Meski butuh waktu satu tahun untukku merasakan semuanya...Terima kasih...
Setelah ini..aku sudah siap...untuk kemungkinan terburuk sekalipun..Setidaknya aku bisa membingkai waktu 'kita' di bingkai pikiran terbaikku..Aku bisa mengenangmu dengan kondisi terbaik mu..Tanpa dendam...tanpa amarah...Aku bisa merekam ini menjadi salah satu moment terbaik dalam 26 tahun kehidupanku di dunia ini...Aku bahagia...Sungguh...
Semoga kau tahu apa yang kumaksud....Kau pasti tahu...dari matamu aku bisa membacanya...Kau pasti tahu.....................Kalau aku MENCINTAIMU..........
Senin, Januari 05, 2009
Pensiun...
Hari ini...setelah 30 tahun mengabdi ke pemerintah negara Indonesia tercinta...Bapakku, J.P Tondang, resmi menjalani hari pertama sebagai pensiunan. 30 tahun!!! Gak sedikit pun bisa terbayang apa yang sudah dilakukan Bapak selama itu. Dengan tekun dia menjalani hari-harinya mengabdi ke negara yang kurasa tidak memberikan penghargaan yang setimpal dengan apa yang sudah dilakukannya.
Dia, Bapakku yang genap berusia 56 tahun Desember lalu, memulai kariernya sebagai 'abdi negara' dari golongan IA, golongan terendah dari sistem hierarki kepangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Dan dia berhenti di golongan IVC. Entah berapa gajinya waktu pertama kali berkarier, aku pun malas memikirkannya. Dia sudah melewati pasang surut karir yang tak menentu, dilecehkan atasan, 'disalib' rekan yang lebih muda dan tidak mencicipi kenaikan jabatan dalam waktu yang lama. Tapi, karena ketekunannya, dia bertahan...
Dan pertahanannya tak pernah kendur sampai 30 tahun kemudian. Karena bulan lalu, dia bisa membuktikan kesetiaannya dengan berdiri tegak di hadapan atasannya dan menerima bintang penghargaan atas pengabdiannya selama 30 tahun. Sayang, aku tidak bisa menyaksikannya, pastilah dia sangat bangga ketika bintang penghargaan itu disematkan di baju dinasnya. Tapi, ketika aku pulang ke Medan Natal kemarin, dengan bangga dia sempat menunjukkan cincin emas, kenang-kenangan dari rekan kerjanya di kantor. Saat itu aku bisa melihat raut wajahnya semakin jelas dimakan usia.....Tua, tapi semoga dia bahagia di masa tuanya...
Sebagai PNS teladan, dari dulu Bapakku selalu memendam cita-cita, bahwa satu hari kelak, salah satu dari ketiga anaknya akan melanjutkan 'perjuangannya' sebagai Pegawai Negeri Sipil. Aku ingat, sejak aku SD, cita-cita ini sudah mulai rutin di'dengungkan'nya di telinga kami. Tapi kenyataannya, hingga dua anaknya bekerja, PNS tidak pernah menarik perhatian. Bukan maksud menjadi durhaka, tapi menjadi PNS tak pernah sedikit pun terbersit di pikiran ini. Tapi, lagi-lagi sebagai Bapak yang demokratis, dia tetap memendam cita-citanya dan terus mendukung apapun yang dikerjakan oleh anak-anaknya....
Hari ini, semua rutinitasnya selama 30 tahun terhenti sudah. Aku sedikit merasa beruntung tidak harus menyaksikan raut wajahnya yang seperti dirundung duka dan sendu setiap hari. Sesuatu yang sebenarnya sudah bisa kurasakan sejak beberapa bulan sebelum dia resmi pensiun. Tidak ada lagi apel pagi, tidak ada lagi upacara HUT KORPRI, tidak ada lagi rapat koordinasi, tidak ada lagi studi banding. Semua lenyap dari agenda hariannya. Entah apa yang dia rasakan sekarang.....Aku pun mengerti dan ikhlas harus meladeni telepon darinya setiap hari, karena aku tahu, he's got nothing to do anymore.....
Tapi aku bersyukur, Bapakku mulai mencari aktifitas lain sejak beberapa bulan sebelum pensiun. Seminggu sekali dia mengajar sebagai dosen honor di sebuah perguruan tinggi swasta di Medan. Setiap hari dia selalu meluangkan waktu menjaga warung kecil di belakang rumahku di Medan..Semoga dia bisa melalui masa pasca pensiun ini dengan baik. Itu doaku......Karena meski negara ini memandangnya sebelah mata setelah 30 tahun pengabdiannya, kepadanyalah pandanganku tertuju selama 26 tahun aku hidup di dunia....Tak pernah luput sedetik pun..Karena dari tiap tetesan keringatnya mengabdi selama 30 tahun, aku dan adik-adikku bisa bersekolah...
Jadi..Makasih Bapak...Semoga berkat Tuhan tak pernah luput dari kehidupanmu senantiasa....Way to Go, Dad!!!!!^.^
Dia, Bapakku yang genap berusia 56 tahun Desember lalu, memulai kariernya sebagai 'abdi negara' dari golongan IA, golongan terendah dari sistem hierarki kepangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Dan dia berhenti di golongan IVC. Entah berapa gajinya waktu pertama kali berkarier, aku pun malas memikirkannya. Dia sudah melewati pasang surut karir yang tak menentu, dilecehkan atasan, 'disalib' rekan yang lebih muda dan tidak mencicipi kenaikan jabatan dalam waktu yang lama. Tapi, karena ketekunannya, dia bertahan...
Dan pertahanannya tak pernah kendur sampai 30 tahun kemudian. Karena bulan lalu, dia bisa membuktikan kesetiaannya dengan berdiri tegak di hadapan atasannya dan menerima bintang penghargaan atas pengabdiannya selama 30 tahun. Sayang, aku tidak bisa menyaksikannya, pastilah dia sangat bangga ketika bintang penghargaan itu disematkan di baju dinasnya. Tapi, ketika aku pulang ke Medan Natal kemarin, dengan bangga dia sempat menunjukkan cincin emas, kenang-kenangan dari rekan kerjanya di kantor. Saat itu aku bisa melihat raut wajahnya semakin jelas dimakan usia.....Tua, tapi semoga dia bahagia di masa tuanya...
Sebagai PNS teladan, dari dulu Bapakku selalu memendam cita-cita, bahwa satu hari kelak, salah satu dari ketiga anaknya akan melanjutkan 'perjuangannya' sebagai Pegawai Negeri Sipil. Aku ingat, sejak aku SD, cita-cita ini sudah mulai rutin di'dengungkan'nya di telinga kami. Tapi kenyataannya, hingga dua anaknya bekerja, PNS tidak pernah menarik perhatian. Bukan maksud menjadi durhaka, tapi menjadi PNS tak pernah sedikit pun terbersit di pikiran ini. Tapi, lagi-lagi sebagai Bapak yang demokratis, dia tetap memendam cita-citanya dan terus mendukung apapun yang dikerjakan oleh anak-anaknya....
Hari ini, semua rutinitasnya selama 30 tahun terhenti sudah. Aku sedikit merasa beruntung tidak harus menyaksikan raut wajahnya yang seperti dirundung duka dan sendu setiap hari. Sesuatu yang sebenarnya sudah bisa kurasakan sejak beberapa bulan sebelum dia resmi pensiun. Tidak ada lagi apel pagi, tidak ada lagi upacara HUT KORPRI, tidak ada lagi rapat koordinasi, tidak ada lagi studi banding. Semua lenyap dari agenda hariannya. Entah apa yang dia rasakan sekarang.....Aku pun mengerti dan ikhlas harus meladeni telepon darinya setiap hari, karena aku tahu, he's got nothing to do anymore.....
Tapi aku bersyukur, Bapakku mulai mencari aktifitas lain sejak beberapa bulan sebelum pensiun. Seminggu sekali dia mengajar sebagai dosen honor di sebuah perguruan tinggi swasta di Medan. Setiap hari dia selalu meluangkan waktu menjaga warung kecil di belakang rumahku di Medan..Semoga dia bisa melalui masa pasca pensiun ini dengan baik. Itu doaku......Karena meski negara ini memandangnya sebelah mata setelah 30 tahun pengabdiannya, kepadanyalah pandanganku tertuju selama 26 tahun aku hidup di dunia....Tak pernah luput sedetik pun..Karena dari tiap tetesan keringatnya mengabdi selama 30 tahun, aku dan adik-adikku bisa bersekolah...
Jadi..Makasih Bapak...Semoga berkat Tuhan tak pernah luput dari kehidupanmu senantiasa....Way to Go, Dad!!!!!^.^
Jumat, Desember 19, 2008
How to Put an Ending to A Friendship....??
Itu pertanyaan yang sekarang menguni pikiranku. Aku, orang yang sebenarnya tidak mudah menjalin persahabatan ini, seperti 'dipaksa' untuk mengakhiri persahabatan dengan seorang teman. Sedih rasanya. Sialnya, rasa sedih itu justru berusaha kututupi dengan memasang rona marah di wajah dan diperkuat dengan intonasi ucapan yang meninggi tiap kali membahasnya.
Yang terjadi sebenarnya, aku dilanda dilema besar.....Karena dibalik amarah itu, aku menyimpan kesedihan yang luar biasa. Coba kau ada di posisiku, berusaha menimbang apakah aku harus melanjutkan persahabatan ini atau tidak. Konyol rasanya. Tapi aku sudah memposisikan diri sebagai teman yang mengalah. Yang rela meminta maaf bahkan ketika aku sadar aku tidak melakukan kesalahan apapun, hanya untuk satu alasan. Aku tidak mau persahabatan ini hancur. Tapi bahkan setelah aku mengkihlaskan diri menjadi objek pelampiasan kekesalan 'nya', aku masih dikhianati dengan ucapan dan tuduhan yang menyakitkan.
Aku jadi meragukan definisi pertemanan ini sejak awal. Meski ketika ber-adu argumentasi, tidak sedikitpun terlintas di benakku untuk mengakhiri persahabatan ini. Tapi akhirnya aku mengucapkan kata-kata itu. Kalimat tepatnya, kalimat betapa aku menyesali perlakuan 'dia', sahabat yang dua tahun mengisi hampir setiap hari dalam kehidupanku.
Aku tidak pernah mau mengakhiri persahabatan ini. Karena bagiku, tidak gampang menemukan sosok sahabat yang bisa mengerti aku. Tapi kalau menurutmu itu yang terbaik, aku ikhlas. Kalau menurutmu teman baru itu bisa menenangkan dan memberi bahagia di hatimu...aku mengalah..Karena menurutku itulah yang harus kulakukan. Toh, aku pun tak pernah menuntutmu untuk memilih. TIDAK PERNAH.
Jadi....sampai semua bisa kau jelaskan dengan perkataan dan niat yang baik, aku tetap akan berlanjut dengan kebisuan ini. Mungkin kita butuh penyegaran. Aku butuh penyegaran, butuh udara yang lebih jernih setelah pikiran dan emosi hati ini sempat tertutupi amarah yang luar biasa karena tuduhanmu yang membabi buta. Bahkan nanti.....nanti setelah semua reda, aku sadar, semua tidak akan sama seperti yang dahulu...............
Karena secara tidak langsung, sebenarnya persahabatan ini sudah berakhir......
*untuk seorang sahabat yang sudah terlanjur menyakiti hatiku...aku memaafkanmu kok..hanya saja, semua tidak akan sama lagi...sungguh....*
Yang terjadi sebenarnya, aku dilanda dilema besar.....Karena dibalik amarah itu, aku menyimpan kesedihan yang luar biasa. Coba kau ada di posisiku, berusaha menimbang apakah aku harus melanjutkan persahabatan ini atau tidak. Konyol rasanya. Tapi aku sudah memposisikan diri sebagai teman yang mengalah. Yang rela meminta maaf bahkan ketika aku sadar aku tidak melakukan kesalahan apapun, hanya untuk satu alasan. Aku tidak mau persahabatan ini hancur. Tapi bahkan setelah aku mengkihlaskan diri menjadi objek pelampiasan kekesalan 'nya', aku masih dikhianati dengan ucapan dan tuduhan yang menyakitkan.
Aku jadi meragukan definisi pertemanan ini sejak awal. Meski ketika ber-adu argumentasi, tidak sedikitpun terlintas di benakku untuk mengakhiri persahabatan ini. Tapi akhirnya aku mengucapkan kata-kata itu. Kalimat tepatnya, kalimat betapa aku menyesali perlakuan 'dia', sahabat yang dua tahun mengisi hampir setiap hari dalam kehidupanku.
Aku tidak pernah mau mengakhiri persahabatan ini. Karena bagiku, tidak gampang menemukan sosok sahabat yang bisa mengerti aku. Tapi kalau menurutmu itu yang terbaik, aku ikhlas. Kalau menurutmu teman baru itu bisa menenangkan dan memberi bahagia di hatimu...aku mengalah..Karena menurutku itulah yang harus kulakukan. Toh, aku pun tak pernah menuntutmu untuk memilih. TIDAK PERNAH.
Jadi....sampai semua bisa kau jelaskan dengan perkataan dan niat yang baik, aku tetap akan berlanjut dengan kebisuan ini. Mungkin kita butuh penyegaran. Aku butuh penyegaran, butuh udara yang lebih jernih setelah pikiran dan emosi hati ini sempat tertutupi amarah yang luar biasa karena tuduhanmu yang membabi buta. Bahkan nanti.....nanti setelah semua reda, aku sadar, semua tidak akan sama seperti yang dahulu...............
Karena secara tidak langsung, sebenarnya persahabatan ini sudah berakhir......
*untuk seorang sahabat yang sudah terlanjur menyakiti hatiku...aku memaafkanmu kok..hanya saja, semua tidak akan sama lagi...sungguh....*
Selasa, Desember 16, 2008
Tak Bergairah.....
Sudah lama tidak mampir di rumahku ini....
Sudah mendekati dua bulan sejak tulisanku terakhir..
Entah kenapa....untuk sementara enggan rasanya untuk menulis..
Bercerita...
Mungkin nanti....setelah semua mereda...
Setelah semua normal....
Setelah aku menjadi 'aku' yang sesungguhnya.......
Sudah mendekati dua bulan sejak tulisanku terakhir..
Entah kenapa....untuk sementara enggan rasanya untuk menulis..
Bercerita...
Mungkin nanti....setelah semua mereda...
Setelah semua normal....
Setelah aku menjadi 'aku' yang sesungguhnya.......
Labels
- Cerita Liputan (1)
- Doa (1)
- Inspirasi Lagu (1)
- Intro (1)
- Liburan (1)
- Protes dan Kritik (1)
- Resolusi (1)
- sahabat (1)
- Selingan (1)
- Ulang Tahun (2)
- Urusan Hati (4)
- Urusan Jiwa (5)
Tautan Ku...
Tentang Ku...
- Yetta Angelina
- I'm simple. Nothing special to described about me. I'm a cheerfull person, and i'm not really good in hiding something from other people. I'm not a stabilized person. This minute i can laugh, but in the next minute, i could cry loud...:)



